Berkunjung ke Negeri Paman Sam – Part 2

Lanjutan dari Part 1.

Setelah dua setengah jam perjalanan dari Allentown, akhirnya saya tiba di kota New York, tepatnya Manhattan Island. Melaui terowongan yang menghubungkan New Jersey dan Manhattan, saya disambut dengan papan pengumuman “Welcome to Manhattan” dari walikota Manhattan.

NYCD2004
Welcome to Manhattan

Perjalanan menuju Hostel tempat saya menginap melalui berbagai daerah di bagian barat Manhattan. Dimulai dari kawasan padat bangunan tingkat tinggi, taman Battery Park yang berbatasan dengan sungai Hudson dan berakhir di Amsterdam Avenue dimana saya akan tinggal selama 3 hari. Meskipun cuaca saat itu tengah berawan, pemandangan yang ada cukup menyejukan mata melihat bangunan-bangunan berjajar rapi, taman-taman yang hijau dan bersih dan tidak ada kemacetan seperti di Jakarta di sepanjang perjalanan.

Typical neighborhood in NYC's Upper West Side
New York City’s Upper West Side Area

Bagian 1 – Penginapan

Dan tibalah saya di Hosteling International (HI) New York City. Sebuah penginapan murah dimana backpacker dari berbagai negara bekumpul dan beristirahat selama berkunjung ke kota New York. Hostel ini merupakan salah satu cabang dari jaringan Hosteling International yang menyediakan penginapan murah di berbagai kota di seluruh dunia. Walau bukan penginapan termurah yang ada di kota ini, diantara berbagai pilihan hostel, tempat ini mendapat rating tertinggi dan terbanyak dari situs booking.com. Pengalaman saya menginap di Hostling international Seoul, Korea Selatan, juga menambah percaya diri saya untuk menginap di HI New York City. Informasi mengenai hostel-hostel yang dimanage Hosteling International bisa didapat disini : https://www.hihostels.com/

Kamar yang saya sewa adalah kamar dengan 5 tempat tidur tingkat. Artinya, bisa sampai 10 orang dari berbagai Negara yang tidur di kamar ini. Memang terdengar aneh dan risih tapi saya bersyukur karena rating dari situs booking.com tidak berbohong. Hostel ini sangat bersih, rapih dan terasa benar-benar didesain untuk mengakomodasi banyak orang. Tiap kamar dilengkapi dengan lemari locker, lampu tidur dan stop kontak listrik. Tersedia juga jaringan wifi gratis yang bisa diakses dari semua sudut kamar. Tidur di satu ruangan dengan 10 orang yang tidak saya kenal ternyata tidak begitu menyulitkan. Memang ada beberapa saat ketika saya terganggu suara mendengkur tetapi diluar itu sesame backpacker sepertinya sudah paham agar tidak bising dan mengganggu teman sekamar.

Kamar mandi dan toilet tersedia dengan cukup di tiap lantai, dengan fasilitas air panas dan hair dryer serta tingkat kebersihan yang membuat saya nyaman. Terdapat juga ruangan laundry yang dilengkapi dengan mesin cuci yang bisa disewa dengan memasukan “koin” beserta vending machine sabun cuci. Semua kelengkapan yang membuat seorang backpacker terbantu selama tinggal di hostel ini. Tinggal disini memang bukan pilihan yang salah!

Lantai 1 sangat nyaman dengan receptionist, lounge dan cafeteria, vending machines, dan akses gratis ke computer-komputer yang disediakan di lounge ini. Cafeteria sepertinya tersedia 24 jam dan menyajikan menu yang setara toko kue Tous les Jours di Jakarta. Hanya saja menu-menu tersebut adalah menu yang lumrah bagi penduduk New York.

Hostel's Bedroom
Hostel’s Bedroom

Bagian 2 – Sistem Kereta Api Bawah Tanah

Hari pertama ini saya rencanakan untuk menjelajahi beberapa bagian di kota New York yang dikunjungi sekitar 55 juta orang setiap tahunnya (Wikipedia). Jumlah ini menjadikan New York sebagai kota paling banyak dikunjungi di dunia. Dengan banyaknya jumlah lokasi yang bisa dikunjungi, tentunya saya harus memilih lokasi mana saja yang akan saya kunjungi dalam waktu 3 hari saya disana. Selain itu, tidak semua lokasi wisata bisa dikunjungi secara gratis.

Setelah Googling tentang lokasi vs biaya perjalanan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket bundle bernama “New York City Pass”. Bundle tiket ini menawarkan tiket ke beberapa atraksi utama di New York dengan harga yang didiskon. Dengan tiket ini, saya bisa menghemat sampai 40% dari biaya tiket atraksi jika saya membeli tiket satu per satu. Sebenarnya ada beberapa produk bundle tiket seperti New York City Pass ini tapi akhirnya saya memilih tiket ini karena daftar atraksi yang ditawarkan sesuai untuk kunjungan saya selama 3 hari ini. Daftar atraksi yang bisa dikunjungi dengan tiket ini adalah:

1. Empire State Building Observatory
2. American Museum of Natural History
3. The Metropolitan Museum of Art
4. MoMA (The Museum of Modern Art)
5. Top of the Rock atau Guggenheim Museum
6. Statue of Liberty & Ellis Island atau Circle Line Cruises

Tiket lain seperti New York Pass menawarkan atraksi yang lebih banyak dengan harga bundle yang tentunya lebih mahal. Jika ingin berkunjung lebih dari seminggu, mungkin pass ini lebih ekonomis. (http://www.newyorkpass.com/ )

Dari daftar yang diatas, saya juga memutuskan untuk menjelajahi pulau Manhattan saja. Oleh karena itu, posting kali ini umumnya membahas seputar pulau Manhattan.

Manhattan menawarkan berbagai jenis transportasi sepert kereta bawah tanah, bus, taksi, bahkan becak wisata. Sistem kereta bawah tanah di pulau ini merupakan salah satu yang tertua di dunia. Saya sering merasa tidak aman dengan rangka-rangka baja tua dan sebagian keliatan berkarat di stasiun-staisun bawah tanah di Manhattan. Di stasiun paling terkenal di Manhattan, City Central, Grand Central, saya ingat harus bejalan beberapa level ke bawah tanah dan menanti di peron yang bagian atapnya ditutupi lumut dan meneteskan air yang tidak sedikit. Saya merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera keluar dari tempat.

NYCD2010
NYC Subway Station

Umur yang tua menandakan pulau ini memiliki waktu yang panjang dalam membangun system transportasinya. Hal ini terlihat dari peta jaringan kereta bawah tanah yang menjangkau hampir semua area di pulau manhattan. Kalau saya gabungkan peta ini dengan peta jalur bis kota, saya rasa seluruh bagian manhattan tercover dengan baik. Hal ini membuat penduduk Manhattan merasakan kenyamanan dalam bergerak dari satu bagian ke bagian lain Manhattan.

Bagian 3 – Tata Kota

Kota New York merupakan kota yang sangat tua. Mulai berdiri sejak tahun 1624 di pulau Manhattan, kota ini secara visioner sudah disusun dengan system grid. Artinya, posisi jalan dan bangunan tersusun dengan sangat rapih membentuk blok-blok. Jalan-jalan di Manhattan dinamai dengan Angka dimana angka terendah berada di selatan Manhattan dan terus meningkat hingga angka tertinggi di bagian utara Manhattan. Hal ini mempermudah saya dalam menentukan orientasi selama berpetualang di Manhattan.

Bangunan-bangunan di pulau Manhattan juga banyak yang berumur sangat tua. Walaupun tua, bangunan-bangunan itu memiliki 2-3 tingkat dan berjejer rapi berupa blok-blok di kota New York. Tidak seperti Indonesia yang memiliki iklim lembab dan rawan pelapukan, bangunan-bangunan di New York sepertinya lebih mudah untuk dirawat sehingga bisa bertahan hingga ratusan tahun. Tidak adanya sumber gempa juga membuat desain bangunan jaman dulu New York masih relevan digunakan pada masa kini untuk tipe-tipe bangunan tingkat rendah.

Berjalan di trotoar kota dan mengamati bangunan-bangunan tua berarsitektur Indah juga merupakan suatu pengalaman wisata tersendiri. Sama seperti London, bangunan bata berwarna coklat, jalanan dan taman yang rapi, cuaca yang dingin, membuat saya benar-benar merasa di “Luar Negeri”. Mungkin satu-satunya tempat saya bisa merasakan suasana seperti ini di Indonesia hanya di Taman Atraksi atau cluster perumahan elit – Itu pun tanpa cuaca dingin yang hanya bisa ditemukan di Negara sub tropis.

Yellow School Bus
NYC’s Yellow School Bus

Bagian 4 – Objek Wisata di Hari ke 1

Begitulah gambaran kota New York, terutama pulau Manhattan yang saya rasakan. Lalu tempat apa saja yang saya kunjungi di hari pertama? Berikut daftarnya.

1. Apple Store Broadway

Toko Apple di Broadway ini merupakan salah satu yang paling terkenal di New York. Arsitekturnya unik dan pelayan toko yang sangat friendly merupakan hal paling berkesan bagi saya. Kunjungan saya ke sini bukan sekedar berwisata tapi juga berniat memperbaiki iPhone teman yang rusak namun masih dalam masa garansi. Proses penukaran hp sangat cepat, hanya setengah jam saja semenjak saya bertemu cust servicenya. iPhone lama langsung digantikan dengan iPhone baru tanpa ada verifikasi bon, pembeli, atau bahkan dus. Hanya ada verifikasi otomatis yang dilakukan staff toko. Acungan jempol untuk Apple di amerika!

2. American Museum of Natural History

Selesai menukarkan iPhone dan membeli beberapa aksesoris, saya memutuskan untuk memulai City Pass saya dengan mengunjungi American Museum of Natural history. Ketika mengunjungi suatu tempat, sebisa mungkin saya menempatkan Musium di daftar kunjungan pertama. Kenapa musium? Karena di tempat inilah saya bisa mendapatkan rangkuman dari sebuah kebudayaan. Saya bisa mendapatkan gambaran mengenai daerah yang saya kunjungi dan mencoba memahami seperti apa kehidupan di daerah itu.

AMNH menawarkan berbagai macam display dimulai dari masa prasejarah, geologi batuan, luar angkasa, binatang dan tumbuhan. Berkunjung ke musium ini seperti membaca artkel-artikel di majalah National Geographic. Displaynya disajikan dengan menarik dan rapih. Bahkan, Tiket City Pass memberikan saya tiket gratis untuk masuk ke teater IMAX yang masuk dalam pertunjukan khusus. Di tempat ini juga saya menyempatkan diri membeli oleh-oleh yang unik dan hanya dijual di musium ini. Salah satunya adalah baju bayi bertema flight suit NASA untuk anak saya yang saat itu baru berumur 5 bulan.

3. Times Square

Selesai menjelajahi AMNH, saya melanjutkan perjalanan ke salah satu ikon paling terkenal kota New York yaitu Times Square. Tempat ini merupakan sebuah persimpangan antara jalan broadway dan sevent avenue. Times Square merupakan salah satu persimpangan pejalan kaki terpadat di dunia. Lokasinya yang dekat dengan distrik teater Broadway, pusat hiburan dan belanja, dan sering digunakannya sebagai pusat perayaan kota menjadikan tempat ini begitu popular. Wikipedia menyebutkan ada 39 juta orang mengunjungi Times Square tiap tahunnya.

Times Square
Times Square

Selain pemandangan kota dan billboard, area di sekitar Times Square juga merupakan tempat membeli souvenir khas New York. Penjual souvenir di sini didominasi warga keturunan India/Pakistan. Pengalaman unik bagi saya adalah ketika mendapat diskon tambahan ketika berbincang dengan penjaga toko dan menceritakan bahwa saya seorang muslim. Ternyata ukhuwah Islamiyah juga ikut membantu dalam berpetualang di kota New York. Haha..

4. Empire State Building

Setelah menghabiskan 2 jam berkeliling di tempat musium, saya melanjutkan petualangan ke Empire State Building. Salah satu landmark kota New York yang sangat popular terutama melalui penampakannya dalam filem King Kong. Tujuan saya adalah menuju lantai teratas untuk menikmati pemandangan lampu-lampu kota New York. Apa daya, kondisi kabut sangat pekat di atap gedung ini membuat zero visibility. Apapun diluar batas pagar observatorium gedung ini tidak terlihat. Tapi saya tidak mempunyai pilihan karena tidak memiliki waktu lain untuk mengunjungi tempat ini, jika saya kembali di malam esok harinya, rangkaian perjalanan saya bisa terganggu. Saya pun lebih tertarik untuk berkunjung ke Top of The Rock – observatorium di atas Rockefeller Center dimana saya bisa melihat Central Park dan sekeliling kota New York.

Empire State Building
Empire State Building

Bersambung….

Advertisements

2 thoughts on “Berkunjung ke Negeri Paman Sam – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s