Kelas Jalan VS Kerusakan Jalan

Post kali ini masih berhubungan dengan kerusakan jalan di Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Sony Sulaksono Wibowo, Ph.D, Kerusakan jalan di Indonesia bisa terjadi karena kualitas jalan yang dibawah standar atau beban yang bekerja pada jalan yang melebihi beban maksimum yang didesain. Dalam hal ini, Jalan didefinisikan sebagai lapisan permukaan yang bersentuhan langsung dengan ban kendaraan. Kerusakan jalan yang terjadi adalah kerusakan menimpa lapisan ini.

Dalam post ini, saya ingin menyoroti soal kerusakan jalan akibat beban yang melebihi kapasitas jalan tersebut. Artinya, Jika jalan hanya dirancang untuk menahan Muatan Sumbu Terberat (MST) seberat 8 ton, jalan akan rusak ketika ada kendaraan dengan MST diatas 8 ton. Apakah MST?? Silahkan lihat gambar dibawah.

Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat

Muatan sumbu adalah beban kendaraan yang disalurkan pada suatu sumbu penumpu kendaraan yang berupa sumbu roda. Semakin berat suatu kendaraan, beban pada sumbunya pun akan semakin berat. Semakin banyak sumbu roda, beban pada tiap sumbu akan berkurang karena beban keseluruhan kendaraan didistribusikan pada banyak sumbu.

Sekarang, apakah kita sadar akan rambu-rambu lalu lintas dibawah ini? Rambu-rambu dibawah ini merupakan suatu informasi kelas jalan yang membatasi besar beban maksimal yang dapat diterima oleh suatu perkerasan jalan.  Berdasarkan  gambar dibawah, kendaraan dengan beban sumbu lebih besar dari 2 Ton tidak boleh melewati jalan yang berambu dibawah. Adanya kendaraan dengan beban sumbu diatas 2 ton pada jalan tersebut akan mengakibatkan beban diatas beban desain yang pada akhirnya merusakan perkerasan dan mengurangi umur jalan.

Berdasarkan peraturan ini, tidak salah jika ada polisi yang menilang bus/truk yang melalui jalan-jalan sempit seperti kompleks perumahan karena memang jalan tipe tersebut dibawah spesifikasi kelas jalan terrendah yang harus dilalui Bus. Hal tersebut sesuai dengan   Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor  22  Tahun  2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan pasal 125 yang berisi :

“Pengemudi Kendaraan Bermotor angkutan barang wajib menggunakan jaringan jalan sesuai dengan kelas jalan yang ditentukan.”

Selanjutnya, berdasarkan Pp 43/1993 Tentang Prasarana Dan Lalu Lintas Jalan pasal 11, kelas jalan dibedakan menjadi  :

Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat

Note : Tabel Klasifikasi Jalan pada artikel ini masih mengacu pada  Pp 43/1993 yang dirujuk oleh UU no 14 – 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. UU no 14 – 1992 tersebut dicabut dan digantikan oleh UU no 22 – 2009 tentang Lalu Lintas & Angkutan jalan. Dalam UU terbaru, klasifikasi jalan dibagi menjadi jalan Kelas I, Kelas II, kelas III, dan kelas Khusus. Keterangan lengkap mengenai kriteria jalannya bisa dilihat di :

http://www.djpp.depkumham.go.id/database-peraturan/undang-undang.html

Ketentuan-ketentuan diatas berlaku bagi kendaraan angkutan barang (dan juga angkutan perkotaan) yang memiliki MST lebih besar dari rata-rata MST kendaraan pribadi. Dengan adanya aturan-aturan diatas, diharapkan terjadi kesinergisan antara desain kapasitas beban jalan dengan penggunaan jalan aktual. Selanjutnya, berdasarkan aturan-aturan diatas, seharusnya tidak ada kerusakan jalan akibat beban yang melebihi kapasitas jalan.

Namun …..

Seperti yang telah kita ketahui soal penagakan peraturan di Indonesia, pada kenyataannya peraturan-peraturan diatas tidak diimplementasikan dengan benar. Banyak kendaraan yang tidak mematuhi rambu MST jalan. Saya yakin banyak  pengguna jalan yang tidak mengetahui mengenai aturan pembatasan MST ini. Lebih parahnya lagi, ada pengguna jalan yang dengan sengaja mengabaikan aturan ini. Baik dengan ‘curi-curi’ melewati jalan dengan kelas lebih rendah dari spesifikasinya yang tidak dijaga polisi, ataupun dengan mencurangi informasi berat kendaraan pada saat kendaraan melalui jembatan timbang.

Mungkin benar pendapat bahwa peraturan di Indonesia dibuat untuk dilanggar. Namun sampai kapan pendapat ini harus terus bertahan? Bukankah kita sendiri yang rugi ketika jalan-jalan menjadi rusak akibat ulah kita mengabaikan peraturan diatas??? Tidak perlu saya jelaskan betapa besarnya kerugian akibat kerusakan jalan. Saya hanya ingin menekankan besarnya harapan saya bagi perbaikan moral pengguna jalan raya di Indonesia. Semoga tulisan di atas bisa memberi dorongan untuk memperbaiki sistem lalu-lintas di Indonesia.

.

Sumber :

  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor  22  Tahun  2009 Tentang  Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan

.

Catatan :

Penulis adalah Sarjana Teknik Sipil dengan pengutamaan bidang Struktur, beberapa informasi dalam artikel ini mengenai bidang transportasi adalah opini penulis yang didapat dari mata kuliah-mata kuliah bidang transportasi yang penulis dapat selama kuliah sarjana, pengalaman pribadi penulis, dan hasil penelusuran pada situs-situs lembaga terkait bidang transportasi.

Jika ada kesalahan dalam artikel ini, kesalahan itu adalah ketidaksengajaan penulis. Mohon kritik dan koreksi atas kesalahan yang ada.

Terimakasih

About these ads

12 responses to “Kelas Jalan VS Kerusakan Jalan

  1. mana rumahnya ???

  2. bagus artikelnya mas.. mantaps..

  3. ini yg saya butuhkan

  4. mau tanya dong, di Balikpapan hanya ada container 20′ yg lalu lalang, menurut LLAJ setempat karna jln disana kelas IIIA, klo pakai container 40′ tp beban hanya seberat container 20′ masih bisa/boleh ga ?

    • Achmad Syaiful Makmur

      Mbak Suci,

      Setelah saya tanya ke teman yang bidangnya Tansportasi, dia berkomentar kurang lebih seperti ini :
      – Apakah maksud beban truk ini adalah Muatan Sumbu Terberat (MST) ? Karena batasan di kalsifikasi kelas jalan itu bukan beban truk, tapi MST yaitu 10 ton atau 8 ton.

      – Truk dengan berat toal 40 ton bisa saja menggunakan konfigurasi MST 10ton atau 8 ton. Begitu pula dengan truk beban 20 ton, atau berat yang lainnya. Yang jelas, yang dijadikan acuan adalah MSTnya.

      – Nah, untuk klasifikasi IIIA dan IIIB itu sebenarnya sama saja MST nya 8 ton, yang membedakan adalah panjang max kendaraaan di IIIB itu 12m, IIIA 18m

      (Kharisma P Aurum)

      Kesimpulan yang saya dapat, boleh tidaknya penggunaan container 40′ atau 20′ akan tergantung dari kriteria MST (max 8 ton) dan dimensi kendaraannya (Lebar 2.5 m dan panjang max 18 m). Kriteria MST akan mempengaruhi desain perkerasan jalan yang dibuat sedangkan kriteria dimensi kendaraan akan mempengaruhi desain geometri jalan. Seperti posting diatas, semuanya berkaitan dengan efisiensi ruas jalan yang akan dirancang.

      Semoga membantu.

  5. maaf mas syaiful, saya hanya ingin menginformasikan sbb :
    1). PP 43 / 1993 khususnya tentang Klas Jalan sdh dirubah dalam UU. 22/2009 tentang Klas Jalan (Klas III A, B dan C dihapus diganti Klas III dengan kriteria setara Klas III B pada versi PP.43/1993)
    2). Apa saja faktor penyebab kerusakan jalan yang paling dominan ?, bagaimana dgn perkerasan jalan pedesaan yang sebagian besar tidak memiliki drainase ?
    trims.

    • Achmad Syaiful Makmur

      Mas Bayu, terimakasih atas koreksinya. Akan segera saya tambahkan note nya.

      Untuk faktor penyebab kerusakan jalan lebih lengkapnya bisa dibaca dari artikel dari Sony Sulaksono Wibowo, Ph.D, salah satu dosen bidang transportasi di ITB.

      http://www.itb.ac.id/news/2850.xhtml

      Dari artikel beliau, kerusakan jalan intinya adalah fungsi dari beban dan kapasitas perkerasan yang dirancang. Jalan yang rusak bisa saja karena beban yang melebihi rancangan atau kekuatan perkerasan jalan yang dibawah rancangan.

      Pak Sonny juga menjelaskan bahwa jalan tanpa drainase yang membuat air membanjiri jalan bisa merusak ikatan aspal pada perkerasan lunak. Rusaknya ikatan aspal dapat mengurangi kapasitas kekuatan perkerasan sehingga akhirnya mempercepat rusaknya jalan (jalan berlubang, dll).

      Terimakasih banyak.

  6. haaaaaaaaaa, tugas oh tugas

  7. Bagaimana hubungan m.s.t denggan jumlah ban. Mohon penjelasan bro . Thanks

    • Achmad Syaiful Makmur

      Kalau diliat dari definisi MST : “beban kendaraan yang disalurkan pada suatu sumbu penumpu kendaraan yang berupa sumbu roda”

      Semakin banyak roda dalam suatu sumbu, semakin kecil beban per roda terhadap permukaan jalan. Semoga membantu dan CMIW.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s