Tag Archives: HMS

My Graduation Day

Finally… I have graduated from ITB after 5 long years.  It is from August 2005 to July 2010. What a long five years.

Last week, exactly on July 17th 2010 I have my commencement ceremony conducted at Sasana Budaya Ganesha, ITB, Bandung. I was one from around 1400 graduates who graduated that day. It was such a big event for us who have studied for years in ITB. I am happy I was able to pass it beautifully.

Graduation is always a memorable moment. Since the first time I stepped my feet on ITB soils, I realised that it would not be easy to graduate in this institution. I had to face various kinds of problem that challenge me to be able to graduate in the expected period, 4 years. Even though I finished my study in 5 years, my one years experience in Japan is off course shouldn’t be counted. Therefore I consider my self finish my study in 4 years.

The commencement ceremony was held from 9.00 until 12.00. Personally, the ceremony itself was not interesting thing. There were just speeches, musical performances, and photo sessions. However, the thing that make that day so memorable was the attendance of my parents, sister, and my girlfriend. They saw me using the commencement ceremony costumes while holding my graduation certificate. I was so moved when my name was called in the auditorium and then my parent saw me greeting the rector of ITB. It was the official procedure that showed my eligibility to hold a bachelor degree in engineering.  The term of bachelor degree is equal to Sarjana Teknik (ST) in Indonesia. Therefore, from now and on, my name will be Achmad Syaiful Makmur, ST” when it is used in official documents.


After the ceremony in ITB, I have another ceremony in civil engineering department. This second ceremony was held by Sudent Union in Civil Engineering Department. At that time, we have “water & powder war” where the graduates were congratulated by the audience by splashing the graduates with water and wheat flour. It was very fun and refreshing moment. After the”water & powder war”, representatives of the graduates were given a chance to express their feeling about their graduation. Me and Berliandi Manik was the representative from student of the class  2005. After that, the chief of student union dismiss our regular membership status and give us new membership status, the honorary member.

And so the day ended with me greeted and thanked all people who attend the second ceremony. Personally, I thing the ceremony would be far more memorable if I graduated with all student from the class 2005. Unfortunately, My graduation was mostly for student from the class 2006 so from 72 graduates that day, only 7 were from class 2005. But anyway, It was still one of the most wonderful moments of my life.

PS :

At this time, della as well as Dian were also graduated. This makes all of 5 Indonesian YSEP 2008/2009 finished their bachelor level study. So fun ^.^

From Left : Della, Dian, and Me ^^

Goris : Engineer Sipil Yang peduli Lingkungan

Baru-baru ini saya kembali membuka milist alumni teknik sipil ITB setelah sekian lama milis ini dipenuhi dengan isu seputar pemilihan ketua Ikatan Alumni ITB. Ada hal tidak biasa yang dipost oleh salah satu anggota milist, sebuah artikel mengenai Goris Mustaqim yang merebut perhatian para pemerhati lingkungan atas karyanya mengembangkan industri Akar Wangi di Garut. Dia adalah alumni teknik sipil ITB angkatan 2001 dan anggota Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITB.

Tulisan lengkapnya dapat dilihat pada alamat berikut :

http://www.thejakartapost.com/news/2009/12/08/goris-mustaqim-making-business-green.html

Artikel dalam link itu dalam bahasa Inggris. Dalam post ini, saya ingin mencoba menceritakan lagi artikel diatas dengan gaya penulisan saya dalam bahasa Indonesia.

Di usianya yang ke 26 tahun ini, Goris dipilih oleh British Council sebagai salah satu dari British Council International Climate Champions atas idealismenya dalam mensinergikan semangat wirausaha dengan perlindungan lingkungan. Dia bergelut dengan 4000 petani akar wangi di garut untuk memperkenalkan sistem pemanfaatan akar wangi yang lebih ramah lingkungan.

Image origin : The Jakarta Post

Tanaman akar wangi memiliki nilai ekonomis dari minyak nya yang  digunakan sebagai bahan pembuat parfum dan kosmetik. Di dunia, hanya ada 3 tempat utama dimana tanaman akar wangi bisa tumbuh yaitu Haiti, Bourbon, dan Garut. Fungsi ekonomis dan kelangkaannya membuat akar wangi sebagai aset negara Indonesia yang patut dipertahankan kelangsungannya.

Permasalahan pada pemanfaatan tanaman Akar Wangi muncul ketika banyak petani Akar Wangi terpaksa gulung tikar akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa tahun lalu. Sebelum krisis bahan bakar, 70 dari 200 ton Akar Wangi diproduksi di Indonesia. Pada tahun 2005, setelah krisis kenaikan harga BBM, produksi tanaman akar wangi Indonesia hanya tinggal 20 ton. Biaya BBM menyedot 50 % dari biaya produksi minyak Akar Wangi akibatnya peningkatan harga BBM berdampak besar pada biaya produksi minyak Akar Wangi.

original image from : http://wb9.itrademarket.com/pdimage/41/598541_vetiverrootdw.jpg

Karya besar Goris adalah memberikan alternatif energi panas bumi sebagai pengganti BBM dalam produksi minyak Akar Wangi. Garut memang memiliki sumber daya alam energi panas bumi yang melimpah dan mudah diakses yaitu Kawah Kamojang dimana Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Kamojang.  Melalui riset di bidang ekonomi, lingkungan dan sosial, Goris menemukan bahwa penggunaan energi panas bumi bermanfaat sangat besar bagi faktor ekonomi dan lingkungan dalam produksi minyak akar wangi.

Goris bahkan telah sukses dalam melobi pemerintah daerah garut dalam memasukan pemindahhan basis penanaman akar wangi ke daerah kawah kamojang dalam anggaran daerahnya untuk tahun 2010. Pemindahan ini tentu akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan panas bumi dalam produksi minyak akar wangi. Rencana ini tinggal menunggu persetujuan dari pertamina selaku pemilik Pembangkit Kamojang yang dekat dengan lokasi relokasi.

British Council menganggap Goris Mustaqim sebagai pemimpin masa depan yang ideal karena kesediaannya untuk kembali ke daerah asalnya dan mengembangkannya daripada memulai kariernya di kota-kota besar seperti Jakarta.  Bisa membukakan mata pemuda-pemuda Garut akan besarnya potensi yang Garut miliki.

Atas pencapaian-pencapaiannya, goris dikirim British Council ke Konfrensi Perubahan iklim PBB di Copenhagen, Denmark sebagai wakil pemuda Indonesia.

Salah satu quote yang sangat saya kagumi dari Goris adalah ketika dia ditanya mengenai kontroversi seputar kebenaran isu perubahan iklim sedang terjadi. Dia menjawab :

“That’s fine. But the thing is, if we save energy, this planet will be a much better place. That’s real, and cannot be argued with,”

Semoga akan semakin banyak lagi Goris-goris lain bermunculan. Sosok yang berani dan cerdik dalam berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Dalam bidang lingkungan, ilmu, militer, apapun itu, selalu ada jalan untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang Jaya. Terimakasih Kang Goris, senang bisa mengenal anda walau hanya sesaat.

Original image are from :

Goris, from  The Jakarta Post

Akar Wangi,  from http://wb9.itrademarket.com/pdimage/41/598541_vetiverrootdw.jpg