Saya memang bukan orang yang suka pelajaran sejarah. Bahkan, semenjak SD hingga SMA saya tidak pernah menunjukan antusiasme yang tinggi dalam mempelajari mata pelajaran Sejarah. Tidak pernah saya menemukan passion yang tinggi dalam menelusuri uraian-uraian sejarah seperti passion saya dalam memecahkan soal kalkulus atau fisika dasar. Koleksi buku pribadi saya pun tidak ada yang berkaitan dengan sejarah. Singkatnya, mempelajari sejarah tidak pernah menempati posisi utama dalam prioritas minat saya.
Namun, tidak untuk kali ini. Dalam satu bulan terakhir saya tersihir oleh sebuah buku yang mengulas konflik paling berdarah dalam sejarah umat manusia, Perang Dunia 2. Di waktu luang selepas bekerja, saya selalu menyempatkan untuk membaca halaman per halaman dari buku ini. Sebuah deviasi dari kurangnya minat saya pada pelajaran sejarah.

Perang Eropa, itulah nama bukunya. Buku yang merupakan kumpulan tulisan berseri yang ditulis oleh P.K. Ojong SH dan diterbitkan dalam majalah mingguan Star Weekly (Djakarta) ini telah menjadi salah satu mahakarya penulis Indonesia dalam topik sejarah perang dunia kedua. Terdiri dari 3 jilid, buku jilid pertama dicetak pertamakali pada pada bulan Juli 2003 dan buku yang saya dapat sudah merupakan cetakan ketujuh, 2008.
Buku Perang Eropa Jilid 1 mengisahkan awal dari pecahnya peperangan di Eropa hingga pendaratan Sekutu di Afrika Utara. Buku ini dibuka dengan kisah seputar Blitzkrieg yang merupakan strategi perang cepat Jerman yang dengannya berhasil mendominasi daratan Eropa. Blitzkrieg disokong dengan senjata rising star kala itu, tank, sehingga keberadaan berlapis baja ini memberikan perspektif baru mengenai perang yang mengandalkan kecepatan dan senjata moderen. Lewat strategi ini, Jerman dibawah pimpinan Hitler mampu menguasai polandia, perancis, belanda, Yunani, afrika utara, dan wilayah Eropa lainnya dalam kurun waktu 3 tahun saja.
Buku ini juga membahas kehidupan Adolf Hitler, sang pemimpin Jerman pada kala itu. Melalui buku ini saya bisa memahami bagaimana kharisma Hitler bisa membuat warga Jerman terbuai pada mimpi kejayaan Jerman yang Agung. Semua mimpi itu sudah terwujud ketika Hitler kecil menunjukan bakat memimpin dan mempengaruhi teman-temannya, meskipun, secara akademik kepintarannya tidak menonjol.
Pembahasan perang dunia ke 2 terus belanjut ke peperangan di lautan. Buku ini menceritakan bagaimana kapal-kapal selam Jerman, U-Boat, menjadi kekuatan yang paling ditakuti di laut Atlantik. Superioritasnya di laut atlantik didukung dengan kapal bajak laut, pocket battleship, dan bahkan kapal tempur terbesar di dunia kala itu, Bismarck. Menyelami setiap halaman buku ini, kita bisa melihat dinamika kekuatan armada laut dunia yang berpusat pada 3 poros, Inggirs, Amerika, dan Jerman.
Buku ini juga membahas kiprah tentara sekutu – Jerman di afrika utara yang oleh stalin disebut sebagai “perut buaya”. Istilah ini digunakan karena sekutu menganggap front perang selat channel sangat sulit ditembus dan begitu ganas sehingga diasosiasikan sebagai mulut buaya. Sedangkan front utara eropa yang meliputi norwegia, denmark, dan sekitarnya juga memiliki pertahanan yang sangat kuat seperti kulit punggung buaya. Oleh karena front selatan Eropa terdapat Spanyol dan Italia yang relatif kurang kuat dibanding front lainnya, Sekutu memutuskan untuk menusuk Jerman dari sisi ini.
Hal menarik yang dibahas dari buku ini adalah kiprah jenius-jenius militer seperti Erwin Rommel (The Desert Fox), Von Mainstein dari Jerman dan Zhukov dari Rusia yang memegang peranan penting dalam front Timur, juga Eisenhower, George Patton, Bradley, dan Montgomery yang berkuasa di front Barat. Keberadaan mereka menunjukan bahwa perang adalah sebuah seni yang sayangnya juga merupakan suatu tragedi terburuk bagi umat manusia.
Kepemimpinan, semangat perjuangan, dan pengendalian diri adalah beberapa poin yang saya dapat dari buku ini. Saya merasakan bagaimana frustasinya Jenderal-jenderal perang jerman dalam perang yang bukan karena kuatnya musuh yang dihadapi, tapi beratnya mempertahankan prinsip mereka terhadap kediktatoran Hitler. Buku ini secara ineksplisit menyatakan bahwa jika Hitler lebih mendengarkan Jenderal-jenderalnya, mungkin Jerman yang akan keluar menjadi pemenang Perang Dunia Kedua. Namun itulah masa lalu yang bisa kita pelajari nilai-nilainya untuk kita aplikasikan di masa kini.
Setelah membaca buku ini, saya semakin bersyukur bisa hidup di masa dan di lingkungan yang damai. Masa dimana jiwa raga digunakan untuk pembangunan umat manusia, bukan pengembangan senjata penghancur seperti perang dunia lalu.
ps : bersiap membeli jilid ke 2 dan ke 3