Selamat Datang Era Filantropis Digital, Kamu Datang di Saat yang Tepat!

soni-marcel
Kompas.com : Dari kiri, Soni (16) dan Marcel (3), anak yang ditinggal orangtua di Perumahan Bugel Mas Indah, Tangerang, Rabu (4/1/2017). Soni dan Marcel tinggal bersama Desi, tantenya yang mengidap gangguan jiwa. Kedua anak itu ditinggal sang ibu menikah lagi dan sang bapak meninggal dunia.

Minggu lalu baru saja saya mendapat “serangan jantung” lagi ketika saya membaca sebuah artikel di kompas mengenai anak 16 tahun yang mengurus sendiri adiknya yang berusia 3 tahun karena ditinggal orang tuanya. Anak ini harus bertahan hidup dengan mengandalkan pendapatannya sebagai asisten warung dengan upah 20.000 rupiah per hari. Yang lebih berat lagi adalah ketika sang anak ini terpaksa tinggal di rumah tak terurus bersama tantenya yang diduga mengidap penyakit jiwa.

Sungguh malang nasibmu nak. Saya tidak berani mebayangkan hari-hari berat yang harus anak itu jalani saat anak-anak lain mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari keluarganya. Sungguh bangsa ini telah bersalah karena membiarkan kejadian ini terjadi tepat di halaman belakang rumah kami.

Fenomena Gunung Es

Tragedi pada anak ini mewakili tragedi pada banyak anak malang di Indonesia. Bagaikan fenomena gunung es, kasus seperti ini merupakan bagian kecil dari kasus-kasus lain yang tidak terungkap ke masyarakat luas.Masih ingat kasus anak yang harus mengurus sendiri ibunya yang sakit? Atau kasus balita terinfeksi HIV dikucilkan hingga akhirnya meninggal? Kasus dik Arif yang sakit Hidrosefalus-nya terlantar tanpa pengobatan berarti selama 11 tahun lamanya?

Hal ini yang selalu membuat saya mendapat “serangan jantung” karena saya selalu berpikir tiap ada satu kasus yang terungkap pasti ada banyak kasus lain yang tidak terkisahkan ke masyarakat luas.

Mengapa masyarakat perlu mengetahui tragedi-tragedi seperti ini? Karena dengan mengetahui, masyarakat akan memiliki rasa kesadaran untuk bertanggung jawab dan bergerak membantu anak-anak yang mengalami kesulitan ini. Semakin banyak orang yang mengetahui permasalahan ini, semakin banyak pula pihak yang bisa bekerja sama untuk mengatasi kasus-kasus seperti ini.

Kasus Soni dan Marcel bukan tanpa perhatian tetangga. Selama ini ada tetangga yang berhati mulia dengan mencoba membantu sebisanya. Tapi harus disadari bahwa kemampuan membantu seseorang bisa terbatas. Mereka yang peduli pun kerap dihadapkan pada keterbatasan ekonomi. Terlebih lagi karena kasus seperti ini sering terjadi pada orang dengan masalah ekonomi yang juga berada di lingkungan yang belum cukup mapan secara ekonomi.Tersebarnya berita Soni dan Marcel membuat tanggung jawab membantu mereka dibagi dengan orang-orang yang memiliki kemampuan lebih untuk membantu sesama.

Peran Media Sosial

Hanya beberapa hari semenjak saya mendapat “serangan jantung” mengenai Soni dan Marcel, semangat saya pun terangkat ketika ada relawan yang membuat penggalangan dana di Kitabisa.com untuk membantu kedua kakak beradik itu. Selang sehari kemudian bahkan isu ini sudah sampai ke telinga pemerintah sekitar termasuk Mentri Sosial hingga mereka turun langsung untuk mencari solusi yang terbaik. Tidak sampai seminggu penggalangan dana melalui Kitabisa sudah mencapai 170 juta rupiah! Tidak sampai seminggu pula Soni dan Marcel sudah ditangani dinas sosial melalui program perlindungan anaknya. Sungguh respon yang sangat cepat dan mungkin tidak akan terwujud jika kejadian ini terjadi 10 tahun yang lalu!

Salah satu penyebab munculnya kesigapan masyarakat dan pemerintah untuk tragedi seperti ini adalah karena masifnya penyebaran informasi terkait melalui media sosial.

Kisah Soni dan Marcel berawal dari postingan video instagram salah satu tetangganya yang merekam kondisi Soni yang duduk dan berpakaian lusuh di halaman rumah yang tak terurus. Rekaman video ini juga disertai caption yang menggambarkan kondisi kesulitan anak ini dan dimana lokasinya.

Postingan ini kemudian menjadi viral di media sosial hingga kemudian dikutip Kompas.com dan berita-berita online lainnya. Artikel seperti Kompas.com tentang Soni dan Marcel ini direpost oleh banyak orang di timeline Facebook. Bahkan beberapa teman saya yang di luar negeri pun mengubungi saya untuk mencari informasi lebih tentang bagaimana mereka bisa membantu.

Sungguh hal yang menakjubkan friends! Selang beberapa hari saja, sebuah postingan video yang tidak sampai 1 menit tadi bisa menggerakan banyak nurani orang Indonesia.

Mungkin masyarakat ini sudah lelah menggunakan media sosial sebagai sarana pamer atau menghujat. Kita mungkin mulai berpikir bagaimana cara membuat waktu kita di media sosial lebih berarti. Saya sangat bersyukur banyak dari kita memilih untuk peduli dan menyebarkan berita tragedi seperti ini di media sosial kita.

IG_Soni_Marcel.JPG
Instagram ekasukmawati90 : Salah satu informasi awal yang mengkisahkan perjuangan Soni dan Marcel

Filantropis Digital

Kasus Soni dan Marcel merupakan salah satu bukti keberhasilan media sosial sebagai sarana Filantropi atau aktivitas membantu sesama manusia.

Selain sharing artikel berita online, beberapa orang yang peduli sesama juga membagian posting berupa cerita orang-orang dalam kesulitan yang mereka temui di lingkungannya masing-masing. Posting ini sering dilengkapi foto dan lokasi orang yang perlu dibantu. Seperti yang tetangga Soni dan Marcel lakukan melalui Instagram.

Mungkin beberapa orang mengganggap skeptis postingan cerita seperti ini. Beberapa menganggap bahwa kegiatan membantu orang sebaiknya tidak dipublikasikan. Atau beberapa menganggap orang harus berbuat lebih daripada menshare pengalamannya bertemu orang yang kesulitan.

Tapi, Saya sungguh sangat mengapresiasi orang-orang yang berani memposting cerita seperti ini. Menurut saya, mereka adalah orang-orang hebat yang peduli terhadap kondisi lingkungan. Saya yakin tidak mudah untuk berhenti sejenak dari aktivitas sehari-hari dan mengamati kondisi sekitar untuk kemudian menyadari bahwa ada orang yang sedang mengalami masalah yang lebih berat dari kita. Akan lebih sulit lagi untuk tergerak memastikan bahwa masalah itu benar-benar ada dan bukan upaya penipuan seperti banyak yang pengemis-pengemis musiman lakukan saat bulan puasa.

Menurut Saya tidak salah untuk mengganggap orang-orang seperti ini sebagai Filantropis digital. Mereka peduli terhadap manusia lain yang mengalami kesulitan dan berusaha membantu sebisa mereka, salah satunya lewat aktivitas mereka di media sosial.

Mereka rela menunjukan sikap peduli melalui percakapan dengan orang yang kelihatan sedang mengalami kesulitan. Mereka coba memahami kondisi yang ada, berusaha membantu sesuai kapasitas pribadi dan juga membagikan info masalah yang ada di Media sosial. Seringkali saya melihat postingan seperti ini direspon oleh banyak orang sehingga berujung pada aksi dermawan yang berdampak positif. Tepat seperti kasus Soni dan Marcel.

Masa Depan Filantropi Digital

Dapatkah era Filantropis Digital tumbuh dan semakin berpengaruh? Saya tidak tahu. Tapi saya percaya bahwa filantropi digital merupakan inisiatif yang harus didukung.

Disaat kita tidak bisa berharap banyak pada pemerintahan republik ini, siapa lagi yang bisa menolong orang-orang seperti Soni dan Marcel kalau bukan kita-kita ini? Bukankah kota-kota besar bertindak sebagai pusat uang yang sering terputus dengan realita musibah kaum dhuafa?

Menurut saya filantropi digital akan menjadi metode efektif untuk menghubungkan para eksekutif perkotaan dengan kaum tak beruntung ini. Kemajuan teknologi komunikasi didukung dengan pertumbuhan ekonomi golongan menengah Indonesia bisa menjadi bahan bakar tumbuhnya gerakan filantropi digital. Terlebih lagi kita berada pada masa dimana timeline media sosial dipenuhi dengan berita-berita hoax yang merusak persatuan. Filantropi digital bisa menjadi obat yang menyatukan bangsa dan mendorong peningkatan produktifitas masyarakat Indonesia.

Memang dalam pelaksanaannya aktivitas filantropi digital memiliki resiko misinformasi yang bisa berujung pada penyaluran bantuan yang tidak tepat. Aktivitas yang melibatkan media digital memiliki keterbatasan dalam hal keterhubungan antara pihak-pihak yang terkait. Tidak seperti donasi langsung yang umumnya terlihat bentuk fisik dan asal usulnya, filantropi digital dihadapkan pada keterbatasan interaksi menjadi sebatas media yang diakses melalui komputer/smartphone. Di satu sisi memang memudahkan tapi di sisi lain berpotensi untuk berujung pada penipuan seperti pelajaran dari kasus berita hoax yang saat ini sedang ramai beredar di media sosial.

Tapi setiap perjuangan selalu disertai dengan resiko. Dan setiap resiko bisa dikelola untuk menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar. Selama belum ada sistem yang baik dari pemerintahan kita, filantropis digital dapat menjadi investasi yang tepat untuk menjangkau sodara-sodara kita yang sedang dalam musibah. It’s really worth the risk!

Semoga dengan inisiatif filantropi digital ini kasus seperti Soni dan Marcel akan terus berkurang hingga akhirnya hilang dari bumi Indonesia ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s