TA = Tugas akhir, merupakan sebuah tugas yang terakhir, berada di akhir jenjang perkuliahan, dan ‘moga-moga’ akhir dari bully-bully yang dilakukan pihak ITB terhadap mahasiswa/i nya :p hahaha… ya itulah TA, jika anda berpikir kuliah di ITB itu susah dan penuh pengorbanan, maka TA lah salah satu penyebabnya. Well, TA, atau yang anak UNPAD bilang skripsi (walau mungkin tidak sama secara maknanya) adalah kegiatan paling dominan yang menimpa (dan akan semakin menimpa) saya selama satu semester kedepan.
Semester ini adalah (Insya allah) semester terakhir saya di ITB. Semester yang didalamnya terdiri dari 13 SKS = 3 kuliah dan 1 Tugas Akhir. Pada teorinya, 1 SKS setara 1 jam kuliah, 1 jam tugas dan 1 jam belajar mandiri selama seminggu. Artinya, dibutuhkan 13 x 3 = 39 jam seminggu yang harus saya alokasikan untuk masalah perkuliahan. Jika diasumsikan sehari ada 8 jam waktu kerja ,,, (eh, perkuliahan).. maka dibutuhkan 4.875 hari untuk memenuhi tuntutan perkuliahan Institut Teknologi Bandung ini. Hmmmm.. tapi itu kan teorinya, aslinya 1 sks gak sama dengan 3 jam ‘terbuang’ untuk kegiatan akademik, tapi bisa sampei 12 jam waktu tersita karena tugas2nya yang sesungguhnya sering tidak lebih ringan dari bobot teoritis si SKS itu.
Nah, TA ini sendiri pada hakekatnya hanya berbobot 4 SKS yang artinya, dalam seminggu ada 12 jam tersita untuk mengerjakannya. Kalo pake itung2 an sehari 6 jam kerja saja, hanya butuh 2 hari dalam seminggu untuk mengerjakan TA. Namun, seperti yang saya dan puluhan atau ratusan ribu alumni ITB ketahui, TA tidak sesantai itu. Ada masa disaat kita berdiam diri selama berjam2 dihadapan layar menunggu model yang sedang dianalisis komputer, ada masa dimana kita membuka ratusan halaman berisi dasar-dasar teori yang ditulis bukan dengan bahasa manusia melainkan bahasa Ph.D, dan ada masa disaat kita tidak bisa tidur karena memikirkan ‘pembantaian’ yang akan terjadi ketika kita mempresentasikan hasil TA kita dihadapan penguji. Banyak sekali dinamika yang menghadang demi terselesainya TA yang berujung pada berhaknya kita meraih gelar Sarjana Teknik. Tentunya, tidak sebanding dengan bobot teoritis sebuah SKS.

Umumnya, cara seseorang dalam mengerjakan TA dikategorikan menjadi tiga jenis yang tergantung dari seberapa rajin seseorang dan kecocokannya dengan metode kerja yang ia pilih. Oke, kita bahas satu per satu.
Jenis kesatu adalah jenis orang yang sangat konsisten dalam mengerjakan TA (A.K.A Non Deadliners). Tiap hari ia meluangkan waktu yang proporsional sehingga progress/kemajuan pengerjaan TA pun selalu ada setiap hari. Tipe seperti ini bisa dilihat dari grafik dibawah ini. Bisa kita lihat, orang seperti ini tidak akan mengalami penumpukan kerjaan di akhir periode pengerjaan. Wah, andaikan saya bisa masuk kategori orang seperti ini.

Oke, kategori kedua adalah orang yang sibuk di awal – macet di tengah – kembali sibuk di akhir. Bingung kok bisa? tentu bisa karena kesibukan di awal biasanya diakibatkan adanya Seminar Tugas Akhir. Seminar tugas akhir adalah sebuah presentasi yang bertujuan menguji kelayakan judul TA kita. Disini bakal ada tanya-jawab beserta koreksi dan arahan atas rencana tugas akhir yang bakal dikerjakan. Tentunya dibutuhkan kerja keras untuk mempersiapkan diri menghadapi seminar ini. Untuk tipe ini, tepat setelah seminar, tingkat kesibukan seorang akan turun drastis ke titik terendah dimana orang itu terjerumus ke dalam kehampaan aktivitas TA dan terbenam menikmati saat-saat tanpa memori mengenai TA. Satu-satunya hal yang mengembalikan etos kerjanya adalah ketika menyadari bahwa sidang hanya tinggal 1 bulan lagi. Saat itulah tingkat kesibukan bisa meningkat berkali-kali lipat.

Tipe ketiga, adalah tipe yang paling ‘wah’. Entah terjadi atau tidak, tipe seperti ini menumpukan semua kesibukan pada 2 bulan terakhir masa pengerjaan TA. Memang, di awal periode pengerjaan, tiada kesibukan berarti yang terlihat. Sesekali bertemu dengan dosen pembimbing untuk bimbingan yang biasanya tidak jadi karena tiba-tiba dosen pembimbingnya harus pergi untuk urusan yang mendesak (entah apapun itu). Proses bimbingan yang terhambat, membuat kemajuan pengerjaan pun tersendat-sendat sehingga tidak ada hal-hal baru yang signifikan yang dapat menambah persentase progress pengerjaan TA. 2 bulan terakhir sebelum sidang, semua kesibukan itu memuncak. Pengumpulan, pengolahan, dan analisis data menjadi kegiatan sehari-hari. Tidak mandi, telat makan, bermalam di kampus, demi mengerjakan TA yang telah lama ditunda sehingga otak pun masih kaku untuk melakukan pemrosesan data-data TA. Mungkin ini tipikal pribadi ‘deadliners ‘ yang menjangkit sebagian besar penduduk Indonesia.

Kalau dipikir-pikir, apa masalahnya dengan mengerjakan sesuatu secara konstan dan kontinu, pasti akan lebih nyaman. Namun, selalu saja ada hal yang membuat seorang ‘deadliners’ menunda pekerjaannya. Begitu pula dengan pengerjaan TA. Saya pun berharap bisa mengerjakan TA secara konstan dan kontinu tanpa ada lonjakan kesibukan. Namun, alasan-alasan formal seperti adanya kelas, asistensi, tugas, atau sekedar futsal bersama angk atan selalu menjadi legitimasi untuk menunda pengerjaan TA.

Anyway, tulisan ini hanya sekedar analisis kasar atas perilaku teman-teman saya yang sedang mengerjakan TA, mungkin ada banyak variasi lain yang terjadi saat pengerjaan TA. Namun, bagaimanapun cara kita mengerjakan TA kita harus mengetahui konseskuensi apa yang akan kita dapat atas pilihan yang kita jalani. Ketahui, pilih, jalani, dan dapatkan hasilnya.