Tag Archives: Kuliah

HardWork

Masih seputar hal yang berkaitan dengan YSEP. Selalu saja ada hikmah yang bisa saya ambil dari pengalaman saya itu.  Kembali, saya merasa sangat bersyukur atasnya.

Kali ini, saya ingin menjawab kemunafikan saya mengenai arti dari kerja keras. Setahun yang lalu, ketika saya berada di negara yang dianggap paling disiplin di dunia, saya sering merasa tertekan karena betapa giatnya masyarakat Jepang dalam bekerja keras. Entah itu orang Jepang asli, entah itu orang internasional yang ada di Jepang, semua seolah terbawa arus untuk bekerja keras dalam mencapai tujuannya. Saya sering merasa, mengapa kita harus bekerja sekeras ini untuk mencapai tujuan kita. Tidak bisakah kita mencapai tujuan dengan hasil yang sama dan dengan usaha yang lebih efisien? Efisien dalam arti lebih meminimalisasi waktu bekerja berjam-jam di lab atau di depan layar komputer mengerjakan hal-hal yang seolah tidak pernah berakhir.

Pikiran saya selalu terbayang akan suasana kerja di Indonesia yang lebih nyaman secara budaya. Saat itu, saya berpikir, kalau saya berada di Indonesia, mungkin saya tidak harus 12 jam berada di depan meja eksperimen mengamati spesimen beton yang sedang saya uji. Mungkin saya bisa makan siang dan bercanda dengan teman sekelas sambil melakukan hal-hal sosialisasi lainnya yang sangat sulit saya lakukan di Jepang. Intinya, pada saat itu saya merasa bahwa bekerja keras hanyalah berlaku di Jepang saja. DI Indonesia pasti keadaannya lebih lenggang.

Namun, pikiran munafik itu sudah jelas salah. Nyatanya, semua bayangan saya akan keadaan kuliah yang lenggang tidak terbukti selama saya melanjutkan kuliah saya di ITB ini. Setiap hari dipenuhi dengan mengerjakan tugas atau belajar untuk ujian esok harinya. Jika dibandingkan, waktu tidur saya tidak jauh berbeda dengan yang biasa saya dapat selama di Jepang sana. Pada akhirnya, keadaan memaksa saya untuk selalu bekerja keras dan mengurangi waktu lenggang seperti yang biasa saya dengar dari teman-teman lain khususnya diluar ITB.

Mungkin saya salah mendefinisikan apa itu bekerja keras. Atau saya lupa bagaimana takaran sesungguhnya bekerja keras. Yang saya ingat, untuk lulus SPMB dan diterima di ITB itu merupakan kerja yang sangat keras bagi saya. Serpihan-serpihan kenangan ketika saya belajar sampai larut malam dan bangun pada dini hari untuk mempersiapkan SPMB masih ada di ingatan saya. Ah… bodohnya saya jika melupakannya. Bodohnya saya jika melupakan semua perjuangan-perjuangan yang pernah saya lakukan untuk mencapai tujuan saya.

“Saya pernah mengalami hal yang lebih sulit dari hal ini ! Kalau waktu itu saya bisa, kenapa yang sekarang gak bisa”. Itulah kalimat-kalimat penyemangat yang berusaha saya tanamkan kedalam alam sadar dan bawah sadar saya. Semoga pemikiran itu bisa membuat saya mengerti bahwa tidak ada yang namanya kerja keras, yang ada adalah terus lakukan yang terbaik. Lakukan yang terbaik sesuai kemampuan saya. Percaya pada diri sendiri, jangan mengeluh, jalani sepenuh hati, dan berharap untuk hasil yang terbaik.

— Sebuah usaha untuk memanggil kembali motivasi yang hilang –

Ber ‘TA’ Ria

TA = Tugas akhir, merupakan sebuah tugas yang terakhir, berada di akhir jenjang perkuliahan, dan ‘moga-moga’ akhir dari bully-bully yang dilakukan pihak ITB terhadap mahasiswa/i nya :p hahaha… ya itulah TA, jika anda berpikir kuliah di ITB itu susah dan penuh pengorbanan, maka TA lah salah satu penyebabnya. Well, TA, atau yang anak UNPAD bilang skripsi (walau mungkin tidak sama secara maknanya) adalah kegiatan paling dominan yang menimpa (dan akan semakin menimpa)  saya selama satu semester kedepan.

Semester ini adalah (Insya allah) semester terakhir saya di ITB. Semester yang didalamnya terdiri dari 13 SKS = 3 kuliah dan 1 Tugas Akhir.  Pada teorinya, 1 SKS setara 1 jam kuliah, 1 jam tugas dan 1 jam belajar mandiri selama seminggu. Artinya, dibutuhkan 13 x 3 = 39 jam seminggu yang harus saya alokasikan untuk masalah perkuliahan. Jika diasumsikan sehari ada 8 jam waktu kerja ,,, (eh, perkuliahan).. maka dibutuhkan 4.875 hari untuk memenuhi tuntutan perkuliahan Institut Teknologi Bandung ini. Hmmmm.. tapi itu kan teorinya, aslinya 1 sks gak sama dengan 3 jam ‘terbuang’ untuk kegiatan akademik, tapi bisa sampei 12 jam waktu tersita karena tugas2nya yang sesungguhnya sering tidak lebih ringan dari bobot teoritis si SKS itu.

Nah, TA ini sendiri pada hakekatnya hanya berbobot 4 SKS yang artinya, dalam seminggu ada 12 jam tersita untuk mengerjakannya. Kalo pake itung2 an sehari 6 jam kerja saja, hanya butuh 2 hari dalam seminggu untuk mengerjakan TA. Namun, seperti yang saya dan puluhan atau  ratusan ribu alumni ITB ketahui, TA tidak sesantai itu. Ada masa disaat kita berdiam diri selama berjam2 dihadapan layar menunggu model yang sedang dianalisis komputer, ada masa dimana kita membuka ratusan halaman berisi dasar-dasar teori yang ditulis bukan dengan bahasa manusia melainkan bahasa Ph.D, dan ada masa disaat kita tidak bisa tidur karena memikirkan ‘pembantaian’ yang akan terjadi ketika kita mempresentasikan hasil TA kita dihadapan penguji. Banyak sekali dinamika yang menghadang demi terselesainya TA yang berujung pada berhaknya kita meraih gelar Sarjana Teknik. Tentunya, tidak sebanding dengan bobot teoritis sebuah SKS.

Umumnya, cara seseorang dalam mengerjakan TA dikategorikan menjadi tiga jenis yang tergantung dari seberapa rajin seseorang dan kecocokannya dengan metode kerja yang ia pilih. Oke, kita bahas satu per satu.

Jenis kesatu adalah jenis orang yang sangat konsisten dalam mengerjakan TA (A.K.A Non Deadliners). Tiap hari ia meluangkan waktu yang proporsional sehingga progress/kemajuan pengerjaan TA pun selalu ada setiap hari. Tipe seperti ini bisa dilihat dari grafik dibawah ini. Bisa kita lihat, orang seperti ini tidak akan mengalami penumpukan kerjaan di akhir periode pengerjaan. Wah, andaikan saya bisa masuk kategori orang seperti ini.

Oke, kategori kedua adalah orang yang sibuk di awal – macet di tengah – kembali sibuk di akhir. Bingung kok bisa? tentu bisa karena kesibukan di awal biasanya diakibatkan adanya Seminar Tugas Akhir. Seminar tugas akhir adalah sebuah presentasi yang bertujuan menguji kelayakan judul TA kita. Disini bakal ada tanya-jawab beserta koreksi dan arahan atas rencana tugas akhir yang bakal dikerjakan. Tentunya dibutuhkan kerja keras untuk mempersiapkan diri menghadapi seminar ini. Untuk tipe ini,  tepat setelah seminar, tingkat kesibukan seorang akan turun drastis ke titik terendah dimana orang itu terjerumus ke dalam kehampaan aktivitas TA dan terbenam menikmati saat-saat tanpa memori mengenai TA. Satu-satunya hal yang mengembalikan etos kerjanya adalah ketika menyadari bahwa sidang hanya tinggal 1 bulan lagi. Saat itulah tingkat kesibukan bisa meningkat berkali-kali lipat.

Tipe ketiga, adalah tipe yang paling ‘wah’. Entah terjadi atau tidak, tipe seperti ini menumpukan semua kesibukan pada 2 bulan terakhir masa pengerjaan TA. Memang, di awal periode pengerjaan, tiada kesibukan berarti yang terlihat. Sesekali bertemu dengan dosen pembimbing untuk bimbingan yang biasanya tidak jadi karena tiba-tiba dosen pembimbingnya harus pergi untuk urusan yang mendesak (entah apapun itu). Proses bimbingan yang terhambat, membuat kemajuan pengerjaan pun tersendat-sendat sehingga tidak ada hal-hal baru yang signifikan yang dapat menambah persentase progress pengerjaan TA. 2 bulan terakhir sebelum sidang, semua kesibukan itu memuncak. Pengumpulan, pengolahan, dan analisis data menjadi kegiatan sehari-hari.  Tidak mandi, telat makan, bermalam di kampus, demi mengerjakan TA yang telah lama ditunda sehingga otak pun masih kaku untuk melakukan pemrosesan data-data TA. Mungkin ini tipikal pribadi ‘deadliners ‘ yang menjangkit sebagian besar penduduk Indonesia.

Kalau dipikir-pikir, apa masalahnya dengan mengerjakan sesuatu secara konstan dan kontinu, pasti akan lebih nyaman. Namun, selalu saja ada hal yang membuat seorang ‘deadliners’ menunda pekerjaannya. Begitu pula dengan pengerjaan TA. Saya pun berharap bisa mengerjakan TA secara konstan dan kontinu tanpa ada lonjakan kesibukan. Namun, alasan-alasan formal seperti adanya kelas, asistensi, tugas, atau sekedar  futsal bersama angk  atan selalu menjadi legitimasi untuk menunda pengerjaan TA.

Anyway, tulisan ini hanya sekedar analisis kasar atas perilaku teman-teman saya yang sedang mengerjakan TA, mungkin ada banyak variasi lain yang terjadi saat pengerjaan TA. Namun, bagaimanapun cara kita mengerjakan TA kita harus mengetahui konseskuensi apa yang akan kita dapat atas pilihan yang kita jalani.  Ketahui, pilih, jalani, dan dapatkan hasilnya.