Mengapa Saya Memilih Keselamatan Keluarga dot Com

Sudah dua bulan lebih semenjak saya mempublish artikel terakhir di Blog ini. Harus saya akui saya sempat lupa user id dan password blog ini sampai saya butuh beberpa kali untuk bisa masuk. Sungguh hal yang tidak saya inginkan terlebih setelah saya menset target untuk mempublish artikel di web ini minimal sebulan sekali.

Tapi… saya pun tidak memulai tulisan ini dengan penuh kekecewaan. Saya menyadari jeda nya saya dalam menulis di achmadsya.wordpress.com bukan karena alasan tidak produktif.. jeda ini karena saya sedang mengkonsentrasikan pikiran dan usaha untuk suatu hal yang saya yakini bermanfaat bagi saya dan orang banyak.

Saya dan rekan-rekan sedang merintis suatu website, yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia untuk mewujudkan lingkungan yang aman dan selamat bagi diri pribadi dan keluarga tercinta. Website ini mengenalkan kita pada potensi-potensi bahaya yang ada di sekitar kita, di lingkungan yang setiap hari kita hadapi seperti rumah, sekolah jalan raya, dan juga mencoba mendiskusikan cara-cara yang bisa dilakukan dalam menghadapi potensi bahaya sehari-hari ini.

Keamanan dan keselamatan merupakan kebutuhan dasar umat manusia. Sayangnya, budaya menciptakan lingkungan yang aman dan selamat masih belum menjadi pondasi bermasyarakat. Banyak sekali hambatan-hambatan yang membuat keamanan dan keselamatan menjadi hal yang mewah di negeri ini. Contohnya, tragedi beredarnya vaksin palsu lalu yang mengancam masa depan anak-anak di negeri ini, tewasnya pejalan kaki akibat kabel listrik yang dibiarkan terbuka di trotoar, tenggelamnya anak di kolam renang umum karena tersedot saluran pompa air, dan banyak kecelakaan-kecelakaan tidak perlu lainnya yang semestinya bisa kita hindari.

Sungguh tidak tepat ketika penjelasan atas kecelakaan semata-mata hanya menyalahkan takdir atau jalan tuhan. Apakah kita yakin usaha yang kita lakukan untuk mencegah suatu kecelakaan sudah benar-benar maksimal? Kelalaian seperti apa yang bisa ditolerir untuk menyebabkan kematian? Bahkan, kematian akibat kecelakaan-kecelakaan ini terus terjadi karena kasus yang sama, seolah-olah tidak ada pembelajaran bagi siapapun yang terdampak.

Dari sinilah saya berpikir bahwa ada hal dasar yang keliru pada masyarakat kita. Kita kekurangan rasa tanggung jawab terhadap nyawa seseorang. Kita masih melihat sebuah kecelakaan sebagai sebuah “kecelakaan” yang tidak ada kuasa manusia untuk mencegahnya.

Akan tetapi, sesungguhnya pada setiap kecelakaan terdapat keterlibatan manusia di dalamnya. Beberapa kasus anak yang tenggelam di kolam renang karena tersedot saluran air buang mungkin bisa dihindari jika desain kolam memperhitungkan kemungkinan anak tersedot. Pengelola tentunya harus paham tentang aturan desain ini dan mengeluarkan anggaran lebih untuk menjamin kolamnya aman. Di lain pihak, orang tua anak pengguna kolam renang juga mungkin tidak begitu teredukasi mengenai potensi bahaya tenggelam terutama pada anak. Siapa yang menyangka kolam yang begitu tenang bisa menyimpan potensi bahaya? Apakah orang tua akan membiarkan anak berenang tanpa terawasi jika mengetahui potensi bahaya tersedot saluran air?

Contoh diatas menunjukan bahwa kecelakaan sangat bisa dihindari. Kematian yang tidak perlu sangat bisa dihindari. Kuncinya adalah kesadaran masyarakat mengenai potensi bahaya di sekitar kita yang bahkan bisa bersumber hal yang tidak pernah kita sadari sebelumnya. Kesadaran ini akan berujung pada tumbuhnya rasa tanggung jawab untuk membuat lingkungan yang aman dan selamat.

Pemikiran inilah yang membuat saya dan rekan-rekan sangat bersemangat untuk menjalakan situs http://www.keselamatankeluarga.com . Pada dasarnya kami ingin memberikan lingkungan yang lebih aman bagi kami dan keluarga kami. Tapi, keamanan dan keselamatan tidak akan pernah bisa dibangun secara individu. Kerjasama kolektif masyarakatlah yang bisa benar-benar mewujudkan lingkungan yang aman dan selamat secara menyeluruh. Situs Keselamatan Keluarga diharapkan bisa menjadi salah satu mesin pendorong inisiatif ini.

Keselamatan Keluarga dot Com

Sempat ada pikiran apakah saya dapat benar-benar memberikan sesuai yang berarti bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Tapi, saya sadar bahwa berbuat sesuatu yang belum tentu berhasil akan lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali. Saya tidak bisa berbuat banyak tapi setidaknya saya bisa menyumbangkan sedikit pengetahuan dan pemikiran saya dengan bantuan teknologi internet. Saya ingin dapat berdiri tegak dan mengatakan “Saya sedang melakukan apa yang saya bisa” ketika saya membaca berita tentang kecelakaan-kecelakaan di sekitar saya.

Inilah mimpi saya dan rekan-rekan. Semoga Indonesia menjawabnya dengan hadirnya lingkungan yang lebih aman dan selamat. Amiin.

Advertisements

Menerawang Kondisi Sektor Energi Dunia Tahun 2035

 

Pernahkah kita membayangkan seperti apa kondisi supply dan demand energi dunia dua puluh tahun yang akan datang? Berapakah persentase suplai minyak dibanding suplai sumber energi lainnya seperti batu bara dan nuklir? Negara manakah yang akan memiliki pertumbuhan kebutuhan energi terbesar? Apakah bisnis di bidang energi akan tetap menjanjikan terutama ditengah kelesuan harga minyak saat ini?

Mungkin bagi sebagian besar orang, pertanyaan-pertanyaan diatas bukanlah pertanyaan yang harus serius dijawab. Akan tetapi, jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas sangatlah penting bagi mereka yang bergerak di bidang kebijakan yang mempengaruhi orang banyak. Energi adalah tenaga penggerak yang membuat manusia dapat beraktivitas melakukan hal-hal yang harus mereka lakukan. Tanpa energi, tidak akan ada pergerakan manusia, tidak akan ada aktivitas manusia dan akhirnya mungkin tidak akan ada manusia.

Dalam konteks dunia modern, energi digunakan untuk menggerakan alat-alat yang mendukung aktivitas manusia. Energi ini ini dapat berasal dari bahan bakar fosil, seperti minyak dan gas, ataupun energi non fosil seperti tenaga angin, tenaga matahari atau tenaga nuklir. Dunia modern sangat tergantung pada ketersediaan energi untuk menunjang kelangsungan hidup manusia di dalamnya.

 bp Energy Outlook 2035

Pengetahuan tentang kondisi energi dunia sangatlah penting untuk menjamin keberlanjutan sumber energi suatu badan yang mengayomi orang banyak seperti sebuah negara atau sebuah perusahaan besar di bidang energi seperti BP. Oleh karena itu BP memiliki tim khusus yang bertugas mengamati dan memprediksi perkembangan sektor energi di masa depan. Tim ini terdiri dari pakar-pakar yang dipimpin oleh seorang ekonom bernama Spencer Dale yang pernah menjadi Direktur Eksekutif untuk Financial Stability di Bank of England. Tugas utama tim ini adalah memberikan masukan ekonomi dan pola perkembangan sektor energi dunia kepada para pembuat keputusan di BP. Tim ini memiliki tugas yang sangat besar mengingat pengaruhnya terhadap kebijakan perusahaan dengan perputaran investasi dan sumber daya yang sangat besar – hingga ratusan triliun rupiah per tahun.

Metode Studi

Salah satu buah pemikiran tim ekonom bp itu dituangkan kedalam laporan BP Energy Outlook 2035. Laporan ini merupakan hasil studi yang berusaha memprediksi skenario paling mungkin dalam perkembangan supply dan demand sektor migas 20 tahun kedepan. Dalam studi ini digunakan istilah Base Case atau asumsi dasar yang merupakan skenario paling mungkin dan mendapat porsi pembahasan terbesar. Skenario Base Case kemudian didukung dengan 3 skenario lainnya yang berusaha memprediksi kondisi sektor energi jika : Skenario 1, Laju pertumbuhan GDP yang lebih lambat dari asumsi studi, Skenario 2, penurunan emisi karbon dibutuhkan menjadi lebih cepat dan Skenario 3, Shale Oil dan Shale Gas menyimpan potensi yang lebih besar sehingga mengakibatkan porsi pertumbuhan yang lebih tinggi.

Studi Energy Outlook 2035 disajikan dengan informatif dan menurut saya akan mudah dicerna oleh orang-orang yang bergerak di sektor energi. Saya sendiri cukup salut dengan bp yang mau mengalokasikan sumberdayanya untuk berbagi hasil analisis ini. BP bahkan menyediakan data-data statistik dan pembahasan studi dengan cara yang informatif dan enak untuk dilihat. Cuplikan video dibawah memberikan poin inti dari hasil study BP Energy Outlook.

Dalam artikel kali ini saya akan mencoba menceritakan rangkuman hasil studi dalam bahasa Indonesia. Untuk informasi lengkapnya silahkan mengunjungi situs bp Energy Outlook 2035 pada halaman dibawah ini.

http://www.bp.com/en/global/corporate/energy-economics/energy-outlook-2035.html

Poin-poin utama pandangan energi 2035 pada studi bp Energy Outlook 2035 :

  • Studi Energy Outlook menggunakan asumsi Skenario Base Case yang merupakan skenario yang paling mungkin terjadi pada perkembangan sektor energi dunia. Skenario ini disusun dengan mempertimbangkan kemungkinan perkembangan di bidang regulasi & Kebijakan-kebijakan, teknologi dan ekonomi. Skenario ini didukung 3 skenario alternativ untuk memperhitungkan faktor ketidakpastian.
  • Pada skenario Base Case, GDP dunia diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2035. Akan tetapi laju pertumbuhan kebutuhan energy hanya sepertiga (+- 34%) dibanding laju pertumbuhan pada periode tahun sebelumnya. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan dikarenakan penggunaan energi yang semakin efisien.
GDP
Pertumbuhan GDP – bp Energy Outlook 2035
  • Bahan bakar fosil akan tetap menjadi urutan pertama penyokong suplai energi dunia dimana proporsinya 80% terhadap total suplai energi dunia pada tahun 2035. Bahan bakar fosil juga akan memiliki penambahan penggunaan terbesar dibanding sumber energy lainnya yaitu sebesar 60% pada tahun 2035.
Fuel Mix
Proporsi Pasokan Sumber Energi 2035 – bp Energy Outlook 2035
  • Bahan bakar gas akan menjadi sumber energi berbasis fosil yang tumbuh paling cepat dibandingkan sumber-sumber energi lainnya (1.8% p.a. dibandingkan minyak 0.9% p.a. dan batu bara 0.5% p.a.). Hal ini karena semakin melimpahnya ketersediaan gas melalui Shale Gas dan LNG dan juga karena regulasi lingkungan yang semakin mendukung energi rendah emisi.
  • Kondisi pasar di bidang minyak akan berubah menjadi lebih seimbang karena harga minyak saat ini yang murah akan meningkatkan permintaan minyak tapi sebaliknya akan mengurangi pasokan minyak.
  • Kebutuhan minyak akan meningkat sekitar 20 juta barrel/hari. Pertumbuhan akan terpusat di Asia untuk transportasi dan Industri. Pertumbuhan Shale Oil akan terus berlanjut tetapi dengan laju yang melambat.
  • Perubahan ekonomi Tiongkok akan menyebabkan pertumbuhan kebutuhan energy Tiongkok menurun secara drastis. Penurunan ini akan terjadi terutama pada energi dari batu bara yang pertumbuhannya pada 2035 diperkirakan hanya seperlima dari pertumbuhan selama 20 tahun belakangan (0.5% p.a dibandingkan 2.9 % p.a).
Coal
Pertumbuhan Sumber Energi Batu Bara – bp Energy Outlook 2035
  • Energi terbaharukan akan tumbuh dengan pesat dan diperkirakan tumbuh hampir empat kali lipat sampai tahun 2035 yaitu 285%. Khusus di bidang pembangkit listrik, energi terbaharukan akan menjadi energi dengan laju pertumbuhan terbesar ketiga dibanding sumber energi lainnya.
Renewable
Pertumbuhan Energi Terbaharukan – bp Energy Outlook
  • Laju pertumbuhan emisi karbon akan berkurang menjadi setengahnya dibanding periode 20 tahun yang lalu (0.9% p.a. dibandingkan 2.1% p.a. pada periode 20 tahun sebelumnya). Hal ini disebabkan oleh penggunaan energi yang semakin efisien dan juga perubahan distribusi penggunaan bahan bakar menjadi yang lebih rendah emisi. Akan tetapi, emisi karbon akan terus meningkat dan diperlukan langkah-langkah selanjutnya untuk mengekang perumbuhan emisi karbon.

Dari rangkuman pembahasan diatas, studi Energy Outlook 2035 bp menyajikan tiga kesimpulan utama yaitu :

  1. Kebutuhan energi global akan terus meningkat – hal ini seiring dengan peningkatan aktivitas manusia yang sejalan dengan peningkatan kondisi ekonomi dunia
  2. Distribusi penggunaan bahan bakar penyedia energi akan berubah secara signifikan – batu bara akan semakin terpuruk, energi terbaharukan akan semakin meningkat tapi minyak & gas akan stabil dan tetap menjadi yang paling dominan.
  3. Laju pertumbuhan emisi karbon dunia akan menurun secara drastis – tetapi tetap tinggi jika tidak ada regulasi yang lebih membatasi pertumbuhannya

 

Pembaca pasti bertanya-tanya apa dasar kesimpulan-kesimpulan diatas? Tentunya bp sudah melakukan studi yang solid dan dilengkapi dengan data-data yang komprehensif. Semuanya bisa didapat dari link BP Energi outlook diatas. Hal yang menarik dari studi ini adalah bp menyediakan data pembanding mengenai prediksi sektor energi dunia yang disediakan oleh beberapa lembaga ternama dunia seperti IEA dan MIT. Perbandingan beberapa parameter utama bisa dilihat pada grafik dibawah.

Comparison
Perbandingan Hasil Studi – bp Energy Outlook 2035

Keterangan : IEA : International Energy Agency, MIT : Massachusetts Institute of Technology, IEEJ : Institute of Energy Economics Japan.

Dilihat dari data diatas, sepertinya prediksi bp cukup senada dengan prediksi dari sumber-sumber lainnya. Memang ada variasi tetapi ini sangatlah lumrah karena studi prediksi selalu memiliki faktor-faktor ketidakpastian yang pengolahannya bisa sangat bergantung kepada masing-masing pelaku studi. Dalam membandingan data dengan lembaga lain, bp menyajikan beberapa keterangan yaitu :

  • Semua lembaga analis memberikan kesimpulan yang sama bahwa pertumbuhan kebutuhan energi akan disokong oleh emerging markets (negara-negara yang industrinya berkembang dengan pesat seperti Tiongkok dan India). Negara-negara maju seperti yang tergabung kedalam OECD malah menunjukan perlambatan atauh bahkan penurunan laju prtumbuhan kebutuhan energi.
  • Lembaga analis memberikan kesimpulan yang sama bahwa sumber energi gas akan memiliki pertumbuhan yang pesat. Selain itu, minyak akan tetap tumbuh dengan stabil.
  • Perbedaan prediksi diakibatkan perbedaan beberapa asumsi kunci seperti : ketersediaan dan harga suplai migas, laju pengaplikasian teknologi baru, laju pertumbuhan Tiongkok, dan dampak kebijakan seputar energi di masa datang.

 

Tanggapan penulis

Saya semakin takjub dengan luasnya cakupan diskusi seputar energi seiring saya membaca laporan bp Energy Outlook 2035. Sektor energi akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi negara-negara yang berkembang pesat seperti Tiongkok. Kita sudah bisa melihat bagaimana kelesuan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi global. Kita juga bisa melihat bagaimana regulasi perubahan iklim bisa mendorong tumbuhnya energi terbaharukan seperti Tenaga Angin dan efisiensi kendaraan bermotor di negara-negara maju. Dan kita juga sangat merasakan dampak berlimpahnya suplai minyak akibat shale oil mengakibatkan turunnya harga bahan bakar minya. Energi memang sangat penting bagi manusia yang bahkan bisa sampai mempengaruhi tindak laku negara dalam level kebijakan internasionalnya.

Lalu bagaimana kita melihat laporan ini dalam kaitannya dengan Indonesia? Setidaknya ada beberapa poin yang ingin saya bagi.

  1. Indonesia diprediksikan masih belum bisa menaklukan dominasi Tiongkok dan India dalam skala ekonomi di kawasan Asia. Dalam laporan lebih banyak dibahas mengenai laju pertumbuhan kebutuhan energi Tiongkok dan India sebagai pendorong utama di kawasan Asia. Hal ini memang cukup jelas dengan melihat iklim sektor industri kita yang belum mumpuni untuk lompatan skala besar.
  2. Indonesia sebagai salah satu produsen batu bara yang besar harus bersiap dengan kelesuan pasar batu bara yang lebih parah lagi. Laporan studi memprediksi kalau batu bara akan terus terpuruk karena regulasi dan kesadaran mengenai emisi karbon yang meningkat dan ketatnya persaingan dengan sumber energi minyak dan gas dan energi terbaharukan. Akan tetapi batu bara masih bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi nasional jika Indonesia masih bisa mentoleransi besaran emisi karbon yang dihasilkan dari sumber energi batu bara.
  3. Pasar gas akan terus tumbuh dan Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapat porsi penyedia gas dunia. Laporan studi menjelaskan bahwa sumber energi gas akan tumbuh paling pesat dibanding sumber energi lainnya. Indonesia masih memiliki potensi cadangan gas yang menarik untuk diolah.
  4. Pasar minyak akan kembali seimbang – kita akan melihat kenaikan harga minyak ke level yang lebih rasional yang membuat eksplorasi dan produksi minyak kembali jalan dengan laju yang wajar. Kita harus bersiap menghadapi kenaikan harga BBM yang kemungkinan besar meningkatkan inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Demikianlah sharing saya tentang laporan studi bp Energy Outlook 2035. Saya harap artikel ini bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Silahkan manfaatkan artikel ini sebaik yang pembaca perlukan tapi mohon dicantumkan referensi terhadap blog ini agar bisa dipertanggung jawabkan seandainya ada kekeliruan di kemudian hari atas data/pendapat yang ditulis.

Referensi : bp Energy Outlook 2035 (2016 edition)

 

 

Catatan : Informasi/pendapat yang ada di blog ini dan tidak terdapat pada situs BP Energy Outlook 2035 adalah merupakan pendapat penulis dan mungkin tidak merepresentasikan pendapat/informasi dari bp.

Tentang Peta Gempa Indonesia Terbaru Edisi SNI 1726 2012

Berawal dari komentar salah satu pengunjung blog pada postingan Apa itu Peta Gempa Indonesia, saya menjadi teringat untuk mengupdate tulisan di blog itu agar lebih relevan dengan standar perencanaan terkini. Dalam post ini saya ingin berbagi pemahaman saya dan berdiskusi dengan pembaca tentang pembaharuan dari Peta Gempa Indonesia edisi 2002 menjadi edisi 2010 yang diterbitkan kementrian PU pada tahun 2010 lalu. Peta gempa ini kemudian dilengkapi menjadi SNI 1726 tahun 2012 mengenai Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung . (Baca : Ringkasan Hasil Studi Revisi Peta Gempa 2010)

Peta Gempa Cover

Peta gempa, sebagaimana standar perencanaan desain teknik sipil lainnya, perlu diperbaharui berdasarkan perkembangan keilmuan dan pengalaman di lapangan. Peta gempa terbaru edisi 2010 dan dilengkapi kedalam SNI 1726 2012 diterbitkan dengan harapan mendapatkan prediksi beban gempa yang lebih akurat agar bangunan menjadi lebih handal (reliable) pada saat mengalami gempa rencana (Ibnu Rusydy : Dapatkah Gempa Diprediksi?). Gempa sendiri adalah fenomena alam yang belum sepenuhnya dipahami, sangat banyak variable yang bisa mempengaruhi beban gempa pada suatu gedung oleh karena itu tiap perkembangan ilmu dan informasi baru di lapangan sangat penting dalam menghasilkan desain bangunan yang lebih handal.

Baca juga : Pashima instant anti ribet

Meskipun peta ini diterbitkan 5 tahun lalu, saya rasa peta ini belum sepenuhnya diaplikasikan pada dunia perteknik-sipilan Indonesia oleh karena itu saya rasa tetap perlu untuk mengingatkan pentingnya mengikuti peta dan standar perencanaan gempa terbaru. Memang peta gempa dan standar perencanaan gempa pada SNI 1726 2012 terlihat lebih rumit jika dibandingkan dengan edisi 2002. Peta gempa SNI 1726 2012 dibuat setara dengan standar perencanaan ASCE 7-10 (hampir bisa disamakan dengan IBC2009) sedangkan peta gempa edisi 2002 dibuat setara dengan UBC-97. Untuk mencapai ASCE 7-10 (atau IBC 2009), standar perencanaan gempa dari UBC-97 mengalami paling tidak dua kali pembaharuan ASCE yaitu ASCE 7-05 dan ASCE 7-10, dan empat kali pembaharuan IBC yaitu 2000, 2003, 2006 dan 2009. Dalam pembaharuan dokumen-dokumen diatas tentunya banyak hal yang berubah dan mungkin menjadi lebih kompleks lagi.

Dalam tulisan ini, saya ingin memfokuskan bahasan pada perbedaan peta gempa SNI 1726 2012 dengan 2002 dalam hal konsep penurunan beban gempa akibat percepatan di batuan dasar (PGA). Saya akui bahwa tingkat pemahaman saya hanyalah sebatas praktisi dan bukan sampai tahapan pakar dalam bidang kegempaan jadi saya sangat menerima koreksi/masukan pembaca agar artikel ini bisa lebih akurat dan bermanfaat lagi bagi komunitas teknik sipil Indonesia. Saya juga akan memisahkan antara peta gempa 2010 dengan SNI 2012 karena pada awal diterbitkannya, peta gempa edisi 2010 belum mengadopsi konsep uniform risk seperti yang akan saya jelaskan pada tulisan ini. Peta gempa pada SNI 2012 lah yang merupakan penyempurnaan dari peta gempa 2010 dengan menambahkan konsep uniform risk.

Sebelumnya silahkan baca postingan saya sebelumnya berikut untuk mendapatkan gambaran singkat tentang apa itu peta gempa dan bagaimana peta gempa edisi SNI 1726 2002 diturunkan. (Achmadsya : Apa Itu Peta Gempa Indonesia???)

Berikut beberapa perbedaan Utama pada Peta Gempa Indonesia edisi edisi SNI 1726 2012 dengan edisi 2002.

1. Periode Ulang

Perbedaan pertama adalah pada periode ulang, SNI 2002 menetapkan resiko terjadinya gempa diatas gempa rencana (probability of exceedance) sebesar 10% dalam 50 tahun. Dengan persyaratan ini, periode ulang gempa yang berdasarkan Annual Probability of exceedance menjadi

10%/50 = 0.2 %. Dengan persamaan mencari probablity of exceedence berikut, R = 1-(1-1/T)^n maka didapat T = 475 tahun atau dibulatkan menjadi 500 tahun.

Pada SNI 2012, probability of exceedance diambil sebesar 2% dalam 50 tahun. Dengan persamaan yang sama, didapat periode ulang gempa sebesar 2.475 tahun atau dibulatkan menjadi 2500 tahun.

Perbedaan probability of exceedance merupakan faktor langsung terhadap berubahnya periode ulang. Semakin kecil probability of exceedance semakin besar periode ulang. Semakin kecil probability of exceedance, semakin kecil kemungkinan terjadi gempa diatas gempa rencana sehingga kita semakin terhindar dari kejadian gempa.

Perlu dipahami bahwa konsep ini adalah konsep probabilitas berdasarkan statistik. Periode ulang gempa 2500 tahun bukan berarti gempa hanya akan terjadi setiap 2500 tahun. Periode ulang ini digunakan untuk lebih mudah menjelaskan bahwa kemungkinan tahunan (annual probability) sesuatu adalah sebesar 1/2500 = 0.0004.

2. Pendekatan Deterministic

Jika pada peta gempa 2002 lebih menekankan pada konsep probabilistic dalam menentukan besaran gempa melalui Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), edisi 2010 menambahkan satu konsep yang disebut Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA). Pada konsep ini, probabilitas gempa tidak hanya diturunkan dari statistic terjadinya gempa yang tercatat. Probabilitas juga diturunkan dengan mengidentifikasi adanya subduksi lapisan bumi dan sesar aktif (active faults) pada suatu wilayah.

Dari identifikasi subduksi dan sesar, para analis dapat mengestimasi berapa kemungkinan magnitude gempa maksimal dan dimana lokasinya berdasarkan pemahaman karakteristik subduksi dan sesar yang ditinjau. Hal ini bisa dilakukan karena para ahli geologi telah mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik suatu subduksi/sesar (seperti kecepatan pergseseran, arah geser dan kondisi geologi) sehingga bisa membuat model yang bisa memprediksi besaran maksimum gempa yang terjadi.

Tim revisi peta gempa Indonesia tahun 2010 menyatakan bahwa konsep PSHA dan DSHA adalah saling melengkapi. Tim revisi menyatakan “Hasil DSHA dapat diverifikasi dengan PSHA untuk memastikan bahwa kejadian tersebut masih realistik atau mungkin terjadi. Sebaliknya, hasil analisis PSHA dapat diverifikasi oleh hasil analisis DSHA untuk memastikan bahwa hasil analisis tersebut rasional”. Prof Masyhur mengatakan dalam beberapa seminar yang dibawakannya bahwa pendekatan deterministic akan lebih baik dalam memberikan estimasi terjadinya gempa untuk daerah di sekitar subduksi atau sesar yang sudah teridentifikasi dengan baik. Pendekatan ini mungkin tidak tepat jika digunakan di daerah yang jauh dari subduksi dan sesar oleh karena itu digunakanlah pendekatan probabilistic. Peta gempa edisi 2010 menggunakan kedua konsep ini untuk memberikan percepatan gempa yang lebih representative dimana gempa rencana diambil berdasarkan nilai minimal dari hasil Deterministik dan Probabilistik.

3.Uniform Hazard vs Uniform Risk

Salah satu konsep yang baru diaplikasikan kedalam peta gempa SNI 1726 2012 adalah konsep building fragility (kerentanan). Saya belum sepenuhnya paham mengenai konsep ini tapi saya akan coba menjabarkan beberapa temuan yang saya dapat berdasarkan studi literature pada kode ASCE 7-10 dan paper-paper pendukungnya.

Peta gempa SNI 2002 berdasarkan pada konsep uniform hazard dimana beban gempa didasarkan pada potensi gempa yang sama untuk semua wilayah. (potensi disini maksudnya potensi 10% probability of exceedence dalam 50 tahun). Peta gempa SNI 1726 2012 mengadopsi konsep uniform risk yang artinya beban gempa didasarkan pada resiko keruntuhan bangunan yang sama yang disini diambil 1% resiko keruntuhan dalam 50 tahun. Oleh karena itu, percepatan gempa pada peta SNI 1726 2012 disebut sebagai Risk Targeted Ground Motion yaitu percepatan tanah yang sudah disesuaikan untuk mencapai target resiko keruntuhan 1 persen dalam 50 tahun.

Adanya konsep risk of collapse berawal dari pengamatan dari kejadian gempa di amerika serikat dimana tidak semua gedung yang terkena gempa rencana selamat / menunjukan performa sesuai desain. Pengamatan juga menunjukan tidak semua gedung yang terkena beban gempa diatas gempa rencana tidak selamat / menunjukan kegagalan struktur sesuai prediksi desain. Menurut Luco et al pada papernya berjudul “Risk-Targeted versus Current Seismic Design Maps for the Conterminous United States”, hal ini terjadi dikarenakan adanya ketidak pastian pada :

  1. Ketidak pastian pada ground acceleration yang direpresentasikan pada probabilitas hazard gempa.
  2. Ketidak pastian pada betuk gelombang gempa (wave form) yang disebut sebagai record-to-record variability. (Achmadsya’s note: mungkinkah ini alasan kenapa pada time history analysis dibutuhkan analysis terhadap 7 time history data??)
  3. Ketidak pastian dari variasi detailing struktur, kualitas material, susunan struktur dan lain-lain.

Adanya ketidak pastian diatas berujung pada studi dilakukan melalui ATC 63 Project dan didokumentasikan dalam FEMA P 695 yang bertujuan mengkuantifikasikan perfroma bangunan dan parameter-parameter response bangunan terhadap gempa. Studi ini salah satunya menghasilkan kurva collapse probability bangunan yang kemudian diaplikasikan oleh Luco et al dalam merumuskan persamaan probabilistik percepatan gempa yang memperhitungkan Probability of Exceedence dengan Collapse Probability untuk mendapatkan risk targeted ground motion.

Konsep kedua dirasa lebih tepat karena sesungguhnya kita ingin tahu performa bangunan kita saat terkena gempa rencana, bukan hanya besarnya gempa yang harus diperhitungkan sebagai gempa rencana.

Jika tertarik menelaah lebih dalam mengenai tentang risk targeted ground motion, silahkan baca referensi berikut :

4.Koefisien pada Response Spektra

Peta gempa SNI 2002 hanya memiliki satu koefisien yaitu PGA. Koefisien ini kemudikan diturunkan menjadi respon spektra melalui beberapa konstanta pengali yang diambil berdasarkan kondisi tanah yang ditinjau.

Peta gempa SNI 1726 2012 memberikan tambahan koefisien spektra berupa PGA (batuan dasar), 0.2 detik dan 1 detik. PGA digunakan untuk menentukan percepatan gempa pada desain pondasi. Koefisien 0.2 detik dan 1 detik digunakan untuk membuat respon spektra gedung. Penambahan koefisien-koefisien ini ditujukan untuk memberikan response spektra desain yang lebih representative berdasarkan perkembangan ilmu terkini.

Pembaca yang tertarik mengenal bagaimana cara membuat respon spektra berdasarkan peta gempa 2010 dan SNI 1726 2012 bisa berkunjung ke link dibawah.

Ringkasan Prosedur Menentukan Beban Gempa SNI 2010

 

Setelah kita melihat perbedaan dari segi metodologi penurunan peta gempa, lalu apa sebenarnya dampaknya pada percepatan gempa desain? Beberapa slide yang disajikan Prof. Masyhur Irsam dalam seminarnya di acara Institution of Civil Engineer (ICE) technical meeting memberikan gambaran perbedaan respon spektra Peta Gempa edisi 2002 dan edisi SNI 1726 2012 untuk daerah Aceh, Medan dan Jakarta.

Baca juga : Pashima instant anti ribet

Untuk wilayah Aceh, respon spektra peta gempa SNI 2012 umumnya memberikan akselerasi lebih besar untuk Hard Rock dan Medium soil class dibandingkan peta gempa SNI 2002. Akan tetapi, peta gempa SNI 2012 umumnya memberikan percepatan gempa lebih kecil dibanding SNI 2002 untuk soft soil.

Untuk wilayah Jakarta, peta gempa SNI 2012 memberikan percepatan gempa lebih besar pada Medium soil dibandingkan SNI 2002. Akan tetapi, percepatan gempa SNI 2012 untuk soft soil ternyata sedikit lebih kecil dibandingkan SNI 2002.

Kesimpulan dari pengamatan di atas adalah peta gempa SNI 1726 2012 belum tentu memberikan percepatan gempa yang lebih besar dibandingkan edisi SNI sebelumnya. Dalam mengassess kerentanan bangunan terhadap kode gempa SNI 1726 2012, kita perlu mempertimbangkan faktor tanah dan periode natural bangunan agar bisa menentukan perlu tidaknya perkuatan (retrofit) bangunan.

Spektra AcehSpektra Jakarta

Musim Dingin dan Salju Bagi Seorang Engineer

Bagi saya yang lahir dan besar di negara tropis, musim dingin dan salju adalah sesuatu yang aneh tapi menakjubkan. Tontonan film seperti Home alone menayangkan gambaran salju dan kemeriahan nuansa natal perkotaan membuat saya membayangkan betapa asiknya tinggal di lingkungan musim dingin dan bersalju.

Lalu seperti apa jadinya jika musim dingin yang saya alami ternyata di sebuah fabrication yard?

Di posting ini saya ingin berbagi cerita mengenai Continue reading “Musim Dingin dan Salju Bagi Seorang Engineer”

Fire Awareness Training

As my department moved to the new building, I was appointed as one of fire suppressor in the floor. My responsibility for this role is to ensure the fire alarm has been turned on and to try to extinguish small fire accident so it won’t escalate when fire occurred. In order to bear such a critical responsibility, I had to be a certified fire suppressor who has received fire awareness training.

To obtain the fire suppressor certificate, I did the basic fire awareness training at Jakarta Offshore Training Center (JOTC) atDepok,Indonesia. The JOTC has been certified to give several training for oil and gas safety related operation which one of them is fire awareness training. The training was a combination of classroom session and field practice session which took almost a whole day to complete the training.

The classroom session gave a fundamental understanding on how the fire occurs, how to use basic protecting equipment in extinguishing a fire incident and lastly how to extinguish a fire depending on their type. The classroom session was really interesting because it makes me understand how to do best practices in surviving fire incident and why there are many types of fire extinguisher on market.

After completing the classroom session, come the practice session which was very fun and “hot”. Fun because I could apply my basic fire fighting theory obtained in the class room. Hot because it did involve real fire to be extinguished. The practice session was opened by introduction to fire extinguisher tool which were the CO2 type, Chemical powder type, and foam type. Those three extinguishers had different suitability in extinguishing a fire. In addition, the function of fire blanket and its practical use was also introduced in this session. After the introduction, the class participants were given the chance to try each type of fire extinguisher one by one.

A very important message on using a pressurized type Fire Extinguisher (FirEx) was learned that day. Anytime a pressurized type FirEx is used, the tube should be directed outward direction from user’s body. The simple explanation is that CO2, powder and foam FirEx are based on pressurized vessel which the weakest point is the neck between edge of tube and its connection to nozzle hose. Without proper maintenance, this weakest point can break off from its tube and thrusting its hose connection towards the FirEx user. This is very dangerous and can impose a very fatal injury which would lead to fatality as what was happened somewhere in an oil rig inIndonesia.

After all practice on fire extinguisher completed, the training was closed by practice in using emergency breathing device. Class participants were taught to use the device and did simulation on escaping a building full of smoke (although there was not any smoke used during the simulation, the room environment was kept dark so the sensation was almost the same – told the instructor). A class evaluation test was conducted and finally the day was ended by me receiving the fire awareness training certificate.

Offshore Platform – at a Glance

Offshore platform has been used in oil and gas industry as early as 1930 in Venezuela. The first offshore platform was made by wood material. The steel type platform was then used in 1947 in a 6 m depth of water in the Gulf of Mexico. Since that period, various types of offshore platform has been developed and used as main offshore facility in oil and gas industry. Offshore platform can be used in many ways. A full offshore oil and gas facility can have many platforms such as quarters platform, wellhead platform, process platform, compressor platform, etc.

Type of structure and the support configuration of offshore platform are in consideration with depth and difficulties in erecting the platform. Therefore, there are many types of offshore platform. Based on the type of structure, offshore platform can be divided as :

  • Concrete gravity platform
  • Fixed steel platform
  • Semi submersible platform
  • Tension leg platform
  • Guyed tower platform
A ‘Statfjord’ gravity based structure under construction in Norway.
.
1, 2) conventional fixed platforms; 3) compliant tower; 4, 5) vertically moored tension leg and mini-tension leg platform; 6) Spar ; 7,8) Semi-submersibles ; 9) Floating production, storage, and offloading facility; 10) sub-sea completion and tie-back to host facility.
.

In addition to that classification, depending on the number of legs & jacket type, fixed offshore platform can be divided into :

  • Monopod platform
  • Bipod platform
  • Tripod platform
  • 4, 6, or 8 pile platform

A common offshore platform is consisted of platform deck, jacket, and pile. Deck is the place where all production equipments are placed. Jacket is a tubular steel structure that serves as a lateral load support for the platform while pile serves as a vertical load support. For come cases, jacket is not used because the lateral load of platform is neglect able.

In a common Offshore platform, deck, jacket, and pile are fabricated onshore. The first stage of platform erection is transporting the jacket and putting it in the designated place. After the jacket is fixed in the right place, pile is driven via the jacket hollow tube to the sea bed. Finally, the deck part is placed and connected at the top of support structure.

For safety and ergonomic reasons, platform layout should be carefully designed. Platform north should be facing to deeper water. This north part is also used as the area for jack up drilling rig and foundations spud can or mat. The south side platform is used for boat berthing, pipeline riser and subsea pipeline. Layout of platform should also be designed by considering drilling sequence, prevailing wind, and other utility such as helipad.

Load acting on platform is vital in a platform’s design stage. In designing a platform, load can be divided to load at deck structure and load at jacket structure. In general, the working load in an offshore platform consisted of the following load.

Load at Deck structure:

  • Topside load : Deck structure, piping, equipment, life load, crane load, helicopter load, drilling work over load.
  • Lateral load : Wind and earthquake.

Load at Jacket structure:

  • Vertical load : Deck structure and buoyancy
  • Lateral load : Wind, wave, current, earthquake, and added hydrodynamic mass.

Some of applicable engineering standards for offshore platform design are:

  • API RP2A Recommended Practice for Planning, Designing and Constructing Fixed Offshore Platforms
  • AISC Specifications for Design, Fabrication and Erection of Structural Steel Buildings
  • API Spec 2B, Fabricated Structural Pipes
  • AWS D 1.1, section 8 and 10
  • ISO 19902   Petroleum and Natural Gas Industries – Fixed Steel Offshore Structures
  • ISO 19901-2      Petroleum and Natural Gas Industries – Specific requirements for offshore structures Part 2 Seismic Design Procedures and Criteria