Metode Alternatif Belajar IELTS

Bagi pembaca yang akan melakukan studi di luar negeri berbahasa Inggris, memiliki sertifikat Bahasa Inggris seperti sertifikat IELTS biasanya merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi. Umumnya perguruan tinggi barat mensyaratkan tingkat kemampuan bahasa Inggris setara dengan nilai IELTS 6.5 dimana tiap komponen penilaian tidak boleh lebih kecil dari 6.5. Tes IELTS memang terdiri dari 4 komponen yaitu Reading, Listening, Speaking dan Writing. Luasnya aspek penilaian ini yang membuat tes IELTS cukup angker bagi banyak orang.

Selain karna tes ini dirasa cukup sulit, biaya tes IELTS juga cukup mahal yaitu skitar 2.8 juta rupiah untuk setiap tes dan bergantung pada kurs dollar. Tes IELTS akan menjadi sia-sia jika kita tidak bisa mencapai nilai yang dibutuhkan. Cerita yang beredar di salah satu penyelenggara tes IELTS, ada seseorang yang perlu melakukan tes selama 7 kali sampai akhirnya berhasil mencapai nilai yang diharapkan. Mungkin tidak sepenuhnya sia-sia karena kita akan mendapatkan pengalaman berharga mengenai bagaimana tekanan yang ada selama test ini. Tapi perlukah sampai mengeluarkan 2.8 juta hanya untuk sekedar mendapat pengalaman tes? Tentunya tidak!

Dalam artikel kali ini saya ingin sedikit berbagi mengenai bagaimana saya mempersiapkan diri menghadapi tes IELTS pertama saya (dan Alhamdulillah sepertinya tidak perlu tes kedua lagi selama 2 tahun kedepan).

Menjalani tes IELTS tidak bisa sekedar dengan percaya diri dengan kemampuan Bahasa Inggris kita karena didalamnya sangat diperlukan konsentrasi dalam mencerna instruksi soal beserta jawaban yang dibutuhkan. Situs-situs referensi IELTS secara eksplisit menyebutkan bahwa seorang native speaker Bahasa Inggris pun bisa gagal IELTS karena kelengahannya dalam membaca soal. Kegagalan mencerna instruksi soal akan menghasilkan jawaban yang salah yang tentunya akan menggerus skor IELTS kita. Sebagai gambaran, ada instruksi yang meminta kita menulis jawaban hanya dengan 2 kata. Jika jawaban kita lebih dari 2 kata maka dianggap salah. Jika kita salah ketik satu huruf, jawaban dianggap salah. Belum lagi ada beberapa pertanyaan jawaban jebakan di sesi listening yang pasti tidak akan kita kira jika kita tidak mendengarkan dengan baik-baik.

Mungkin beberapa pembaca yang mengenal tempat saya bekerja cukup heran mengapa saya terkesan khawatir saat mempersiapkan tes ini. Tapi memang seperti itulah tes IELTS, kemampuan praktis bahasa Inggris sehari-hari merupakan modal utama, tetapi kesiapan menghadapi tipe-tipe soal IELTS merupakan penentu apakah kita dapat mencapai skor yang diinginkan atau tidak.

Setelah menyadari kesulitan-kesulitan di atas, saya pun memutar otak untuk mencari cara yang murah agar saya bisa lebih siap mengikuti tes ini. Kenapa cara yang murah? Karena biaya IELTS sebesar 2.8 juta saja sudah cukup mahal, apalagi jika saya mengikuti kelas persiapan intensif selama 1 minggu yang harganya sekitar 1 jutaan untuk hasil yang belum tentu sesuai harapan. Alternatif lain yang lebih terjangkau mungkin dengan membeli buku panduan IELTS tapi dengan waktu persiapan saat itu yang hanya 1 bulan saya pun dihadapkan pada buku-buku rekomendasi IELTS yang asli dan harganya pun ratusan ribu rupiah. Selain itu karakteristik buku yang monoton juga mengurangi ketertarikan saya belajar melalui cara ini.

Dari pertimbangan-pertimbangan tadi, saya pun mencoba cara belajar lain yaitu menggunakan aplikasi iPad yang ada di apple app store. Saya berharap sistem belajar menggunakan applikasi ipad akan lebih dinamis, mudah didapat dan murah. Selain itu saya cukup percaya dengan kemampuan dasar bahsa Inggris saya untuk mencapai mencapai skor minimum. Saya menemukan beberapa aplikasi berlatih IELTS yang sebagian ditawarkan secara gratis walau hanya versi lite. Setelah mencoba beberapa aplikasi, saya memutuskan untuk membeli aplikasi bernama IELTS Skills dari Macmillan Education. (http://www.macmillaneducationapps.com/ieltsskills/)

Applikasi IELTS Skills menarik perhatian saya karena versi lite nya memberikan gambaran pembelajaran yang dinamis dan mengena (impactful) melalui aplikasi tips & trick dan simulasi tes. Aplikasi ini tidak mengajarkan kita melalui contoh soal tetapi lebih mengupas berbagai teknik dalam menyelesaikan setiap tipe soal dari mulai reading, writing, listening hingga speaking. Selain itu penggunaan aplikasi di dalam IPad membuat saya bisa berlatih kapanpun dan dimanapun saya berada. Harga versi fullnya yang sebesar Rp 89.000 akhirnya memantapkan saya untuk membeli aplikasi ini.

IELTS1
Menu Awal Aplikasi IELTS SKILS

Pada menu awal IELTS Skills terdapat 4 pilihan utama berupa komponen IETLS yang ingin kita pelajari. Tiap sub komponen terdapat berbagai tips dan trik yang disusun secara sistematis. Tiap sub komponen pun memiliki Golden Rules atau saran pamungkas yang sangat bermanfaat sebagai dasar mengikuti tes IELTS. Setiap topik yang dibahas dalam aplikasi ini dibawakan secara interaktif sehingga pembelajaran terasa lebih menarik.

IELTS2
Empat Komponen Tes IELTS

Komponen pertama adalah sesi Reading. Pada pilihan ini terdapat 5 trik utama yang terbagi menjadi Skimming, Scanning, Matching, Completing, Asnwering. Metode Skimming adalah metode mendapatkan ide besar suatu tulisan secara cepat. Applikasi ini menjelaskan beberapa langkah skimming yang membuat kita tidak harus membaca keseluruhan kata untuk mengerti maksud suatu kalimat/paragraf. Hal-hal kecil seperti fokus pada kata kerja, kata sambung atau kata sifat bisa menghemat waktu membaca kita yang tentunya sangat bermanfaat dalam menyelesaikan tes.

Metode Scanning adalah metode mencari suatu kata/ide pada soal berbentuk tulisan. Metode ini sangat bermanfaat dalam menjawab pertanyaan karena artikel soal IETLS bisa sangat panjang sedangkan kita seringkali tidak bisa memahami dan mengingat isi artikel hanya dalam sekali baca. Applikasi ini menjelaskan dalam menjawab pertanyaan, kita harus mengenal ide dasar pertanyaan ini yang biasanya dapat disingkat jadi kata kunci. Kata kunci ini kemudian kita cari dalam artikel. Kita tidak perlu membaca semua kalimat dalam satu artikel tetapi cukup mencari satu kata kuncu tersebut dan kemudian mebaca kalimat yang menaunginya. Salah satu hal yang menarik yang saya pelajari adalah scanning sebaiknya tidak dilakukan dari kiri ke kanan melainkan kanan ke kiri, zigzag, atau bahkan bawah ke atas. Hal ini dilakukan untuk menghindari otak membaca kata perkata dan meluangkan waktu lebih lama dibandingkan pencarian cepat melalui dan tidak bergantung urutan kalimat yang diberikan metode Scanning.

Fitur lain yang saya rasa sangat bermanfaat adalah simulasi tes speaking. Dalam bagian ini, kita dapat berlatih melakukan tes Speaking dengan menonton video pertanyaan si pewawancara dan merekam respon jawaban kita mirip seperti kondisi tes aslinya. Pertanyaan si pewawancara pada layar ipad kita dapat bervariasi sesuai beberapa paket latihan di applikasi ini. Selanjutnya, hasil rekaman jawaban kita dapat kembali kita putar untuk kita evaluasi. Aplikasi bagian Speaking juga menyediakan beberapa video tentang contoh baik dan buruk dalam merespon pertanyaan dalam tes speaking. Video-video ini sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi kesalahan umum yang orang lakukan pada sesi tes Speaking.

IELTS3
Berlatih Sesi Speaking dengan Simulasi Rekaman

Salah satu hal yang saya pelajari di bagian Speaking adalah untuk mencapai nilai yang cukup kita harus mengatur ritme bicara kita agar pronounciation dan struktur kalimat menjadi lebih terkontrol dan akurat. Kita tidak boleh tegang dan kita harus mengontrol nafas. Tidak perlu tergesa-gesa dalam memberikan jawaban, kita harus menunjukan bahwa kita berpikir untuk memberi jawaban dan bukan berpikir untuk menerjemahkan jawaban dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Selain itu masih banyak teknik-teknik menarik yang sangat bermanfaat saat menghadapi tes IELTS. Salah satu yang juga sangat bermanfaat adalah bagaimana kita mempelajari konsep penulisan tulisan pada sesi Writing. Aplikasi ini memberikan penjelasan tentang pengaturan waktu menulis, penulisan kerangka, perbedaan teknik membaca berbagai tipe diagram hingga contoh-contoh kalimat inti dan penghubung yang tepat untuk digunakan.

Dari beberapa fitur yang bermanfaat diatas, sayangnya ada beberapa kekurangan yang cukup mengganggu saya dalam menggunakan aplikasi ini. Salah satunya adalah instruksi latihan yang kadang sulit dimengerti. Seringkali saya harus meluangkan waktu yang lama untuk mencerna apa instuksi pada suatu sesi latihan soal. Kadang saking tidak mengertinya saya pun harus melewatkan latihan itu dan langsung melihat kunci jawabannya. Mungkin hal ini tidak akan terjadi jika pembaca benar-benar berkonsentrasi dan mengalokasikan waktu yang cukup untuk berlatih melalui aplikasi ini.

Kekurangan lain yang kadang saya alami adalah user interface yang tidak responsif. Mungkin ini disebabkan spesifikasi IPad saya yang sudah tua (generasi ke-3) sehingga aplikasi menjadi terlalu berat untuk dijalankan. Contohnya adalah ketika saya harus menghighlight kalimat dengan gramar yang salah pada sebuah paragraf. Pada latihan ini kadang sentuhan pada kalimat tidak terdeteksi sehingga saya dianggap tidak memberikan jawaban. Smoga saja hal ini tidak terjadi pada iPad generasi yang lebih baru.

Dan akhirnya saya pun melakukan test IELTS saya pada awal Desember lalu. Alhamdulillah, saya bisa mencapai nilai sedikit diatas nilai minimum yang dibutuhkan yaitu 8.5 Reading, 8.5 Listening, 7.5 Speaking dan 6.5 Writing. Keseluruhan nilai ini memberikan saya skor IELTS Band 8. Mungkin tidak semua orang mau berbagi hasil IELTS mereka tapi untuk artikel kali ini saya ingin membagi hasilnya agar pembaca bisa memiliki gambaran mengenai korelasi antara nilai IELTS dengan kemampuan praktis bahasa Inggris seseorang. Dari skor diatas, bisa dilihat bahwa puluhan artikel bahasa Inggris pada blog saya tidak menjamin saya mendapat nilai yang tinggi.

Kalau saya coba evaluasi skor Writing saya, saya menjadi terpikir kalau selama ini saya sangat bergantung pada fitur autocorrect pada MS Word dalam menghasilkan dokumen berbahasa Inggris yang akurat sehingga ketika saya harus menulis essay dengan tulisan tanggan saya mungkin kehilangan sebagian kemampuan saya. Saya juga terlalu fokus berlatih untuk sesi reading dan listening dalam aplikasi IELTS Skills karena saya selalu merasa bagian ini memiliki banyak pertanyaan jebakan. Mungkin nilai IETLS Writing saya bisa lebih baik lagi jika saya meluangkan waktu lebih banyak untuk latihan sesi ini.

Dan begitulah akhirnya cerita bagaimana saya mempersiapkan diri untuk mengikuti tes IELTS. Alhamdulillah menurut saya nilainya cukup untuk modal saya di masa depan meskipun distribusi skor per komponen yang diluar perkiraan.

Penggunaan aplikasi belajar IELTS ini tentu bukan satu-satunya metode persiapan tes IELTS. Ada banyak metode sesuai kemampuan dasar, budget dan ketersediaan waktu kita. Semoga pembaca yang sedang mempersiapkan tes IETLS nya bisa terbantu dari artikel ini. Selamat berjuang!

PS: Silahkan berbagi juga bagaimana cara pembaca mempersiapkan tes IELTS di bagian komentar dibawah.

Advertisements

2 thoughts on “Metode Alternatif Belajar IELTS

Leave a Reply to Muhammad Joe Sekigawa Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s