Selamat Idul Fitri 1437 H

Lebaran 2016.JPG

Sesuai tradisi blog ini, setiap tahun saya selalu mempublish artikel ucapan selamat Idul Fitri yang gambar headlinenya saya ambil dari institusi-institusi di Indonesia yang sepak terjangnya menonjol sepanjang tahun.

Tahun ini saya ingin mengucapkan Idul Fitri dengan gambar yang saya ambil dari website Kementrian Kelautan dan Perikanan yang dikomandoi Menteri Susi Pudjiastuti.

Kementrian Kelautan dan Perikanan menurut saya adalah institusi paling menonjol tahun ini. Kementrian ini diawali dengan visi yang besar dan direfleksikan dalam tindakan-tindakan yang berani dan bahkan diluar perkiraan banyak pihak. Semuanya dibawah satu sosok pembaharu bernama Susi Pudjiastuti.

Kebijakan kementrian yang menenggelamkan ratusan kapal ilegal secara tidak pandang bulu bukan hanya meningkatkan produktivitas sektor perikanan lokal tetapi juga mengembalikan kedaulatan bangsa Indonesia terhadap wilayah lautnya yang ternyata selama ini masih “terjajah” bangsa asing. Kementrian ini juga menjunjung tinggi pelaksanaan Hak Asasi Manusia dengan langkah beraninya memberantas perbudakan di sektor perikanan – hal yang mungkin belum pernah masyarakat luas ketahui sebelumnya. Selain itu perhatiannya terhadap nelayan lokal dijabarkan kedalam beberapa program seperti asuransi nelayan, program hibah kapal nelayan, dan yang utama, hak ekslusif perikanan tangkap bagi bangsa Indonesia.

susi-p.jpg

Saya pribadi selalu merasa bahwa Indonesia masih memiliki harapan setiap saat saya mendengar sepak terjang kementrian yang dipimpin Mentri Susi Pudjiastuti ini. Sebuah kolom dari harian Kompas online ini bisa memberikan gambaran mengenai prestasi beliau dan tantangan apa yang perlu beliau hadapi kedepannya.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/07/02/070907626/jokowi.susi.dan.titik.balik.kedaulatan.maritim

Semoga langkah kementrian ini bisa terus menuju arah perbaikan Indonesia terutama Indonesia yang makmur dan berdaulat yang diawali dari sektor maritim.

Selamat Idul Fitri 1437 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin dari achmadsya.wordpress.com.

Menerawang Kondisi Sektor Energi Dunia Tahun 2035

 

Pernahkah kita membayangkan seperti apa kondisi supply dan demand energi dunia dua puluh tahun yang akan datang? Berapakah persentase suplai minyak dibanding suplai sumber energi lainnya seperti batu bara dan nuklir? Negara manakah yang akan memiliki pertumbuhan kebutuhan energi terbesar? Apakah bisnis di bidang energi akan tetap menjanjikan terutama ditengah kelesuan harga minyak saat ini?

Mungkin bagi sebagian besar orang, pertanyaan-pertanyaan diatas bukanlah pertanyaan yang harus serius dijawab. Akan tetapi, jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas sangatlah penting bagi mereka yang bergerak di bidang kebijakan yang mempengaruhi orang banyak. Energi adalah tenaga penggerak yang membuat manusia dapat beraktivitas melakukan hal-hal yang harus mereka lakukan. Tanpa energi, tidak akan ada pergerakan manusia, tidak akan ada aktivitas manusia dan akhirnya mungkin tidak akan ada manusia.

Dalam konteks dunia modern, energi digunakan untuk menggerakan alat-alat yang mendukung aktivitas manusia. Energi ini ini dapat berasal dari bahan bakar fosil, seperti minyak dan gas, ataupun energi non fosil seperti tenaga angin, tenaga matahari atau tenaga nuklir. Dunia modern sangat tergantung pada ketersediaan energi untuk menunjang kelangsungan hidup manusia di dalamnya.

 bp Energy Outlook 2035

Pengetahuan tentang kondisi energi dunia sangatlah penting untuk menjamin keberlanjutan sumber energi suatu badan yang mengayomi orang banyak seperti sebuah negara atau sebuah perusahaan besar di bidang energi seperti BP. Oleh karena itu BP memiliki tim khusus yang bertugas mengamati dan memprediksi perkembangan sektor energi di masa depan. Tim ini terdiri dari pakar-pakar yang dipimpin oleh seorang ekonom bernama Spencer Dale yang pernah menjadi Direktur Eksekutif untuk Financial Stability di Bank of England. Tugas utama tim ini adalah memberikan masukan ekonomi dan pola perkembangan sektor energi dunia kepada para pembuat keputusan di BP. Tim ini memiliki tugas yang sangat besar mengingat pengaruhnya terhadap kebijakan perusahaan dengan perputaran investasi dan sumber daya yang sangat besar – hingga ratusan triliun rupiah per tahun.

Metode Studi

Salah satu buah pemikiran tim ekonom bp itu dituangkan kedalam laporan BP Energy Outlook 2035. Laporan ini merupakan hasil studi yang berusaha memprediksi skenario paling mungkin dalam perkembangan supply dan demand sektor migas 20 tahun kedepan. Dalam studi ini digunakan istilah Base Case atau asumsi dasar yang merupakan skenario paling mungkin dan mendapat porsi pembahasan terbesar. Skenario Base Case kemudian didukung dengan 3 skenario lainnya yang berusaha memprediksi kondisi sektor energi jika : Skenario 1, Laju pertumbuhan GDP yang lebih lambat dari asumsi studi, Skenario 2, penurunan emisi karbon dibutuhkan menjadi lebih cepat dan Skenario 3, Shale Oil dan Shale Gas menyimpan potensi yang lebih besar sehingga mengakibatkan porsi pertumbuhan yang lebih tinggi.

Studi Energy Outlook 2035 disajikan dengan informatif dan menurut saya akan mudah dicerna oleh orang-orang yang bergerak di sektor energi. Saya sendiri cukup salut dengan bp yang mau mengalokasikan sumberdayanya untuk berbagi hasil analisis ini. BP bahkan menyediakan data-data statistik dan pembahasan studi dengan cara yang informatif dan enak untuk dilihat. Cuplikan video dibawah memberikan poin inti dari hasil study BP Energy Outlook.

Dalam artikel kali ini saya akan mencoba menceritakan rangkuman hasil studi dalam bahasa Indonesia. Untuk informasi lengkapnya silahkan mengunjungi situs bp Energy Outlook 2035 pada halaman dibawah ini.

http://www.bp.com/en/global/corporate/energy-economics/energy-outlook-2035.html

Poin-poin utama pandangan energi 2035 pada studi bp Energy Outlook 2035 :

  • Studi Energy Outlook menggunakan asumsi Skenario Base Case yang merupakan skenario yang paling mungkin terjadi pada perkembangan sektor energi dunia. Skenario ini disusun dengan mempertimbangkan kemungkinan perkembangan di bidang regulasi & Kebijakan-kebijakan, teknologi dan ekonomi. Skenario ini didukung 3 skenario alternativ untuk memperhitungkan faktor ketidakpastian.
  • Pada skenario Base Case, GDP dunia diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2035. Akan tetapi laju pertumbuhan kebutuhan energy hanya sepertiga (+- 34%) dibanding laju pertumbuhan pada periode tahun sebelumnya. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan dikarenakan penggunaan energi yang semakin efisien.
GDP

Pertumbuhan GDP – bp Energy Outlook 2035

  • Bahan bakar fosil akan tetap menjadi urutan pertama penyokong suplai energi dunia dimana proporsinya 80% terhadap total suplai energi dunia pada tahun 2035. Bahan bakar fosil juga akan memiliki penambahan penggunaan terbesar dibanding sumber energy lainnya yaitu sebesar 60% pada tahun 2035.
Fuel Mix

Proporsi Pasokan Sumber Energi 2035 – bp Energy Outlook 2035

  • Bahan bakar gas akan menjadi sumber energi berbasis fosil yang tumbuh paling cepat dibandingkan sumber-sumber energi lainnya (1.8% p.a. dibandingkan minyak 0.9% p.a. dan batu bara 0.5% p.a.). Hal ini karena semakin melimpahnya ketersediaan gas melalui Shale Gas dan LNG dan juga karena regulasi lingkungan yang semakin mendukung energi rendah emisi.
  • Kondisi pasar di bidang minyak akan berubah menjadi lebih seimbang karena harga minyak saat ini yang murah akan meningkatkan permintaan minyak tapi sebaliknya akan mengurangi pasokan minyak.
  • Kebutuhan minyak akan meningkat sekitar 20 juta barrel/hari. Pertumbuhan akan terpusat di Asia untuk transportasi dan Industri. Pertumbuhan Shale Oil akan terus berlanjut tetapi dengan laju yang melambat.
  • Perubahan ekonomi Tiongkok akan menyebabkan pertumbuhan kebutuhan energy Tiongkok menurun secara drastis. Penurunan ini akan terjadi terutama pada energi dari batu bara yang pertumbuhannya pada 2035 diperkirakan hanya seperlima dari pertumbuhan selama 20 tahun belakangan (0.5% p.a dibandingkan 2.9 % p.a).
Coal

Pertumbuhan Sumber Energi Batu Bara – bp Energy Outlook 2035

  • Energi terbaharukan akan tumbuh dengan pesat dan diperkirakan tumbuh hampir empat kali lipat sampai tahun 2035 yaitu 285%. Khusus di bidang pembangkit listrik, energi terbaharukan akan menjadi energi dengan laju pertumbuhan terbesar ketiga dibanding sumber energi lainnya.
Renewable

Pertumbuhan Energi Terbaharukan – bp Energy Outlook

  • Laju pertumbuhan emisi karbon akan berkurang menjadi setengahnya dibanding periode 20 tahun yang lalu (0.9% p.a. dibandingkan 2.1% p.a. pada periode 20 tahun sebelumnya). Hal ini disebabkan oleh penggunaan energi yang semakin efisien dan juga perubahan distribusi penggunaan bahan bakar menjadi yang lebih rendah emisi. Akan tetapi, emisi karbon akan terus meningkat dan diperlukan langkah-langkah selanjutnya untuk mengekang perumbuhan emisi karbon.

Dari rangkuman pembahasan diatas, studi Energy Outlook 2035 bp menyajikan tiga kesimpulan utama yaitu :

  1. Kebutuhan energi global akan terus meningkat – hal ini seiring dengan peningkatan aktivitas manusia yang sejalan dengan peningkatan kondisi ekonomi dunia
  2. Distribusi penggunaan bahan bakar penyedia energi akan berubah secara signifikan – batu bara akan semakin terpuruk, energi terbaharukan akan semakin meningkat tapi minyak & gas akan stabil dan tetap menjadi yang paling dominan.
  3. Laju pertumbuhan emisi karbon dunia akan menurun secara drastis – tetapi tetap tinggi jika tidak ada regulasi yang lebih membatasi pertumbuhannya

 

Pembaca pasti bertanya-tanya apa dasar kesimpulan-kesimpulan diatas? Tentunya bp sudah melakukan studi yang solid dan dilengkapi dengan data-data yang komprehensif. Semuanya bisa didapat dari link BP Energi outlook diatas. Hal yang menarik dari studi ini adalah bp menyediakan data pembanding mengenai prediksi sektor energi dunia yang disediakan oleh beberapa lembaga ternama dunia seperti IEA dan MIT. Perbandingan beberapa parameter utama bisa dilihat pada grafik dibawah.

Comparison

Perbandingan Hasil Studi – bp Energy Outlook 2035

Keterangan : IEA : International Energy Agency, MIT : Massachusetts Institute of Technology, IEEJ : Institute of Energy Economics Japan.

Dilihat dari data diatas, sepertinya prediksi bp cukup senada dengan prediksi dari sumber-sumber lainnya. Memang ada variasi tetapi ini sangatlah lumrah karena studi prediksi selalu memiliki faktor-faktor ketidakpastian yang pengolahannya bisa sangat bergantung kepada masing-masing pelaku studi. Dalam membandingan data dengan lembaga lain, bp menyajikan beberapa keterangan yaitu :

  • Semua lembaga analis memberikan kesimpulan yang sama bahwa pertumbuhan kebutuhan energi akan disokong oleh emerging markets (negara-negara yang industrinya berkembang dengan pesat seperti Tiongkok dan India). Negara-negara maju seperti yang tergabung kedalam OECD malah menunjukan perlambatan atauh bahkan penurunan laju prtumbuhan kebutuhan energi.
  • Lembaga analis memberikan kesimpulan yang sama bahwa sumber energi gas akan memiliki pertumbuhan yang pesat. Selain itu, minyak akan tetap tumbuh dengan stabil.
  • Perbedaan prediksi diakibatkan perbedaan beberapa asumsi kunci seperti : ketersediaan dan harga suplai migas, laju pengaplikasian teknologi baru, laju pertumbuhan Tiongkok, dan dampak kebijakan seputar energi di masa datang.

 

Tanggapan penulis

Saya semakin takjub dengan luasnya cakupan diskusi seputar energi seiring saya membaca laporan bp Energy Outlook 2035. Sektor energi akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi negara-negara yang berkembang pesat seperti Tiongkok. Kita sudah bisa melihat bagaimana kelesuan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi global. Kita juga bisa melihat bagaimana regulasi perubahan iklim bisa mendorong tumbuhnya energi terbaharukan seperti Tenaga Angin dan efisiensi kendaraan bermotor di negara-negara maju. Dan kita juga sangat merasakan dampak berlimpahnya suplai minyak akibat shale oil mengakibatkan turunnya harga bahan bakar minya. Energi memang sangat penting bagi manusia yang bahkan bisa sampai mempengaruhi tindak laku negara dalam level kebijakan internasionalnya.

Lalu bagaimana kita melihat laporan ini dalam kaitannya dengan Indonesia? Setidaknya ada beberapa poin yang ingin saya bagi.

  1. Indonesia diprediksikan masih belum bisa menaklukan dominasi Tiongkok dan India dalam skala ekonomi di kawasan Asia. Dalam laporan lebih banyak dibahas mengenai laju pertumbuhan kebutuhan energi Tiongkok dan India sebagai pendorong utama di kawasan Asia. Hal ini memang cukup jelas dengan melihat iklim sektor industri kita yang belum mumpuni untuk lompatan skala besar.
  2. Indonesia sebagai salah satu produsen batu bara yang besar harus bersiap dengan kelesuan pasar batu bara yang lebih parah lagi. Laporan studi memprediksi kalau batu bara akan terus terpuruk karena regulasi dan kesadaran mengenai emisi karbon yang meningkat dan ketatnya persaingan dengan sumber energi minyak dan gas dan energi terbaharukan. Akan tetapi batu bara masih bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi nasional jika Indonesia masih bisa mentoleransi besaran emisi karbon yang dihasilkan dari sumber energi batu bara.
  3. Pasar gas akan terus tumbuh dan Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapat porsi penyedia gas dunia. Laporan studi menjelaskan bahwa sumber energi gas akan tumbuh paling pesat dibanding sumber energi lainnya. Indonesia masih memiliki potensi cadangan gas yang menarik untuk diolah.
  4. Pasar minyak akan kembali seimbang – kita akan melihat kenaikan harga minyak ke level yang lebih rasional yang membuat eksplorasi dan produksi minyak kembali jalan dengan laju yang wajar. Kita harus bersiap menghadapi kenaikan harga BBM yang kemungkinan besar meningkatkan inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Demikianlah sharing saya tentang laporan studi bp Energy Outlook 2035. Saya harap artikel ini bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Silahkan manfaatkan artikel ini sebaik yang pembaca perlukan tapi mohon dicantumkan referensi terhadap blog ini agar bisa dipertanggung jawabkan seandainya ada kekeliruan di kemudian hari atas data/pendapat yang ditulis.

Referensi : bp Energy Outlook 2035 (2016 edition)

 

 

Catatan : Informasi/pendapat yang ada di blog ini dan tidak terdapat pada situs BP Energy Outlook 2035 adalah merupakan pendapat penulis dan mungkin tidak merepresentasikan pendapat/informasi dari bp.

Inspiring Visit to an Orphanage in Bandung

A couple weeks ago I’ve had another chance to visit Mutiara Bani Sholihin (MBS), a non-profit organisation operated orphanage located at the east side of Bandung city. This orphanage was established in 2007 and started from rented house with very minimum facility. Now we are blessed that the orphanage is giving shelter to 66 children in which 35 are residing in the orphanage and the other 31 live in with their relatives with support from MBS.

Mutiara Bani Sholihin gives shelter to not only orphanage that lost both their parents. They also give support to children whose parent in poor economic situation and hence not able to support their children. The youngest member of the orphanage family is 3 year old with the most senior on age 18 year old. The orphanage operates two houses which called Rumah Ceria 1 & 2 ( House of Joy 1 and 2). The houses started with a very minimum facility and being expanded several time to be better accommodating the children. They managed to collect fund to buy the land and now continuing to improve the houses with more rooms and better facilities.

MBS005

MBS’s one of their two Orphanage Houses

Indonesia government operated orphanage has never been providing enough coverage to take care all the orphanage or unattended children in the country. It is always frustrating that almost every day I see headline of unlucky children become a victim of poverty. I’ve always longed for a government service that could be as good as the one in developed country such as an example that my friend Joko shared in this article (https://bocahbancar.wordpress.com/2015/08/02/standar-pelayanan-panti-sosial-anak-di-jepang/) . In the other hand, I do understand why Indonesia is still struggling to improve its orphanage service. Limitation of state budget is indeed one of the reasons especially by considering the complexity of taking care the children in the way they could grow healthy and thrive at life.

A non-profit organisation operated orphanage like Mutiara Bani Sholihin (MBS) helps the country and the society to take the responsibility of taking care these unlucky children. With great care and love, they stood up to build the orphanage although with very limited facility at their disposal. They believe with good will and determination, God will give them a way to run a place where the orphans can live in a situation and caring as close as possible to those children who live at home with their parents taking care themselves day to day. This has always been the thinking of Mr Sugriyono, one of the founder of MBS.

I am a strong believer of careful planning and good preparation. However, I also believe that strong determination will improve people chance to achieve their goals by opening windows of opportunity. This is what I see from MBS when they had problems in the past. They eventually manage to sort out problem like the one when their newly adopted child arrived in MBS.

One day the orphanage received a request to take care a baby who was born prematurely at 7 month of pregnancy and hence his weight was only 1.3 kg and in seriously weak condition. MBS, at that time was struggling to improve their service and facility to support the available orphans, was facing a difficult situation whether to accept the seriously ill baby with an immediate risk on very expensive medical treatment or to reject the request and probably making the baby boy not having a chance to survive and being abandoned to dying in his helpless situation. MBS caregivers decided to shelter the baby with a belief that God must have given everyone their own path to thrive in life. It was not an easy choice as two weeks after the baby boy arrived; he was sent to intensive care unit due to loss of consciousness and had a period of losing his breath. Thank God that with medical effort and prayer from the orphanage family, the boy survived that critical situation, grow healthy and become a proud member of MBS until now. His was named “Mandiri Bani Shodikin” and he is 3 years old now. Part of his name which is “Mandiri” is Indonesian word meaning “having a determination and ability to stand on own his feet”. He surely has it!

MBS also showed several examples where unexpected support/donation came just at the right time when it is needed. Those stories are an inspiring true story and could readjust our way of thinking in appreciating the life.

I felt really relieved to hear those stories. I have a great optimism that MBS already have a good network of donor so in the event of emergency they would have better chance to obtain support from the community. However that doesn’t mean MBS struggle to achieve their goal is finished. Problem will always come as they accept more orphan in the future especially with regards to the completeness of the facility and service such as by providing a more established house, its appliances and children care activities.

There would be also a great need on educational fund once the children reached higher level of education. Ms Dedeh, one of the founders and caregivers told me that currently they are having two of their children attending college. The number would – and I think should – increase as the other children grow to the higher educational level age. This is very important to break the chain of poverty and allowing the children to be more independent in both financial and social aspect so they can contribute better to the orphanage in the future. There will be big need of educational fund in the near future and I think this would be a very great opportunity for donation for those who would like to allocate some of their wealth for good and impactful cause.

MBS015

Ms Dedeh when sharing the History of Mutiara Bani Sholihin

I do really hope that MBS and other place with this ideal are always within a reach from people who are gifted with wealth and time. It is important for people support and help to improve such place as this is our responsibility to the humanity especially when government service has not reached the sufficient level of coverage.

Visit to orphanage such as MBS has always been an inspiring moment to me. I always felt recharged every time I saw the smile of MBS children knowing that they are in a good and caring hand. I would encourage any of you traveling to Bandung to visit MBS or other orphanage and try to see if you can find something you can contribute. Let us do our part to help shaping a better future for those children.

Contact :

Yayasan Yatim Piatu & Dhuafa Mutiara Bani Sholihin

Address : Kavling Islamic, Jalan Mekar Biru Blok D No 154, Desa Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung (+62 22 92379504)

MBS003

Metode Alternatif Belajar IELTS

Bagi pembaca yang akan melakukan studi di luar negeri berbahasa Inggris, memiliki sertifikat Bahasa Inggris seperti sertifikat IELTS biasanya merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi. Umumnya perguruan tinggi barat mensyaratkan tingkat kemampuan bahasa Inggris setara dengan nilai IELTS 6.5 dimana tiap komponen penilaian tidak boleh lebih kecil dari 6.5. Tes IELTS memang terdiri dari 4 komponen yaitu Reading, Listening, Speaking dan Writing. Luasnya aspek penilaian ini yang membuat tes IELTS cukup angker bagi banyak orang.

Selain karna tes ini dirasa cukup sulit, biaya tes IELTS juga cukup mahal yaitu skitar 2.8 juta rupiah untuk setiap tes dan bergantung pada kurs dollar. Tes IELTS akan menjadi sia-sia jika kita tidak bisa mencapai nilai yang dibutuhkan. Cerita yang beredar di salah satu penyelenggara tes IELTS, ada seseorang yang perlu melakukan tes selama 7 kali sampai akhirnya berhasil mencapai nilai yang diharapkan. Mungkin tidak sepenuhnya sia-sia karena kita akan mendapatkan pengalaman berharga mengenai bagaimana tekanan yang ada selama test ini. Tapi perlukah sampai mengeluarkan 2.8 juta hanya untuk sekedar mendapat pengalaman tes? Tentunya tidak!

Dalam artikel kali ini saya ingin sedikit berbagi mengenai bagaimana saya mempersiapkan diri menghadapi tes IELTS pertama saya (dan Alhamdulillah sepertinya tidak perlu tes kedua lagi selama 2 tahun kedepan).

Menjalani tes IELTS tidak bisa sekedar dengan percaya diri dengan kemampuan Bahasa Inggris kita karena didalamnya sangat diperlukan konsentrasi dalam mencerna instruksi soal beserta jawaban yang dibutuhkan. Situs-situs referensi IELTS secara eksplisit menyebutkan bahwa seorang native speaker Bahasa Inggris pun bisa gagal IELTS karena kelengahannya dalam membaca soal. Kegagalan mencerna instruksi soal akan menghasilkan jawaban yang salah yang tentunya akan menggerus skor IELTS kita. Sebagai gambaran, ada instruksi yang meminta kita menulis jawaban hanya dengan 2 kata. Jika jawaban kita lebih dari 2 kata maka dianggap salah. Jika kita salah ketik satu huruf, jawaban dianggap salah. Belum lagi ada beberapa pertanyaan jawaban jebakan di sesi listening yang pasti tidak akan kita kira jika kita tidak mendengarkan dengan baik-baik.

Mungkin beberapa pembaca yang mengenal tempat saya bekerja cukup heran mengapa saya terkesan khawatir saat mempersiapkan tes ini. Tapi memang seperti itulah tes IELTS, kemampuan praktis bahasa Inggris sehari-hari merupakan modal utama, tetapi kesiapan menghadapi tipe-tipe soal IELTS merupakan penentu apakah kita dapat mencapai skor yang diinginkan atau tidak.

Setelah menyadari kesulitan-kesulitan di atas, saya pun memutar otak untuk mencari cara yang murah agar saya bisa lebih siap mengikuti tes ini. Kenapa cara yang murah? Karena biaya IELTS sebesar 2.8 juta saja sudah cukup mahal, apalagi jika saya mengikuti kelas persiapan intensif selama 1 minggu yang harganya sekitar 1 jutaan untuk hasil yang belum tentu sesuai harapan. Alternatif lain yang lebih terjangkau mungkin dengan membeli buku panduan IELTS tapi dengan waktu persiapan saat itu yang hanya 1 bulan saya pun dihadapkan pada buku-buku rekomendasi IELTS yang asli dan harganya pun ratusan ribu rupiah. Selain itu karakteristik buku yang monoton juga mengurangi ketertarikan saya belajar melalui cara ini.

Dari pertimbangan-pertimbangan tadi, saya pun mencoba cara belajar lain yaitu menggunakan aplikasi iPad yang ada di apple app store. Saya berharap sistem belajar menggunakan applikasi ipad akan lebih dinamis, mudah didapat dan murah. Selain itu saya cukup percaya dengan kemampuan dasar bahsa Inggris saya untuk mencapai mencapai skor minimum. Saya menemukan beberapa aplikasi berlatih IELTS yang sebagian ditawarkan secara gratis walau hanya versi lite. Setelah mencoba beberapa aplikasi, saya memutuskan untuk membeli aplikasi bernama IELTS Skills dari Macmillan Education. (http://www.macmillaneducationapps.com/ieltsskills/)

Applikasi IELTS Skills menarik perhatian saya karena versi lite nya memberikan gambaran pembelajaran yang dinamis dan mengena (impactful) melalui aplikasi tips & trick dan simulasi tes. Aplikasi ini tidak mengajarkan kita melalui contoh soal tetapi lebih mengupas berbagai teknik dalam menyelesaikan setiap tipe soal dari mulai reading, writing, listening hingga speaking. Selain itu penggunaan aplikasi di dalam IPad membuat saya bisa berlatih kapanpun dan dimanapun saya berada. Harga versi fullnya yang sebesar Rp 89.000 akhirnya memantapkan saya untuk membeli aplikasi ini.

IELTS1

Menu Awal Aplikasi IELTS SKILS

Pada menu awal IELTS Skills terdapat 4 pilihan utama berupa komponen IETLS yang ingin kita pelajari. Tiap sub komponen terdapat berbagai tips dan trik yang disusun secara sistematis. Tiap sub komponen pun memiliki Golden Rules atau saran pamungkas yang sangat bermanfaat sebagai dasar mengikuti tes IELTS. Setiap topik yang dibahas dalam aplikasi ini dibawakan secara interaktif sehingga pembelajaran terasa lebih menarik.

IELTS2

Empat Komponen Tes IELTS

Komponen pertama adalah sesi Reading. Pada pilihan ini terdapat 5 trik utama yang terbagi menjadi Skimming, Scanning, Matching, Completing, Asnwering. Metode Skimming adalah metode mendapatkan ide besar suatu tulisan secara cepat. Applikasi ini menjelaskan beberapa langkah skimming yang membuat kita tidak harus membaca keseluruhan kata untuk mengerti maksud suatu kalimat/paragraf. Hal-hal kecil seperti fokus pada kata kerja, kata sambung atau kata sifat bisa menghemat waktu membaca kita yang tentunya sangat bermanfaat dalam menyelesaikan tes.

Metode Scanning adalah metode mencari suatu kata/ide pada soal berbentuk tulisan. Metode ini sangat bermanfaat dalam menjawab pertanyaan karena artikel soal IETLS bisa sangat panjang sedangkan kita seringkali tidak bisa memahami dan mengingat isi artikel hanya dalam sekali baca. Applikasi ini menjelaskan dalam menjawab pertanyaan, kita harus mengenal ide dasar pertanyaan ini yang biasanya dapat disingkat jadi kata kunci. Kata kunci ini kemudian kita cari dalam artikel. Kita tidak perlu membaca semua kalimat dalam satu artikel tetapi cukup mencari satu kata kuncu tersebut dan kemudian mebaca kalimat yang menaunginya. Salah satu hal yang menarik yang saya pelajari adalah scanning sebaiknya tidak dilakukan dari kiri ke kanan melainkan kanan ke kiri, zigzag, atau bahkan bawah ke atas. Hal ini dilakukan untuk menghindari otak membaca kata perkata dan meluangkan waktu lebih lama dibandingkan pencarian cepat melalui dan tidak bergantung urutan kalimat yang diberikan metode Scanning.

Fitur lain yang saya rasa sangat bermanfaat adalah simulasi tes speaking. Dalam bagian ini, kita dapat berlatih melakukan tes Speaking dengan menonton video pertanyaan si pewawancara dan merekam respon jawaban kita mirip seperti kondisi tes aslinya. Pertanyaan si pewawancara pada layar ipad kita dapat bervariasi sesuai beberapa paket latihan di applikasi ini. Selanjutnya, hasil rekaman jawaban kita dapat kembali kita putar untuk kita evaluasi. Aplikasi bagian Speaking juga menyediakan beberapa video tentang contoh baik dan buruk dalam merespon pertanyaan dalam tes speaking. Video-video ini sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi kesalahan umum yang orang lakukan pada sesi tes Speaking.

IELTS3

Berlatih Sesi Speaking dengan Simulasi Rekaman

Salah satu hal yang saya pelajari di bagian Speaking adalah untuk mencapai nilai yang cukup kita harus mengatur ritme bicara kita agar pronounciation dan struktur kalimat menjadi lebih terkontrol dan akurat. Kita tidak boleh tegang dan kita harus mengontrol nafas. Tidak perlu tergesa-gesa dalam memberikan jawaban, kita harus menunjukan bahwa kita berpikir untuk memberi jawaban dan bukan berpikir untuk menerjemahkan jawaban dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Selain itu masih banyak teknik-teknik menarik yang sangat bermanfaat saat menghadapi tes IELTS. Salah satu yang juga sangat bermanfaat adalah bagaimana kita mempelajari konsep penulisan tulisan pada sesi Writing. Aplikasi ini memberikan penjelasan tentang pengaturan waktu menulis, penulisan kerangka, perbedaan teknik membaca berbagai tipe diagram hingga contoh-contoh kalimat inti dan penghubung yang tepat untuk digunakan.

Dari beberapa fitur yang bermanfaat diatas, sayangnya ada beberapa kekurangan yang cukup mengganggu saya dalam menggunakan aplikasi ini. Salah satunya adalah instruksi latihan yang kadang sulit dimengerti. Seringkali saya harus meluangkan waktu yang lama untuk mencerna apa instuksi pada suatu sesi latihan soal. Kadang saking tidak mengertinya saya pun harus melewatkan latihan itu dan langsung melihat kunci jawabannya. Mungkin hal ini tidak akan terjadi jika pembaca benar-benar berkonsentrasi dan mengalokasikan waktu yang cukup untuk berlatih melalui aplikasi ini.

Kekurangan lain yang kadang saya alami adalah user interface yang tidak responsif. Mungkin ini disebabkan spesifikasi IPad saya yang sudah tua (generasi ke-3) sehingga aplikasi menjadi terlalu berat untuk dijalankan. Contohnya adalah ketika saya harus menghighlight kalimat dengan gramar yang salah pada sebuah paragraf. Pada latihan ini kadang sentuhan pada kalimat tidak terdeteksi sehingga saya dianggap tidak memberikan jawaban. Smoga saja hal ini tidak terjadi pada iPad generasi yang lebih baru.

Dan akhirnya saya pun melakukan test IELTS saya pada awal Desember lalu. Alhamdulillah, saya bisa mencapai nilai sedikit diatas nilai minimum yang dibutuhkan yaitu 8.5 Reading, 8.5 Listening, 7.5 Speaking dan 6.5 Writing. Keseluruhan nilai ini memberikan saya skor IELTS Band 8. Mungkin tidak semua orang mau berbagi hasil IELTS mereka tapi untuk artikel kali ini saya ingin membagi hasilnya agar pembaca bisa memiliki gambaran mengenai korelasi antara nilai IELTS dengan kemampuan praktis bahasa Inggris seseorang. Dari skor diatas, bisa dilihat bahwa puluhan artikel bahasa Inggris pada blog saya tidak menjamin saya mendapat nilai yang tinggi.

Kalau saya coba evaluasi skor Writing saya, saya menjadi terpikir kalau selama ini saya sangat bergantung pada fitur autocorrect pada MS Word dalam menghasilkan dokumen berbahasa Inggris yang akurat sehingga ketika saya harus menulis essay dengan tulisan tanggan saya mungkin kehilangan sebagian kemampuan saya. Saya juga terlalu fokus berlatih untuk sesi reading dan listening dalam aplikasi IELTS Skills karena saya selalu merasa bagian ini memiliki banyak pertanyaan jebakan. Mungkin nilai IETLS Writing saya bisa lebih baik lagi jika saya meluangkan waktu lebih banyak untuk latihan sesi ini.

Dan begitulah akhirnya cerita bagaimana saya mempersiapkan diri untuk mengikuti tes IELTS. Alhamdulillah menurut saya nilainya cukup untuk modal saya di masa depan meskipun distribusi skor per komponen yang diluar perkiraan.

Penggunaan aplikasi belajar IELTS ini tentu bukan satu-satunya metode persiapan tes IELTS. Ada banyak metode sesuai kemampuan dasar, budget dan ketersediaan waktu kita. Semoga pembaca yang sedang mempersiapkan tes IETLS nya bisa terbantu dari artikel ini. Selamat berjuang!

PS: Silahkan berbagi juga bagaimana cara pembaca mempersiapkan tes IELTS di bagian komentar dibawah.

Mari Mengenal FPSO

*Oleh Achmad Syaiful Makmur

Jika pada postingan sebelumnya saya berdikusi tentang berbagai jenis fasilitas migas lepas pantai, pada postingan kali ini saya ingin mengeksplorasi lebih jauh tentang fasilitas migas lepas pantai berbasis kapal laut (Ship based oil and gas facility) dan khususnya mengenai FPSO.
Fasilitas migas lepas pantai bisa dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa Fixed Platform seperti yang umum kita lihat, ada juga yang berupa Floating System (fasilitas terapung) yang belum begitu umum di Indonesia jika dibandingkan dengan fixed. Floating system sendiri dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis seperti, Semi Submersible, Tension Leg Platform, Spar, Ship and Barge based.

Faktor Cost and Risk dalam pemilihan jenis fasilitas

Pemilihan floating system akan tergantung pada banyak faktor yang nanti akan saya coba bahas. Yang jelas, faktor utama dalam setiap pembangunan fasilitas migas akan selalu antara Cost dan Risk. Pada umumnya seorang operator migas akan memilih fasilitas yang memberikan resiko paling kecil dengan cost yang paling kecil pula.

Pemanfaatan floating system sendiri mulai terwujud seiring habisnya cadangan migas di daerah dimana fasilitas konvensional seperti fixed platform biasa beroperasi. Untuk mencari cadangan baru, para operator migas akhirnya terpaksa menyentuh area yang sebelumnya belum dieksplorasi yaitu wilayah perairan. Karena kedalaman, faktor teknis dan non faktor teknis lainnya, akhirnya disimpulkan bahwa penggunaan struktur konvensional akan menjadi terlalu mahal dan beresiko sehingga didapat bahwa struktur floating system lah yang paling tepat dari segi biaya dan resiko.

Mengapa bisa seperti itu? Dari sudut biaya bisa dimengerti karena fixed platform sangat bergantung dari struktur jacket. Semakin dalam sebuah jacket, semakin banyak material baja yang dibutuhkan. Selain itu, semakin dalam sebuah jacket, semakin besar sistem pengaku yang dibutuhkan agar periode natural struktur tetap berada dibawah periode gelombang (untuk mencegah terjadinya resonansi). Selain itu, ada banyak faktor lainnya seperti facility maintenance, kemampuan fabrikasi, dan kualitas material baja akan cenderung terus meningkat sebanding dengan kedalaman jacket sehingga akhirnya opsi pembangunan floating system menjadi lebih murah.

Baca juga : Metode Alternatif Belajar IELTS

Ship Based Floating System

Ship based floating system merujuk pada fasilitas migas yang berbentuk seperti perahu. Wikipedia sendiri mengklasifikasikannya menjadi beberapa jenis yaitu [1] :

  1. FSO, Floating Storage and Offloading – Fasilitas hanya menyimpan dan mentransfer kargo minyak (biasanya minyak mentah yang sudah diolah/belum diolah)
  2. FPSO, Floating Production, Storage and Offloading – Fasilitas yang mengolah fluida sumber, menyimpan dan mentransfer minyak mentah yang sudah diolah
  3. FDPSO, Floating, Drilling and Production, Storage and Offloading – Fasilitas yang melakukan pengeboran secara berkelanjutan, mengolah fluida sumber hasil pengeboran, menyimpan dan mentransfernya (biasanya berupa minyak mentah yang sudah diolah)
  4. FLNG, Floating Liquified Natural Gas – Fasilitas yang mengolah gas alam menjadi LNG. Biasanya prinsip kerjanya seperti FPSO dimana fluida sumber diolah menjadi LNG, disimpan pada Storage dalam FLNG untuk kemudian ditransfer ke kapal kargo.
  5. FSRU, Floating Storage Regasification Unit – Fasilitas yang mengolah LNG menjadi gas konsumsi

Postingan ini akan membahas lebih detail mengenai FPSO. Selain tingkat kemafiliaran saya terhadap FPSO, saya rasa kompleksitas FPSO juga menarik digunakan sebagai acuan dalam mendesain floating system dikarenakan kelengkapan fasilitas yang ada di system ini.

FPSO di Indonesia

FPSO merupakan fasilitas produksi migas terapung terintegrasi yang memberikan solusi menyeluruh dalam menghasilkan migas. Mengapa menyeluruh? Karena hampir semua proses produksi migas dari mulai reservoir sampai transfer ke kapal kargo terjadi disini. Karena itu pula desain FPSO bisa menjadi sangat kompleks dibandingkan dengan desain fixed platform.

FPSO pertamakali di dunia adalah Shell Castellon yang beroperasi mulai tahun 1977 di laut mediterania pada kedalaman 117 meter. Saat ini ada lebih dari 270 FPSO sedang dan telah beroperasi di dunia (Wikipedia). Pada 2016, Shell Turritella FPSO akan menjadi FPSO system paling dalam di dunia dengan kedalaman 2,896 meter (9,500 feet) [2]. Jika kita lihat juga  proyek FLNG Shell Prelude, sepertinya Shell adalah pioneer di bidang FPSO.

Di Indonesia sendiri jumlah FPSO yang sedang beroperasi hanya sebanyak 7 buah [3]. Dibawah Brazil (32buah), UK (14 buah) dan Angola(13 buah) (offshore-mag). Hal ini merupakan ironi karena selain pulau-pulau yang menyebar, luas lautan Indonesia yang lebih dominan dibandingkan dengan negara2 pemilik FPSO terbanyak lainnya.  Selain itu, berdasarkan data dari sumber yang sama, FPSO Indonesia hanya bermain pada kedalaman sekitar 100 meter. Masih jauh dibawah kedalaman optimal rata-rata FPSO sebesar 1000 meter ke atas [4].

Jumlah FPSO memang bukan indikator utama kemajuan industri migas Indonesia. Akan tetapi, jika dilihat dari perbandingan jumlah FPSO dibandingkan fasilitas fixed platform dan luasan lautan Indonesia, sepertinya FPSO memiliki potensi penggunaan yang lebih banyak pada masa depan migas Indonesia.

Data FPSO yang sedang beroperasi di Indonesia bisa dilihat pada table dibawah. Sebaran FPSO yang sedang beroperasi di seluruh dunia bisa didapat pada gambar dibawah. Data-data dibawah berasal dari publikasi offshore-mag.com [4]

achmadsya.wordpress.com

Daftar FPSO di Indonesia 2014

Worldwide FPSO Distribution - Offshore Mag

Distribusi FPSO yang Sedang Beroperasi di Dunia – Offshore-mag.com

Laporan tahunan SKK Migas tahun 2014 menyatakan ada 7 proyek utama yang berskala besar dan diawasi khusus dimana 4 diantaranya kemungkinan adalah fasilitas floating system [5]. Dari empat proyek floating system, ada 2 yang kemungkinan menggunakan FPSO (atau FLNG) yaitu Bukit Tua Petronas Carigali Ketapang II dan Abadi Inpex Masela. Kedua proyek lainnya kemungkinan berupa Floating Production Unit yaitu Proyek Indonesia Deepwater Developemt Chevron dan Proyek Jangkrik Eni Muara Bakau. Dengan bertambahnya jumlah FPSO, posisi Indonesia sebagai pengguna teknologi FPSO bisa semakin terangkat dan sebanding dengan beberapa Negara lainnya.

Komponen Produksi FPSO

Untuk melangsungkan fungsinya, unit FPSO tidak berdiri sendiri melainkan didukung oleh beberapa komponen produksi yaitu :

  • Sumur satelit & flexible risers/flow line – FPSO biasanya menerima sumber fluida migas dari beberapa sumur satelit dari lokasi yang berbeda. Ini berbeda dibanding fixed platform dimana sumur produksi terletak tepat dibawah platform. Dengan konsep seperti ini, FPSO bisa mendapatkan sumber dari lokasi sumur yang berjauhan sehingga karakteristik sumur dan jumlah recovered oil bisa lebih efisien. Karena bentuknya yang terapung, pergerakaan FPSO saat kondisi terpasang (Moored) akan lebih besar dibanding fixed platform. Oleh karena itu FPSO juga dilengkapi dengan flexible flow line/riser yang bisa mengkompensasi pergerakan FPSO terhadap sumur2 satelit.
  • FPSO – Komponen penerima dan pengolahan fluida migas yang kemudian disimpan di dalam kapal untuk kemudian disalurkan ke kapal transporter. Pada prinsipnya FPSO tidak mengolah fluid sumber menjadi bahan bakar konsumsi seperti bensin atau solar. FPSO mengolah fluida sumber menjadi minyak mentah yang layak simpan dan layak ditransportasikan. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa fasilitas pengolahan fluida sumber menjadi minyak mentah tersebut. Komponen utama dalam pengolahan fluida sumber minyak pada FPSO biasanya terdiri dari Receiving/Manifolds, Separation, Oil Treating, Gas Treating/Compression, Water Treating, Oil Transfer dan Vent/Flare tower . Diagram penjelas bisa dilihat pada gambar dibawah[4].
    FPSO Typical Process Layout

    Tipikal Layout Process FPSO

    FPSO akan terus mengolah fluida sumber sebagaimana fasilitas migas di darat. Di lain pihak, kapal transporter biasanya datang dalam jangka waktu tertentu agar bisa menggunakan kapal berukuran besar demi efisiensi pengiriman. Oleh karena itu FPSO dilengkapi dengan fasilitas Storage untuk menyimpan dan mengumpulkan FPSO agar dapat diangkut menggunakan kapal transporter dengan kapasitas tertentu.

  • Gas export line / reinjection – FPSO tidak didesain untuk menyimpan gas alam oleh karena itu gas yang dihasilkan (jika ada) di transfer melalui pipa ke fasilitas penerima diluar system FPSO. Beberapa FPSO yang tidak menyediakan pipa transfer gas melakukan reinjeksi gas kembali kedalam reservoir.
  • Cargo Offloading system – Sistem yang menyalurkan kargo minyak dari FPSO ke kapal transporter. Sistem ini juga sangat penting bagi operasi FPSO dan desainnya pun mempertimbangkan berbagai hal seperti faktor metocean, jenis kargo (minyak / LNG), dan juga faktor ketersediaan kapal di pasaran. System bisa berupa Tandem Offloading, Single Point Mooring, atau Side to Side. Paper dari Oise Ihonde memberikan informasi yang cukup lengkap mengenai jenis-jenis offloading system dan karakteristiknya. [6]
  • Sumber fluid lainnya – Selain menerima fluida sumber dari sumur-sumur satelit, FPSO juga bisa menerima sumber fluida dari wellhead platform lainnya (bisa dari fixed platform atau dari floating system lain)

Gambar dari wikipedia dibawah menunjukan gambaran tipikal komponen produksi system FPSO.

FPSO System - wikipedia

FPSO Production System – wikipedia

 

Bersambung… Komponen Struktur FPSO dan Tantangan Desain…

Baca juga : Metode Alternatif Belajar IELTS

Referensi :

1. Floating production storage and offloading. https://en.wikipedia.org/wiki/Floating_production_storage_and_offloading

2. http://www.offshoreenergytoday.com/worlds-deepest-fpso-en-route-to-gulf-of-mexico-gallery/

3. 2014 Worldwide Survey of Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) unit. Offshore-Mag.com

4. Fundamental of Offshore System Design and Construction. PetroSkills Training.

5. Laporan Tahunan SKK Migas tahun 2014. http://www.skkmigas.go.id/publikasi/laporan-tahunan

6. Howell, G. Boyd. 2006. Spread Moored or Turret Moored FPSO’s for Deepwater Field Developments. Offshore West Africa 2006.

Tentang Peta Gempa Indonesia Terbaru Edisi SNI 1726 2012

Berawal dari komentar salah satu pengunjung blog pada postingan Apa itu Peta Gempa Indonesia, saya menjadi teringat untuk mengupdate tulisan di blog itu agar lebih relevan dengan standar perencanaan terkini. Dalam post ini saya ingin berbagi pemahaman saya dan berdiskusi dengan pembaca tentang pembaharuan dari Peta Gempa Indonesia edisi 2002 menjadi edisi 2010 yang diterbitkan kementrian PU pada tahun 2010 lalu. Peta gempa ini kemudian dilengkapi menjadi SNI 1726 tahun 2012 mengenai Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung . (Baca : Ringkasan Hasil Studi Revisi Peta Gempa 2010)

Peta Gempa Cover

Peta gempa, sebagaimana standar perencanaan desain teknik sipil lainnya, perlu diperbaharui berdasarkan perkembangan keilmuan dan pengalaman di lapangan. Peta gempa terbaru edisi 2010 dan dilengkapi kedalam SNI 1726 2012 diterbitkan dengan harapan mendapatkan prediksi beban gempa yang lebih akurat agar bangunan menjadi lebih handal (reliable) pada saat mengalami gempa rencana (Ibnu Rusydy : Dapatkah Gempa Diprediksi?). Gempa sendiri adalah fenomena alam yang belum sepenuhnya dipahami, sangat banyak variable yang bisa mempengaruhi beban gempa pada suatu gedung oleh karena itu tiap perkembangan ilmu dan informasi baru di lapangan sangat penting dalam menghasilkan desain bangunan yang lebih handal.

Meskipun peta ini diterbitkan 5 tahun lalu, saya rasa peta ini belum sepenuhnya diaplikasikan pada dunia perteknik-sipilan Indonesia oleh karena itu saya rasa tetap perlu untuk mengingatkan pentingnya mengikuti peta dan standar perencanaan gempa terbaru. Memang peta gempa dan standar perencanaan gempa pada SNI 1726 2012 terlihat lebih rumit jika dibandingkan dengan edisi 2002. Peta gempa SNI 1726 2012 dibuat setara dengan standar perencanaan ASCE 7-10 (hampir bisa disamakan dengan IBC2009) sedangkan peta gempa edisi 2002 dibuat setara dengan UBC-97. Untuk mencapai ASCE 7-10 (atau IBC 2009), standar perencanaan gempa dari UBC-97 mengalami paling tidak dua kali pembaharuan ASCE yaitu ASCE 7-05 dan ASCE 7-10, dan empat kali pembaharuan IBC yaitu 2000, 2003, 2006 dan 2009. Dalam pembaharuan dokumen-dokumen diatas tentunya banyak hal yang berubah dan mungkin menjadi lebih kompleks lagi.

Dalam tulisan ini, saya ingin memfokuskan bahasan pada perbedaan peta gempa SNI 1726 2012 dengan 2002 dalam hal konsep penurunan beban gempa akibat percepatan di batuan dasar (PGA). Saya akui bahwa tingkat pemahaman saya hanyalah sebatas praktisi dan bukan sampai tahapan pakar dalam bidang kegempaan jadi saya sangat menerima koreksi/masukan pembaca agar artikel ini bisa lebih akurat dan bermanfaat lagi bagi komunitas teknik sipil Indonesia. Saya juga akan memisahkan antara peta gempa 2010 dengan SNI 2012 karena pada awal diterbitkannya, peta gempa edisi 2010 belum mengadopsi konsep uniform risk seperti yang akan saya jelaskan pada tulisan ini. Peta gempa pada SNI 2012 lah yang merupakan penyempurnaan dari peta gempa 2010 dengan menambahkan konsep uniform risk.

Sebelumnya silahkan baca postingan saya sebelumnya berikut untuk mendapatkan gambaran singkat tentang apa itu peta gempa dan bagaimana peta gempa edisi SNI 1726 2002 diturunkan. (Achmadsya : Apa Itu Peta Gempa Indonesia???)

Berikut beberapa perbedaan Utama pada Peta Gempa Indonesia edisi edisi SNI 1726 2012 dengan edisi 2002.

1. Periode Ulang

Perbedaan pertama adalah pada periode ulang, SNI 2002 menetapkan resiko terjadinya gempa diatas gempa rencana (probability of exceedance) sebesar 10% dalam 50 tahun. Dengan persyaratan ini, periode ulang gempa yang berdasarkan Annual Probability of exceedance menjadi

10%/50 = 0.2 %. Dengan persamaan mencari probablity of exceedence berikut, R = 1-(1-1/T)^n maka didapat T = 475 tahun atau dibulatkan menjadi 500 tahun.

Pada SNI 2012, probability of exceedance diambil sebesar 2% dalam 50 tahun. Dengan persamaan yang sama, didapat periode ulang gempa sebesar 2.475 tahun atau dibulatkan menjadi 2500 tahun.

Perbedaan probability of exceedance merupakan faktor langsung terhadap berubahnya periode ulang. Semakin kecil probability of exceedance semakin besar periode ulang. Semakin kecil probability of exceedance, semakin kecil kemungkinan terjadi gempa diatas gempa rencana sehingga kita semakin terhindar dari kejadian gempa.

Perlu dipahami bahwa konsep ini adalah konsep probabilitas berdasarkan statistik. Periode ulang gempa 2500 tahun bukan berarti gempa hanya akan terjadi setiap 2500 tahun. Periode ulang ini digunakan untuk lebih mudah menjelaskan bahwa kemungkinan tahunan (annual probability) sesuatu adalah sebesar 1/2500 = 0.0004.

2. Pendekatan Deterministic

Jika pada peta gempa 2002 lebih menekankan pada konsep probabilistic dalam menentukan besaran gempa melalui Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), edisi 2010 menambahkan satu konsep yang disebut Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA). Pada konsep ini, probabilitas gempa tidak hanya diturunkan dari statistic terjadinya gempa yang tercatat. Probabilitas juga diturunkan dengan mengidentifikasi adanya subduksi lapisan bumi dan sesar aktif (active faults) pada suatu wilayah.

Dari identifikasi subduksi dan sesar, para analis dapat mengestimasi berapa kemungkinan magnitude gempa maksimal dan dimana lokasinya berdasarkan pemahaman karakteristik subduksi dan sesar yang ditinjau. Hal ini bisa dilakukan karena para ahli geologi telah mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik suatu subduksi/sesar (seperti kecepatan pergseseran, arah geser dan kondisi geologi) sehingga bisa membuat model yang bisa memprediksi besaran maksimum gempa yang terjadi.

Tim revisi peta gempa Indonesia tahun 2010 menyatakan bahwa konsep PSHA dan DSHA adalah saling melengkapi. Tim revisi menyatakan “Hasil DSHA dapat diverifikasi dengan PSHA untuk memastikan bahwa kejadian tersebut masih realistik atau mungkin terjadi. Sebaliknya, hasil analisis PSHA dapat diverifikasi oleh hasil analisis DSHA untuk memastikan bahwa hasil analisis tersebut rasional”. Prof Masyhur mengatakan dalam beberapa seminar yang dibawakannya bahwa pendekatan deterministic akan lebih baik dalam memberikan estimasi terjadinya gempa untuk daerah di sekitar subduksi atau sesar yang sudah teridentifikasi dengan baik. Pendekatan ini mungkin tidak tepat jika digunakan di daerah yang jauh dari subduksi dan sesar oleh karena itu digunakanlah pendekatan probabilistic. Peta gempa edisi 2010 menggunakan kedua konsep ini untuk memberikan percepatan gempa yang lebih representative dimana gempa rencana diambil berdasarkan nilai minimal dari hasil Deterministik dan Probabilistik.

3.Uniform Hazard vs Uniform Risk

Salah satu konsep yang baru diaplikasikan kedalam peta gempa SNI 1726 2012 adalah konsep building fragility (kerentanan). Saya belum sepenuhnya paham mengenai konsep ini tapi saya akan coba menjabarkan beberapa temuan yang saya dapat berdasarkan studi literature pada kode ASCE 7-10 dan paper-paper pendukungnya.

Peta gempa SNI 2002 berdasarkan pada konsep uniform hazard dimana beban gempa didasarkan pada potensi gempa yang sama untuk semua wilayah. (potensi disini maksudnya potensi 10% probability of exceedence dalam 50 tahun). Peta gempa SNI 1726 2012 mengadopsi konsep uniform risk yang artinya beban gempa didasarkan pada resiko keruntuhan bangunan yang sama yang disini diambil 1% resiko keruntuhan dalam 50 tahun. Oleh karena itu, percepatan gempa pada peta SNI 1726 2012 disebut sebagai Risk Targeted Ground Motion yaitu percepatan tanah yang sudah disesuaikan untuk mencapai target resiko keruntuhan 1 persen dalam 50 tahun.

Adanya konsep risk of collapse berawal dari pengamatan dari kejadian gempa di amerika serikat dimana tidak semua gedung yang terkena gempa rencana selamat / menunjukan performa sesuai desain. Pengamatan juga menunjukan tidak semua gedung yang terkena beban gempa diatas gempa rencana tidak selamat / menunjukan kegagalan struktur sesuai prediksi desain. Menurut Luco et al pada papernya berjudul “Risk-Targeted versus Current Seismic Design Maps for the Conterminous United States”, hal ini terjadi dikarenakan adanya ketidak pastian pada :

  1. Ketidak pastian pada ground acceleration yang direpresentasikan pada probabilitas hazard gempa.
  2. Ketidak pastian pada betuk gelombang gempa (wave form) yang disebut sebagai record-to-record variability. (Achmadsya’s note: mungkinkah ini alasan kenapa pada time history analysis dibutuhkan analysis terhadap 7 time history data??)
  3. Ketidak pastian dari variasi detailing struktur, kualitas material, susunan struktur dan lain-lain.

Adanya ketidak pastian diatas berujung pada studi dilakukan melalui ATC 63 Project dan didokumentasikan dalam FEMA P 695 yang bertujuan mengkuantifikasikan perfroma bangunan dan parameter-parameter response bangunan terhadap gempa. Studi ini salah satunya menghasilkan kurva collapse probability bangunan yang kemudian diaplikasikan oleh Luco et al dalam merumuskan persamaan probabilistik percepatan gempa yang memperhitungkan Probability of Exceedence dengan Collapse Probability untuk mendapatkan risk targeted ground motion.

Konsep kedua dirasa lebih tepat karena sesungguhnya kita ingin tahu performa bangunan kita saat terkena gempa rencana, bukan hanya besarnya gempa yang harus diperhitungkan sebagai gempa rencana.

Jika tertarik menelaah lebih dalam mengenai tentang risk targeted ground motion, silahkan baca referensi berikut :

4.Koefisien pada Response Spektra

Peta gempa SNI 2002 hanya memiliki satu koefisien yaitu PGA. Koefisien ini kemudikan diturunkan menjadi respon spektra melalui beberapa konstanta pengali yang diambil berdasarkan kondisi tanah yang ditinjau.

Peta gempa SNI 1726 2012 memberikan tambahan koefisien spektra berupa PGA (batuan dasar), 0.2 detik dan 1 detik. PGA digunakan untuk menentukan percepatan gempa pada desain pondasi. Koefisien 0.2 detik dan 1 detik digunakan untuk membuat respon spektra gedung. Penambahan koefisien-koefisien ini ditujukan untuk memberikan response spektra desain yang lebih representative berdasarkan perkembangan ilmu terkini.

Pembaca yang tertarik mengenal bagaimana cara membuat respon spektra berdasarkan peta gempa 2010 dan SNI 1726 2012 bisa berkunjung ke link dibawah.

http://duniatekniksipil.web.id/1363/ringkasan-prosedur-menentukan-beban-gempa-sni-2010/

 

Setelah kita melihat perbedaan dari segi metodologi penurunan peta gempa, lalu apa sebenarnya dampaknya pada percepatan gempa desain? Beberapa slide yang disajikan Prof. Masyhur Irsam dalam seminarnya di acara Institution of Civil Engineer (ICE) technical meeting memberikan gambaran perbedaan respon spektra Peta Gempa edisi 2002 dan edisi SNI 1726 2012 untuk daerah Aceh, Medan dan Jakarta.

Untuk wilayah Aceh, respon spektra peta gempa SNI 2012 umumnya memberikan akselerasi lebih besar untuk Hard Rock dan Medium soil class dibandingkan peta gempa SNI 2002. Akan tetapi, peta gempa SNI 2012 umumnya memberikan percepatan gempa lebih kecil dibanding SNI 2002 untuk soft soil.

Untuk wilayah Jakarta, peta gempa SNI 2012 memberikan percepatan gempa lebih besar pada Medium soil dibandingkan SNI 2002. Akan tetapi, percepatan gempa SNI 2012 untuk soft soil ternyata sedikit lebih kecil dibandingkan SNI 2002.

Kesimpulan dari pengamatan di atas adalah peta gempa SNI 1726 2012 belum tentu memberikan percepatan gempa yang lebih besar dibandingkan edisi SNI sebelumnya. Dalam mengassess kerentanan bangunan terhadap kode gempa SNI 1726 2012, kita perlu mempertimbangkan faktor tanah dan periode natural bangunan agar bisa menentukan perlu tidaknya perkuatan (retrofit) bangunan.

Spektra AcehSpektra Jakarta

Berkenalan dengan Framing Effect

Pada suatu ketika saya hendak mengisi bensin di sebuah SPBU. Saya pun menepi dari sisi jalan dan petugas spbu pun mengarahkan saya ke salah satu slot pengisian bensin. Ketika mobil berhenti dan saya membuka kaca, sang petugas pun dengan sigap menanyakan “Isi Vpower pak?”… Saya yang baru saja mematikan mesin mobil pun sedikit terkaget dan tanpa disadari menjadi agak kikuk dalam memberikan jawaban… Seolah otak ini belum siap untuk menjawab pertanyaan tiba-tiba tadi.. Akhirnya saya menjawab “Shell super saja”… Sebuah jawaban yang secara sadar saya ucapkan tetapi entah kenapa terasa kurang nyaman dalam pengucapannya jika dibanding dengan menjawab, “iya Vpower ya”..

Setelah pertanyaan jenis bensin terjawab, si petugas pun langsung ke pertanyaan kedua dengan tidak banyak jeda, “Isi full pak?”.. Masih dalam keadaan “perasaan nanggung” dengan jawaban pertama.. Saya pun kembali diberi pertanyaan yang akhirnya saya jawab setelah terdiam beberapa saat… “200 ribu aja” tapi kembali dengan perasaan aneh dan tidak nyaman. Seolah saya berusaha melawan arus yang tidak semestinya dilawan…

Bagi pembaca sering mengisi bensin di SPBUini, pasti pembaca juga akan familiar dengan kedua pertanyaan ini karena  Continue reading