Laruku Jakarta 2012 – Finally

Finally, after ten years of waiting, L’Arc en Ciel (Laruku) will perform in Jakarta, Indonesia. What a long wait for Indonesian Laruku fans since their introductory début as a musician that fill a theme song in a famous Japanese Anime airing in Indonesia, Rurouni Kenshin. The japanese Super Band will perform at Lapangan Senayan, Jakarta – May 2nd 2012 starting from 08.00 PM. Further information can be found at : http://rajakarcis.com/2012/01/25/larc-en-ciel-world-tour-2012/


To me, this is just like a dream comes true. I remember, ten years ago I was dreaming of watching their concert live in Japan. However, I couldn’t manage to catch their live performance even during my previous one year stay in japan and the subsequence visit two year after. Therefore, this “might be once in a lifetime” chance  really cannot be missed.  I gave my full effort in getting the ticket as soon as possible because as expected, the ticket were sold fast. Fortunately I already got the ticket 🙂

This concert will never be possible to happen without the great effort from Indonesian Laruku fan base community – L’Arc en Ciel Indonesia (http://www.facebook.com/larcencielindonesia). Although Indonesia has a very big fan base, the community could unite those aspiration and probably this makes Laruku spot Indonesian fan interest in their live performance and finally decided to put Indonesia as one of their 2012 World Tour destination.

Now,, just wait for the D-Day of the first L’Arc en Ciel performance in Indonesia. See you L’Arc en Ciel 🙂

Advertisements

Seri Perang Eropa

Saya memang bukan orang yang suka pelajaran sejarah. Bahkan, semenjak SD hingga SMA saya tidak pernah menunjukan antusiasme yang tinggi dalam mempelajari mata pelajaran Sejarah. Tidak pernah saya menemukan passion yang tinggi dalam menelusuri uraian-uraian sejarah seperti passion saya dalam memecahkan soal kalkulus atau fisika dasar. Koleksi buku pribadi saya pun tidak ada yang berkaitan dengan sejarah. Singkatnya, mempelajari sejarah tidak pernah menempati posisi utama dalam prioritas minat saya.

Namun, tidak untuk kali ini. Dalam satu bulan terakhir saya tersihir oleh sebuah buku yang mengulas  konflik paling berdarah dalam sejarah umat manusia, Perang Dunia 2. Di waktu luang selepas bekerja, saya selalu menyempatkan untuk membaca halaman per halaman dari buku ini. Sebuah deviasi dari kurangnya minat saya pada pelajaran sejarah.

Perang Eropa, itulah nama bukunya. Buku yang merupakan kumpulan tulisan berseri yang ditulis oleh P.K. Ojong SH dan diterbitkan dalam majalah mingguan Star Weekly (Djakarta) ini telah menjadi salah satu mahakarya penulis Indonesia dalam topik sejarah perang dunia kedua. Terdiri dari 3 jilid, buku jilid pertama dicetak pertamakali pada pada bulan Juli 2003 dan buku yang saya dapat sudah merupakan cetakan ketujuh, 2008.

Buku Perang Eropa Jilid 1 mengisahkan awal dari pecahnya peperangan di Eropa hingga pendaratan Sekutu di Afrika Utara. Buku ini dibuka dengan kisah seputar Blitzkrieg yang merupakan strategi perang cepat Jerman yang dengannya berhasil mendominasi daratan Eropa. Blitzkrieg disokong dengan senjata rising star kala itu, tank, sehingga keberadaan berlapis baja ini memberikan perspektif baru mengenai perang yang mengandalkan kecepatan dan senjata moderen. Lewat strategi ini, Jerman dibawah pimpinan Hitler mampu menguasai polandia,  perancis, belanda, Yunani, afrika utara, dan wilayah Eropa lainnya dalam kurun waktu 3 tahun saja.

Buku ini juga membahas kehidupan Adolf Hitler, sang pemimpin Jerman pada kala itu. Melalui buku ini saya bisa memahami bagaimana kharisma Hitler bisa membuat warga Jerman terbuai pada mimpi kejayaan Jerman yang Agung. Semua mimpi itu sudah terwujud ketika Hitler kecil menunjukan bakat memimpin dan mempengaruhi teman-temannya, meskipun, secara akademik kepintarannya tidak menonjol.

Pembahasan perang dunia ke 2 terus belanjut ke peperangan di lautan. Buku ini menceritakan bagaimana kapal-kapal selam Jerman, U-Boat, menjadi kekuatan yang paling ditakuti di laut Atlantik.  Superioritasnya di laut atlantik didukung dengan kapal bajak laut, pocket battleship, dan bahkan kapal tempur terbesar di dunia kala itu, Bismarck. Menyelami setiap halaman buku ini, kita bisa melihat dinamika kekuatan armada laut dunia yang berpusat pada 3 poros, Inggirs, Amerika, dan Jerman.

Buku ini juga membahas kiprah tentara sekutu – Jerman di afrika utara yang oleh stalin disebut sebagai “perut buaya”. Istilah ini digunakan karena sekutu menganggap front perang selat channel sangat sulit ditembus dan begitu ganas sehingga diasosiasikan sebagai mulut buaya. Sedangkan front utara eropa yang meliputi norwegia, denmark, dan sekitarnya juga memiliki pertahanan yang sangat kuat seperti kulit punggung buaya. Oleh karena front selatan Eropa terdapat Spanyol dan Italia yang relatif kurang kuat dibanding front lainnya, Sekutu memutuskan untuk menusuk Jerman dari sisi ini.

Hal menarik yang dibahas dari buku ini adalah kiprah jenius-jenius militer seperti Erwin Rommel (The Desert Fox), Von Mainstein dari Jerman dan Zhukov dari Rusia yang memegang peranan penting dalam front Timur, juga Eisenhower, George Patton, Bradley, dan Montgomery yang berkuasa di front Barat. Keberadaan mereka menunjukan bahwa perang adalah sebuah seni yang sayangnya juga merupakan suatu tragedi terburuk bagi umat manusia.

Kepemimpinan, semangat perjuangan, dan pengendalian diri adalah beberapa poin yang saya dapat dari buku ini. Saya merasakan bagaimana frustasinya Jenderal-jenderal perang jerman dalam perang yang bukan karena kuatnya musuh yang dihadapi, tapi beratnya mempertahankan prinsip mereka terhadap kediktatoran Hitler. Buku ini secara ineksplisit menyatakan bahwa jika Hitler lebih mendengarkan Jenderal-jenderalnya, mungkin Jerman yang akan keluar menjadi pemenang Perang Dunia Kedua. Namun itulah masa lalu yang bisa kita pelajari nilai-nilainya untuk kita aplikasikan di masa kini.

Setelah membaca buku ini, saya semakin bersyukur bisa hidup di masa dan di lingkungan yang damai. Masa dimana jiwa raga digunakan untuk pembangunan umat manusia, bukan pengembangan senjata penghancur seperti perang dunia lalu.

ps : bersiap membeli jilid ke 2 dan ke 3 🙂

Mengukur dengan Google Earth

Kali ini saya ingin berbagi cara melakukan pengukuran jarak pada Google Earth. Fitur ini sangat bermanfaat dan penggunaannya sangat luas. Salah satunya adalah pengukuran lebar jalan yang akan saya jelaskan dengan langkah-langkah dibawah ini.

Dalam contoh ini, saya akan mengukur lebar ruas jalan di suatu titik di jalan Pasteur, Bandung. Langkah-langkahnya adalah :

1. Klik tombol “Show Ruller” pada Tolbar bagian atas software. Pointer akan otomatis berubah bentuk menjadi kotak target.

2. Mucul jendela “Ruler” dengan informasi length dan heading.

3.  Klik di titik di satu sisi jalan.

4. Kilk di sisi lain jalan.

5. Informasi panjang garis dan sudut yang dibentuk garis terhadap arah utara dapat dilihat di jendela “Ruler”

Pada tahap dua, pada jendela “Ruler” terdapat pilihan “Line” dan “Path”. Pilihan “Line” digunakan untuk mengukur panjang satu garis lurus saja sedangkan pilihan “Path” digunakan untuk panjang jalur yaitu garis-garis yang saling berhubungan yang kita gambar di google earth. Fungsih “Path” pada google earth dapat dilihat pada gambar dibawah.

Sebelum menggunakan fitur Ruler, pastikan anda memahami bahwa akurasi pengukuran panjang belum terverifikasi secara resmi oleh google.  Saya pun belum mendapat jawaban pasti mengenai seberapa akurat fitur ini. Yang jelas, sebagai pengukuran kasar, fitur ini sangat praktis untuk digunakan. Selamat mencoba dan bereksperimen.

Lagi, Jl Pasteur Macet Karena Banjir.

Sekitar pukul 3.00 PM hari ini, saya hendak pulang melalui JL. Dr. Djunjunan (Pasteur) Setelah seharian berada di rumah sakit menemani kakak saya yang terkena demam berdarah. Ketika hendak berbelok dari Sukajadi ke jalan Pasteur, kemacetan jalan sudah terlihat di mulut timur Jl Pasteur. Artinya?? seluruh Jl Pasteur macet.

Sejalan dengan apa yang saya pikirkan, seluruh ruas jalan pasteur arah Tol macet. Kemacetan jalan terjadi sepanjang kurang lebih 2 KM. Kemacetan sepanjang ini sering terjadi pada week end dan hari-hari libur panjang lainnya. Namun, hari ini adalah hari Selasa dan jam tangan menunjukan pukul 3.00 PM ;  Bukanlah waktu yang lazim untuk terjadinya macet di Jl Pasteur.

Saya pun berpikir, “Kali ini, kenapa lagi ya pasteur bisa macet??”  Setelah setengah jam perjalanan di jalan pasteur akhirnya saya tahu mengapa kemacetan seperti ini bisa terjadi. Penyebabnya adalah… Genangan air sedalam 20-30 cm yang menggenangi ruas jalan di depan Mall Bandung Trade Center (BTC).  Genangan air ini sering terjadi ketika hujan deras menerpa daerah sekitar BTC akibat drainase jalan yang buruk.

Hal yang membuat genangan air menjadi semakin parah adalah elevasi jalan sisi BTC yang lebih rendah dibanding sisi jalan di seberangnya. Hal diatas membuat 3/4 lebar jalan tergenang sehingga menghambat arus lalu lintas menujut gerbang Tol Pasteur. Ilustrasi daerah genangan air bisa dilihat pada gambar dibawah.

Kemacetan di ruas jalan ini sangat merugikan bagi kota Bandung. Selama menempuh perjalanan tadi, saya melihat sebuah mobil ambulan yang tidak berhenti menyalakan sirinenya ditengah kemacetan yang ada. Sungguh mengerikan ketika saya membayangkan ada seseorang yang meregang nyawa menanti datangnya bantuan medis sementara bantuan yang ia harapkan terlambat datang karena terjebak macet. Semoga saja itu bukan kenyataan senyata kemacetan yang semakin merajalela di Indonesia.

iPad Parody Video

On January 27th 2010, apple announced their new iPad release. It is a new gadget from apple that will be sold from $499. Some people say it will be a great tablet but some people say it is only an oversized iPod touch.

iPad

iTouch

Playing with those controversies, a creative person created a funny video about the IPad and published it on Youtube. The funny video was made from the Downfall movie scene (German: Der Untergang). You might have known about this movie; a movie about Hitler in at the moment of his defeat during the world war two.  Since the movie’s original dialogue is in German language, the creator of the funny video uses the scene where Hitler is angry and changes the subtitle with a parody about iPad release. You can see the video below and I also link video of the original scene from the movie.  Enjoy..!

================================================

The parody scene :

===============================================

The original scene :

Reminiscent of the Winter Time

Snow..

Seeing snow falling from the sky is one of the most precious moments of my life.  What an unforgettable moment for me who for 21 years live in Bandung, a city that located very close to the equator line. I will never forget how the snow gentle felt onto my palm and suddenly molten by my body temperature. The reflection of city light that passed through the falling snow feels like thousands of beautiful lamps were sent by Allah SWT to beautify the cold night.

It was during my YSEP study, from December to March 2009. The first time I saw snow was when I join the Ski and Snowboard Vacation held by Indonesian Muslim Union in Japan. It was a 2 days snow vacation in Hakuba Go Ryu, a famous ski resort in Nagano, Japan. I played snowboard for whole two days in that moment. The trip from Tokyo was done by using bus. I was sleeping for almost the whole trip since the departure time was almost at midnight. When the first time I woke up during the trip, the Bus was stopped at a rest area near the ski resort. It was around 4 am. I was amazed when I looked up down the window. I saw, for the first time, snow was falling from the dark sky and the light from a street lamp was directly passing through those snowflakes. What a feeling.

I feel really humble, thinking how Allah SWT has created that beautiful moment for us, humankind. I never thought I would have a chance to see those snows before I came to Japan. At that time, I just stare at the snow through the bus window, thinking how far the struggle had I done to be able to get there and saw the snow. I enjoyed that dawn till we went to the ski resort and started my first snow vacation. (further reading : Nagano Snow Vacation – By Achmad )

In this winter season (for northern part of the world, off course), wordpress provides us a unique feature where snowflakes are falling inside our wordpress page. It is very beautiful feature, I think. Based on this reason, suddenly I am thinking to write about my first snow experience. I just hope, this writing can especially motivate me to pursue my goals so I will be able to see snow again in the near future. Then, when that time came, sure, I will share that moment through my wordpress again. See you then.

Photos of Hakuba were taken from their official site : http://www.hakubajapan.com/

The SIBE Conference 2009

Today I just finished my part as a committee member of the First International Conference on Sustainable Infrasctructure and Built Environment in Developing Countries (SIBE). It was the international conference that was organized by Faculty of Civil and Environmental Engineering of Bandung Institut of Technology. The conference was held from 2nd to 3rd of November. More than 300 peoples from many countries came and presented their research. Among those people, about 130 peoples come from outside Indonesia such as USA, Japan, Norway, Malaysia, etc. The official website can be found at http://www.sibe-2009.org .

During the conference, I was stationed as documentation staff. However, before the conference session, I was doing proceeding editing by editing many papers that come to the conference secretariat. Both positions were not easy and both positions had different type of challenge. I enjoyed both positions.

In this conference, Professor Ikeda from Tokyo Institute of Technology came and gave keynote speech. He was one of YSEP supervisors in TokyoTech during 2008/2009 academic year. I know him since he was Della’s supervisor, thus his lab is located few rooms beside my former lab at TokyoTech.

I would like to write more things but now I am really tired. I will post another more in the next post. Have a good rest.