Tag Archives: Academic

SNI Untuk Gedung

Referensi :

- Mata Kuliah “Dinamika Tanah dan Rekayasa Gempa” oleh Prof. Masyhur Irsyam

- Mata Kuliah “Rekayasa Struktur” oleh Dr. Jodi Firmansyah.

Beberapa minggu belakangan ini, masyarakat lalu lintas Indonesia sedang disibukan dengan terbitnya peraturan baru yang mengaruskan setiap kendaraan bermotor beroda dua untuk mengenakan helem sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Aturan ini diberlakukan guna mengurangi tingkat korban jiwa pengendara motor atas kecelakaan yang terjadi yang seringkali menimbulkan luka parah di bagian kepala. Adanya helem berstandar nasional Indonesia diharapkan memberikan jaminan perlindungan yang lebih besar bagi para pengendara motor. Meski sempat memicu pro dan kontra terkait kesiapan masyarakat dalam membeli helem berstandar ini, peraturan ini terus diberlakukan oleh pengatur jalan raya.

Pemberlakuan dan penegakan peraturan ini memang sangat penting dalam menciptakan lingkungan hidup yang lebih sehat. Namun, tahukah anda bahwa ada peraturan penting yang selama ini banyak dilanggar dan mengancam keselamatan jutaan penduduk Indonesia? Silahkan lihat gambar-gambar dibawah ini :

Besarnya kerusakan bangunan yang menimbulkan korban jiwa pada Gempa padang, gempa aceh, gempa Yogyakarta adalah contoh nyata perilaku masyarakat yang tidak mematuhi Standar perencanaan bangunan Indonesia. Jika masyarakat benar-benar mematuhi standar perencanaan bangunan yang ada, kerusakan bangunan tidak akan sebesar dan separah saat itu. Korban jiwa pun akan jauh berkurang mengingat korban jiwa akibat gempa kebanyakan terjadi karena keruntuhan bangunan.

Secara sederhana, Standar Perencanaan Bangunan adalah peraturan yang memberikan batasan minimum dan maksimum atas penggunaan dan material dalam membangun suatu bangunan. Adanya nilai batas ini memberikan bangunan yang kita buat kekuatan minimal dalam menahan beban-beban yang timbul selama masa guna bangunan (contoh : Beban gempa, beban manusia, beban angin, dll). Jika saja standar ini diikuti, bangunan-bangunan yang terkena gempa bisa menahan gaya gempa pada besaran tertentu sehingga besarnya kerusakan dapat lebih minimal dan bangunan tidak sampai roboh.

Untuk bangunan gedung (rumah, sekolah, kantor, ruko, mall), standar perencanaan bangunan di Indonesia dibagi menjadi bangunan beton (SNI 2847 2002), baja (SNI 1729 2002) dan kayu. Standar perencanaan ini dikombinasikan dengan standar pembebanan dan standar perencanaan ketahanan gempa (SNI 1726 2002). Standar diatas dibuat berdasarkan penelitian puluhan tahun yang telah banyak terbukti keandalannya baik di laboratorium maupun di lapangan.

Mengapa bangunan yang dibuat sesuai standard dapat menahan gaya gempa dengan besaran tertentu? Secara sederhana, teknologi manusia saat ini bisa memperkirakan secara kasar kemungkinan terjadinya gempa dengan skala tertentu dalam beberapa tahun kedepan (contoh : 50 tahun atau 100 tahun). Contoh kasarnya adalah kita bisa memperkirakan bahwa dalam 50 tahun kedepan, ada 90% kemungkinan terjadi gempa dengan magnitude di bawah 7 skala richter (ini kasar, karena sesungguhnya yang diperkirakan adalah percepatan gempanya : baca postingan Bagaimana Gempa Bumi Merusak Bangunan?). Dengan demikian, gaya gempa yang terjadi pada suatu bangunan pada suatu daerah dapat diperkirakan dengan mempertimbangan skala gempa yang akan dirancang. Sebagai contoh, bisa diambil skala 7 sehingga bangunan dirancang dapat menahan gaya gempa sebesar ini.

Bangunan yang runtuh dan menimpa penghuninya pada gempa Padang dan Yogyakarta sebagian besar adalah bangunan yang tidak mengikuti standar perencanaan bangunan. Gempa dengan magnitude 7 sudah tercakupi dalam standar perencanaan ketahahan gempa untuk bangunan gedung. Dengan kata lain, jika bangunan dirancang sesuai standar, bangunan tersebut tidak akan mengalami kerusakan parah seperti bangunan yang tidak sesuai standar.

Ketika ditanya, mengapa banyak bangunan yang tidak memenuhi standar? Tidak ketatnya pengawasan pemerintah dalam pembangunan gedung baru dan juga belum sadarnya masyarakat atas pentingnya standar bangunan memang menjadi alasan utama akan hal ini. Jika kita lihat Jepang, negara yang banyak mengalami gempa dan angin topan, negara ini terbukti dapat melaksanakan peraturan perencanaan dengan penuh sehingga rakyatnya terlindungi dari bencana yang masih bisa ditanggulangi sebelum timbulnya korban.

Elementary School Visit

I want to talk  about one of my Topic of Japan Class’s (TOJ) activity, Elementary School Visit. Actually I should write this post very long time ago. It has been a more than one month since I went to this elementary school with all students from TOJ.

Topic of Japan is a class that introduce several basic things about Japan Culture, History, and its applied systems. In this class, for example, we learnt about general Japan’s history from the first settler, the meiji period, and current modern world of Japanese people. We also learn many things about costumes of japan people and comparisson with other countries in the world esspecially the countries where the students came from.

One of TOJ programs was visiting an elementary School near Titech. It took about half hour walk from Titech Campus. This program introduced the students many things about Japanese elementary school. The first time we came, we were wellcomed by elementary school chairman,teachers and staffs. We were given an explanation about general condition of the elementary school. We were informed about what would we do at that day and what did the hope from us. The School Chairman welcomed us in the school’s library. They provided us cofee and tea bar before we enter and saw students activities in the class.

sbsh0575 sbsh0576

In this program, each class was visited by two or one Titech students. Each class should have at least one students from foreign coutries outside Japan. I wass assigned with Kitayama, a students from Japan, to visit a first year student’s class.

We were escorted by two cute students to their class. In the class, we introduced ourself in Japanese language (I tried my best remembering introduction sentences learned from Japanese language class X_X). After that, the students showed us some performance from the class. They showed us dance, rope art, gymnastics move, and comedy drama. It was really interesting. Although the did it very simple but their spirit really impressed me well.

sbsh0582 sbsh0587

After seeing their performance, we had a lunch. I was, once more, surprised since the children prepare the class lunch session by their own. They were given the food by the school. Then, some students use an apron and distribute the food into each plate while the other students arranged the seat and table into dining position. The also use tablecloth for their tables.. Wonderfull.

sbsh0580 sbsh0585

sbsh0586 sbsh0581

After finished eating the lunch, the students gave us their own hand made Origami. every student gave us one origami. Since the class had about 30 students, my  bag became full of their origamis. But I am happy to receive it. As a return, I gave two students from the class Batik Fan through a quizes.

sbsh0589

After the class session ended, two students escort us back to library to continued to the next session, school tour. We went to some class in the school and watched their class activities.  The clases were not big and the number of students of every class was different. Some contains 40 some 20.

Actually they didn’t have luxurious class facilities. However there were many things such as books and posters that motivate the students to be better and better. They have a standard type of school building that protecting them when disasters occurred. They have a clean and ordered school environment. They also have a good spirit of learning. Those things, I think, is several reasons why they have a good education systems.

sbsh0590 sbsh0591 sbsh0593