Mengintip Posisi Militer Indonesia di Mata Dunia

Militer adalah salah satu komponen penting dari keberadaan suatu negara. Militer yang kuat memberi pengaruh besar terhadap wibawa suatu Negara di mata Negara-negara lainnya. Militer yang kuat juga berperan besar bagi kondisi domestik suatu Negara.

Terkait dengan hal diatas, informasi seputar militer Negara kita layak untuk kita pantau dan kritisi. Informasi ini sangat berguna bagi kita terutama dalam menanggapi  isu-isu penting yang berhubungan baik dengan negara lain atau negara kita sendiri.  Tertarik akan hal itu, saya memiliki dua situs yang sangat menarik dalam mengikuti perkembangan militer Indonesia dan dunia, situs-situs tersebut antara lain ;

Alutsista – http://alutsista.blogspot.com/

Situ yang sangat informatif ini merupakan kumpulan artikel-artikel militer yang sebagian besar berhubungan dengan internal Negara kita. Didalamnya juga terdapat link-link ke situs-situs militer lainnya baik dari jurnalisme maupun instansi-instansi militer. Sampai saat ini situs ini sudah dikunjungi oleh lebih dari 1 juta pengunjung.

.

.

Defense Studies – http://defense-studies.blogspot.com/

Situs ini memiliki slogan “Referensi Tentang Pertahanan dan Teknologi Militer Indonesia, Regional, dan Dunia”.

Berbeda dengan situs Alutsista, situs ini memberikan juga informasi militer Negara-negara lain di dunia. Informasi-informasinya berasal dari media masa – media masa yang menyajikan berita militer.

.

.

Dari kedua situs diatas, saya banyak mendapat pemahaman seputar dunia militer. Dari mulai kondisi militer negara kita, kondisi militer negara lain dan peta pengaruh militer regional.  Informasi-informasi ini sangat-sangat-sangat berguna sebagai benchmark kekuatan militer Negara kita.

Semoga kedua situs ini bisa berguna juga bagi pembaca semua.

Advertisements

Apa Itu Peta Gempa Indonesia???

UPDATE October 2015: Peta gempa Indonesia telah diperbaharui dengan peta gempa keluaran tahun 2010. Pada edisi terbaru ini, metode pembuatan peta gempa telah diperbaharui berdasarkan penemuan-penemuan terbaru. Selain itu metode penurunan Respon Spektra dari peta gempa juga telah diperbaharui agar setara dengan metode pada kode ASCE 7-10. Peta gempa 2010 bisa didapat dari link berikut : http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

Artikel di blog ini tentang peta gempa terbaru tahun 2012 : https://achmadsya.wordpress.com/2015/11/07/tentang-peta-gempa-indonesia-terbaru-edisi-sni-1726-2012/

======================================================

Jika pada dua postingan sebelumnya saya membahas mengenai mekanisme rusaknya bangunan terhadap gempa dan pentingnya menaati standard perencanaan gedung, pada postingan ini saya akan membahas mengenai Peta Gempa yang merupakan salah satu elemen utama perencanaan bangunan. Peta ini sangat penting dalam memperkirakan besarnya gaya gempa yang akan menimpa bangunan yang kita rencanakan.

Peta gempa adalah peta wilayah yang menunjukan besaran percepatan tanah dasar akibat gempa rencana yang kemungkinan menimpa gedung yang kita bangun. Peta ini merupakan hasil analisis probabilitas dari data-data kejadian gempa yang ada di suatu wilayah. Artinya, data-data kejadian gempa yang ada diolah dan  dianalisis untuk menghasilkan niali peluang terjadinya suatu gempa pada masa yang akan datang.

Baca juga : Pashmina instan by ellumi_clo

Peta gempa di suatu negara selalu berbeda dengan peta gempa di negara lain. Hal ini terjadi karena karakteristik kegempaan suatu wilayah akan berbeda dengan wilayah lain. Selain itu, perbedaan metode analisis karakteristik gempa dan analisis probabilitas gempa pun mempengaruhi bentuk peta gempa yang terjadi. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika peta gempa Indonesia dan  peta gempa Jepang yang sama-sama termasuk daerah rawan gempa pun berbeda satu-sama lain. Karena sifatnya yang sangat spesifik terhadap wilayah ini, kita patut berbangga bahwa peta gempa Indonesia merupakan hasil nyata insinyur-insinyur dan peneliti-peneliti Indonesia meskipun masih terdapat kontribusi pihak asing didalamnya.

Peta gempa Indonesia berdasarkan SNI Perencanaan Ketahanan Gempa Gedung 1726 tahun 2002 dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Dalam peta ini, Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa di mana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi. Pembagian Wilayah Gempa ini, didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan  perioda ulang 500 tahun, yang nilai rata-ratanya untuk setiap Wilayah Gempa dapat dilihat pada Gambar dibawah.

-=-

Perlu digarisbawahi bahwa gempa yang diperhitungkan adalah gempa akibat pergeseran pelat tektonik saja dan tidak termasuk gempa vulkanik akibat letusan gunung berapi. Selanjutnya, percepatan ini hanya pada batuan dasar saja. Kecepatan di permukaan tanah dapat berbeda sesuai jenis lapisan tanah seperti data pada tabel dibawah.

-=-

Peta ini dibuat dengan memperhitungkan 10% kemungkinan terlampaui dalam 50 tahun. Artinya, masih tetap ada kemungkinan 10% percepatan gempa akan lebih besar dari yang terdapat di peta selama 50 tahun. Selanjutnya, periode ulang gempa adalah 500 tahun yang artinya gempa yang diperhitungkan dalam analisis probabilitas adalah gempa yang terjadi tiap 500 tahun sekali. Semakin lama periode ulangnya, semakin besar gempa yang terjadi.  Sebagai contoh, gempa Aceh 2004 lalu memiliki periode ulang selama 200 tahun yang artinya terjadi tiap 200 tahun. Periode ulang 500 tahun bukan berarti bahwa gempa akan terjadi tiap 500 tahun. Periode ulang digunakan untuk memberikan gambaran kemungkinan (probabiltias) terjadinya gempa yang artinya 1/500 (0.2% kemungkinan terjadi) dalam satu tahun. Dalam konteks peta gempa, tidak digunakan kemungkinan terjadi tetapi digunakan kemungkinan terlampaui. Artinya, pada peta gempa 500 tahunan, ada kemungkinan (probabilitas) sebesar 0.2% untuk terjadinya gempa yang nilai percepatannya lebih besar dari percepatan yang dituliskan pada peta gempa.

-=-

Selanjutnya, wilayah gempa terbagi menjadi 6 wilayah. Dari peta gempa Indonesia kita dapat melihat sebaran percepatan gempa di wilayah Indonesia. Daerah berwarna putih adalah daerah dengan percepatan gempa terkecil dan wilayah berwarna merah adalah daerah dengan percepatan gempa terbesar. Dari peta tersebut kita dapat melihat bahwa seluruh wilayah Indonesia kecuali sebagian besar daerah Kalimantan memiliki potensi terjadinya gempa dengan percepatan yang besar. Hal ini sudah terbukti dengan terjadinya gempa-gempa besar di Aceh, Padang, Jawa Barat, Yogyakarta, NTB, bahkan hingga ke Papua. Tidak mengherankan pula jika daerah Sumatra bagian pesisi barat sering dilanda gempa besar dalam beberapa dekade terakhir ini.

Baca juga : Pashmina instan by ellumi_clo

Bagaimana dengan jalur Jakarta hingga bandung dimana saya tinggal? Dari peta dapat kita lihat bahwa Jakarta berada pada zona 3 dengan percepatan gempa sebesar 0.15 g dan Bandung berada pada zona 4 dengan percepatan gempa sebesar 0.2 g. Artinya, untuk kondisi tanah yang sama, gaya gempa yang menimpa bangunan di Bandung harus direncanakan lebih besar dibanding bangunan di Jakarta. Selain itu untuk kondisi tanah yang sama, akan lebih mudah dalam membangun bangunan tingkat tinggi di Jakarta dibanding di Bandung karena gaya gempa rencana di Jakarta lebih kecil dari gaya gempa di Bandung.

-=-

Peta gempa ini seharusnya menjadi acuan dalam membangun suatu bangunan karena menyangkut beban rencana yang digunakan dalam merancang struktur bangunan. Dengan perhitungan beban gempa yang lebih akurat, keruntuhan bangunan akibat gempa dapat dihindari.

-=-

Special thank to Masrur Ghani for his References.

Referensi :

Mata Kuliah “Dinamika Tanah dan Rekayasa Gempa” oleh Prof. Masyhur Irsyam

-=-

Ber ‘TA’ Ria

TA = Tugas akhir, merupakan sebuah tugas yang terakhir, berada di akhir jenjang perkuliahan, dan ‘moga-moga’ akhir dari bully-bully yang dilakukan pihak ITB terhadap mahasiswa/i nya :p hahaha… ya itulah TA, jika anda berpikir kuliah di ITB itu susah dan penuh pengorbanan, maka TA lah salah satu penyebabnya. Well, TA, atau yang anak UNPAD bilang skripsi (walau mungkin tidak sama secara maknanya) adalah kegiatan paling dominan yang menimpa (dan akan semakin menimpa)  saya selama satu semester kedepan.

Semester ini adalah (Insya allah) semester terakhir saya di ITB. Semester yang didalamnya terdiri dari 13 SKS = 3 kuliah dan 1 Tugas Akhir.  Pada teorinya, 1 SKS setara 1 jam kuliah, 1 jam tugas dan 1 jam belajar mandiri selama seminggu. Artinya, dibutuhkan 13 x 3 = 39 jam seminggu yang harus saya alokasikan untuk masalah perkuliahan. Jika diasumsikan sehari ada 8 jam waktu kerja ,,, (eh, perkuliahan).. maka dibutuhkan 4.875 hari untuk memenuhi tuntutan perkuliahan Institut Teknologi Bandung ini. Hmmmm.. tapi itu kan teorinya, aslinya 1 sks gak sama dengan 3 jam ‘terbuang’ untuk kegiatan akademik, tapi bisa sampei 12 jam waktu tersita karena tugas2nya yang sesungguhnya sering tidak lebih ringan dari bobot teoritis si SKS itu.

Nah, TA ini sendiri pada hakekatnya hanya berbobot 4 SKS yang artinya, dalam seminggu ada 12 jam tersita untuk mengerjakannya. Kalo pake itung2 an sehari 6 jam kerja saja, hanya butuh 2 hari dalam seminggu untuk mengerjakan TA. Namun, seperti yang saya dan puluhan atau  ratusan ribu alumni ITB ketahui, TA tidak sesantai itu. Ada masa disaat kita berdiam diri selama berjam2 dihadapan layar menunggu model yang sedang dianalisis komputer, ada masa dimana kita membuka ratusan halaman berisi dasar-dasar teori yang ditulis bukan dengan bahasa manusia melainkan bahasa Ph.D, dan ada masa disaat kita tidak bisa tidur karena memikirkan ‘pembantaian’ yang akan terjadi ketika kita mempresentasikan hasil TA kita dihadapan penguji. Banyak sekali dinamika yang menghadang demi terselesainya TA yang berujung pada berhaknya kita meraih gelar Sarjana Teknik. Tentunya, tidak sebanding dengan bobot teoritis sebuah SKS.

Umumnya, cara seseorang dalam mengerjakan TA dikategorikan menjadi tiga jenis yang tergantung dari seberapa rajin seseorang dan kecocokannya dengan metode kerja yang ia pilih. Oke, kita bahas satu per satu.

Jenis kesatu adalah jenis orang yang sangat konsisten dalam mengerjakan TA (A.K.A Non Deadliners). Tiap hari ia meluangkan waktu yang proporsional sehingga progress/kemajuan pengerjaan TA pun selalu ada setiap hari. Tipe seperti ini bisa dilihat dari grafik dibawah ini. Bisa kita lihat, orang seperti ini tidak akan mengalami penumpukan kerjaan di akhir periode pengerjaan. Wah, andaikan saya bisa masuk kategori orang seperti ini.

Oke, kategori kedua adalah orang yang sibuk di awal – macet di tengah – kembali sibuk di akhir. Bingung kok bisa? tentu bisa karena kesibukan di awal biasanya diakibatkan adanya Seminar Tugas Akhir. Seminar tugas akhir adalah sebuah presentasi yang bertujuan menguji kelayakan judul TA kita. Disini bakal ada tanya-jawab beserta koreksi dan arahan atas rencana tugas akhir yang bakal dikerjakan. Tentunya dibutuhkan kerja keras untuk mempersiapkan diri menghadapi seminar ini. Untuk tipe ini,  tepat setelah seminar, tingkat kesibukan seorang akan turun drastis ke titik terendah dimana orang itu terjerumus ke dalam kehampaan aktivitas TA dan terbenam menikmati saat-saat tanpa memori mengenai TA. Satu-satunya hal yang mengembalikan etos kerjanya adalah ketika menyadari bahwa sidang hanya tinggal 1 bulan lagi. Saat itulah tingkat kesibukan bisa meningkat berkali-kali lipat.

Tipe ketiga, adalah tipe yang paling ‘wah’. Entah terjadi atau tidak, tipe seperti ini menumpukan semua kesibukan pada 2 bulan terakhir masa pengerjaan TA. Memang, di awal periode pengerjaan, tiada kesibukan berarti yang terlihat. Sesekali bertemu dengan dosen pembimbing untuk bimbingan yang biasanya tidak jadi karena tiba-tiba dosen pembimbingnya harus pergi untuk urusan yang mendesak (entah apapun itu). Proses bimbingan yang terhambat, membuat kemajuan pengerjaan pun tersendat-sendat sehingga tidak ada hal-hal baru yang signifikan yang dapat menambah persentase progress pengerjaan TA. 2 bulan terakhir sebelum sidang, semua kesibukan itu memuncak. Pengumpulan, pengolahan, dan analisis data menjadi kegiatan sehari-hari.  Tidak mandi, telat makan, bermalam di kampus, demi mengerjakan TA yang telah lama ditunda sehingga otak pun masih kaku untuk melakukan pemrosesan data-data TA. Mungkin ini tipikal pribadi ‘deadliners ‘ yang menjangkit sebagian besar penduduk Indonesia.

Kalau dipikir-pikir, apa masalahnya dengan mengerjakan sesuatu secara konstan dan kontinu, pasti akan lebih nyaman. Namun, selalu saja ada hal yang membuat seorang ‘deadliners’ menunda pekerjaannya. Begitu pula dengan pengerjaan TA. Saya pun berharap bisa mengerjakan TA secara konstan dan kontinu tanpa ada lonjakan kesibukan. Namun, alasan-alasan formal seperti adanya kelas, asistensi, tugas, atau sekedar  futsal bersama angk  atan selalu menjadi legitimasi untuk menunda pengerjaan TA.

Anyway, tulisan ini hanya sekedar analisis kasar atas perilaku teman-teman saya yang sedang mengerjakan TA, mungkin ada banyak variasi lain yang terjadi saat pengerjaan TA. Namun, bagaimanapun cara kita mengerjakan TA kita harus mengetahui konseskuensi apa yang akan kita dapat atas pilihan yang kita jalani.  Ketahui, pilih, jalani, dan dapatkan hasilnya.

Tips Mengatasi Home Sick

Home Sick adalah perasaan rindu akan suasana rumah dan kampung halaman. Perasaan ini timbul terutama ketika kita berada jauh dari rumah dengan segala suasanannya sehingga membuat perasaan serasa tak menentu. Tinggal selama setahun di Tokyo membuat saya mengalami pengalaman home sick terberat yang pernah saya alami. Selama berada di Jepang, saya sangat merindukan semua hal mengenai Indonesia. Oleh karena itu, dalam menghadapi home sick saya melakukan langkah-langkah dibawah ini.

1. Berkomunikasi dengan Keluarga di Indonesia

Komunikasi dengan keluarga di Indonesia merupakan obat home sick yang paling mujarab bagi saya. Dengan cara ini, saya bisa langsung mendengar kabar dari keluarga tercinta di Indonesia dan juga bisa langsung berbagi keluh kesah – susah senang dengan mereka.

Metode komunikasi adalah dengan menggunakan sambungan telefon langsung, sms, Skype, dan Yahoo Messenger. Metode telefon langsung adalah metode yang paling mahal karena saya harus membeli layanan kartu telepon khusus bernama SADIA card seharga 2000 yen untuk 2.5 jam masa bicara ke telefon selular di Bandung.  Metode SMS dapat dilakukan dengan berlangganan layanan SMS ke Indonesia melalui layanan SMS Pelangi. Kita dapat mengetik SMS langsung dari HP kita atau dari website mereka. Dengan membayar 2.000 yen, kita bisa mendapat 240 SMS ke nomor HP Indonesia. Metode selanjutnya adalah Skype dan Yahoo Messenger. Keduanya menyediakan layanan chatting dan video call dengan menggunakan media internet tanpa memungut biaya apapun kecuali biaya akses internet

2. Makan masakan Indonesia

Keterbatasan jenis makanan yang dapat dimakan membuat saya semakin rindu untuk memakan masakan khas Indonesia. Untuk mengatasinya, biasanya saya berkunjung ke restoran Cabe yang terletak di Meguro. Restoran Cabe menjadi favorit warga Indonesia di Tokyo karena sebagian besar masakannya halal dan letaknya yang dekat dengan pusat aktivitas warga Indonesia di Tokyo. Menikmati makanan Indonesia bersama teman sebangsa menjadikan home sick semakin terobati.

Selain pergi ke restoran, saya juga suka memasak sendiri masakan Indonesia kesukaan saya. Masakan Indonesia seperti opor ayam, nasi goreng, sup bisa dibuat dengan mudah dengan bantuan bumbu instan yang saya beli di Tokyo atau yang saya bawa langsung dari Indonesia. Terlebih, kamar saya memang dilengkapi dengan dapur yang sangat nyaman tuk digunakan.

3. Berekreasi Keliling Kota

Jepang merupakan negara yang sangat berbeda dengan Indonesia baik dalam hal budaya, penduduknya, orang-orangnya. Karena itu, selalu ada hal baru yang saya temukan setiap saya beranjak dari satu sisi ke sisi lain Jepang. Hal inilah yang membuat rekreasi keliling kota semakin menarik. Baik menggunakan kereta, bus, sepeda, atau jalan kaki, hal-hal baru dan menarik yang ditemui dapat mengobati kerinduan saya terhadap Indonesia.

4. Bertemu Rekan Sebangsa

Pertemuan dan perbincangan dengan rekan sebangsa dan senegara akan sangat membantu dalam mengatasi home sick. Aktivitas seperti makan bersama, berekreasi bersama, atau sekedar bermain futsal membuat perasaan rindu tanah air menjadi terobati. Dengan demikian, selain dapat mengatasi home sick, juga dapat meningkatkan semangat berjuang menempuh studi di Jepang.

5. Bersosialisasi dengan Teman Seperjuangan

Sosialisasi dengan sesama anggota lab atau sesama pelajar asing yang menempuh program yang sama merupakan salah satu cara yang cukup ampuh dalam mengatasi home sick. Sebagian dari beban home sick timbul karena masalah yang timbul selama menempuh studi, oleh karena itu berbagi beban dengan teman seperjuangan dirasa sangat membantu. Meskipun demikian, berbincang dengan sesama warga negara asing dirasa lebih nyaman dibanding dengan warga negara Jepang yang memang dikenal cenderung tertutup. Selama di Tokyo Tech, saya senantiasa berbincang dengan WNA di lab saya, atau lab lainnya untuk mendiskusikan riset, mencari penyelesaian masalah riset, atau saling membantu penggunaan alat eksperimen.

6. Berdoa

Hal terakhir yang sangat manjur dalam mengobati home sick dan bahkan mengatasi semua masalah selama masa studi adalah berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT. Dengan berdoa dan berserah diri, saya berada pada titik kesadaran bahwa saya bukanlah apa-apa di dunia ini, tidak memiliki kekuatan apapun, tidak memiliki kelebihan apapun, semua yang ada pada diri saya hanyalah kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, ketika menghadapi suatu masalah, semuanya adalah kehendak Allah SWT yang harus kita lalui dengan tetap berusaha, berdoa, dan akhirnya berserah diri. Sungguh kenikmatan yang sangat besar ketika akhirnya kita bisa dengan fokus berserah diri kepada Allah SWT ketika kita hampir putus asa ketika menghadapi masalah.

Selama di Jepang, saya sangat mudah mendapat akses ke kegiatan keagamaan. Ibadah Shalat di Tokyo Tech biasa dilakukan di refresh room tiap bangunan atau ruangan dekat tangga darurat di lantai teratas gedung Minami (South) 9. Selain shalat, Pengajian Midori (Midori : Hijai) , pengajian yang dibentuk oleh pelajar Indonesia di Tokyo Tech rutin diadakan setiap Jumat malam sehabis Isya. Pematerinya berasal dari pelajar Indonesia di Tokyo Tech sendiri dan sesekali mengundang narasumber yang kebetulan sedang berada di Tokyo.

Uraian diatas adalah beberapa langkah untuk mengatasi home sick, kalo mengatasi Japan Sick gimana  ya? ada ide? ^_^’

Family Gathering at Salam Sereh Resto

Family gathering at Salam Sereh Resto

Today’s evening I had a family gathering in Salam Sereh Restaurant. It was the gathering regarding the thank you party for all committee member of my sister’s wedding. Totally up to 30 peoples came and celebrate the party. They came both from my relatives and my sister’s (and his husband) friends. Some of them were children who really like to jump and run everywhere. Choosing the Salam Sereh restaurant as a venue was really suitable for the party.

To be able to hold such a big party, we decided chose bigger place to accommodate the guests. The place should also have good catering service with a reasonable price. Therefore we choose the Salam Sereh Sundanese restaurant. It is a modern Sundanese restaurant that provides Sundanese meals. The restaurant is located at Jalan Supratman no 25, just 5 minute ride from Gedung Sate, Bandung. The official website is : here.

Sunda is an ethnic group in the western part of Java, and a second biggest ethnic group in Indonesia after the Javanese. We can find many kinds of Sudanese meals in Salam Sereh Restaurant. The way the meals are served is just like other Sundanese modern restaurant where we chose our food from the display and then the waitress will cook the food. Some of the good points of this restaurant are that we can see how our foods are being cooked and then the foods are directly sent to you in hygienic glass dishes. Other restaurants place the cooked food in wooden dishes so sometimes the oils are still clinging in the dishes even after the dishes have been washed.

The foods are varies and the beverages also. Most of them are Sundanese specialties. It has more than hundreds seats with one specially designed meeting room for up to 20 peoples. The interior is a mix of traditional Sundanese architecture and contemporary architecture that gives pleasant environment in enjoying our meal. They are live music, both modern and traditional genre that will entertain us every weekend or holiday.

This restaurant also accommodates youngster who want to have Sundanese meals in a cozy atmosphere. It has special section in which the interior is designed colorfully and equipped with sofas that are very comfortable as a chatting spot. Provided with Wifi, the restaurant surely offers a pleasant places for youngster who want to have meals while chating with friend, surfing the internet, or even working their homework.

The waiter and waitress are very friendly. You can feel the friendly identity of Sudanese culture in this restaurant. They seemed had been carefully trained to deliver their best hospitality to the guest. Honestly, the waitresses are very good looking. I think they are suitable for a job like cover girl or movie actress. Well, it is Bandung after all, the city that are famous for its beautiful girls.

Anyway, it was a great party with great peoples and great venue. Thank you for all committee members who have made my sister’s wedding successful.  I really appreciate you all. Also, thank you for Salam Sereh Restaurant for providing a great venue for the thank you party.

Ps: my camera was running out of battery.. sorry I couldn’t take many pictures ^_^

Goris : Engineer Sipil Yang peduli Lingkungan

Baru-baru ini saya kembali membuka milist alumni teknik sipil ITB setelah sekian lama milis ini dipenuhi dengan isu seputar pemilihan ketua Ikatan Alumni ITB. Ada hal tidak biasa yang dipost oleh salah satu anggota milist, sebuah artikel mengenai Goris Mustaqim yang merebut perhatian para pemerhati lingkungan atas karyanya mengembangkan industri Akar Wangi di Garut. Dia adalah alumni teknik sipil ITB angkatan 2001 dan anggota Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITB.

Tulisan lengkapnya dapat dilihat pada alamat berikut :

http://www.thejakartapost.com/news/2009/12/08/goris-mustaqim-making-business-green.html

Artikel dalam link itu dalam bahasa Inggris. Dalam post ini, saya ingin mencoba menceritakan lagi artikel diatas dengan gaya penulisan saya dalam bahasa Indonesia.

Di usianya yang ke 26 tahun ini, Goris dipilih oleh British Council sebagai salah satu dari British Council International Climate Champions atas idealismenya dalam mensinergikan semangat wirausaha dengan perlindungan lingkungan. Dia bergelut dengan 4000 petani akar wangi di garut untuk memperkenalkan sistem pemanfaatan akar wangi yang lebih ramah lingkungan.

Image origin : The Jakarta Post

Tanaman akar wangi memiliki nilai ekonomis dari minyak nya yang  digunakan sebagai bahan pembuat parfum dan kosmetik. Di dunia, hanya ada 3 tempat utama dimana tanaman akar wangi bisa tumbuh yaitu Haiti, Bourbon, dan Garut. Fungsi ekonomis dan kelangkaannya membuat akar wangi sebagai aset negara Indonesia yang patut dipertahankan kelangsungannya.

Permasalahan pada pemanfaatan tanaman Akar Wangi muncul ketika banyak petani Akar Wangi terpaksa gulung tikar akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa tahun lalu. Sebelum krisis bahan bakar, 70 dari 200 ton Akar Wangi diproduksi di Indonesia. Pada tahun 2005, setelah krisis kenaikan harga BBM, produksi tanaman akar wangi Indonesia hanya tinggal 20 ton. Biaya BBM menyedot 50 % dari biaya produksi minyak Akar Wangi akibatnya peningkatan harga BBM berdampak besar pada biaya produksi minyak Akar Wangi.

original image from : https://i0.wp.com/wb9.itrademarket.com/pdimage/41/598541_vetiverrootdw.jpg

Karya besar Goris adalah memberikan alternatif energi panas bumi sebagai pengganti BBM dalam produksi minyak Akar Wangi. Garut memang memiliki sumber daya alam energi panas bumi yang melimpah dan mudah diakses yaitu Kawah Kamojang dimana Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Kamojang.  Melalui riset di bidang ekonomi, lingkungan dan sosial, Goris menemukan bahwa penggunaan energi panas bumi bermanfaat sangat besar bagi faktor ekonomi dan lingkungan dalam produksi minyak akar wangi.

Goris bahkan telah sukses dalam melobi pemerintah daerah garut dalam memasukan pemindahhan basis penanaman akar wangi ke daerah kawah kamojang dalam anggaran daerahnya untuk tahun 2010. Pemindahan ini tentu akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan panas bumi dalam produksi minyak akar wangi. Rencana ini tinggal menunggu persetujuan dari pertamina selaku pemilik Pembangkit Kamojang yang dekat dengan lokasi relokasi.

British Council menganggap Goris Mustaqim sebagai pemimpin masa depan yang ideal karena kesediaannya untuk kembali ke daerah asalnya dan mengembangkannya daripada memulai kariernya di kota-kota besar seperti Jakarta.  Bisa membukakan mata pemuda-pemuda Garut akan besarnya potensi yang Garut miliki.

Atas pencapaian-pencapaiannya, goris dikirim British Council ke Konfrensi Perubahan iklim PBB di Copenhagen, Denmark sebagai wakil pemuda Indonesia.

Salah satu quote yang sangat saya kagumi dari Goris adalah ketika dia ditanya mengenai kontroversi seputar kebenaran isu perubahan iklim sedang terjadi. Dia menjawab :

“That’s fine. But the thing is, if we save energy, this planet will be a much better place. That’s real, and cannot be argued with,”

Semoga akan semakin banyak lagi Goris-goris lain bermunculan. Sosok yang berani dan cerdik dalam berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Dalam bidang lingkungan, ilmu, militer, apapun itu, selalu ada jalan untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang Jaya. Terimakasih Kang Goris, senang bisa mengenal anda walau hanya sesaat.

Original image are from :

Goris, from  The Jakarta Post

Akar Wangi,  from http://wb9.itrademarket.com/pdimage/41/598541_vetiverrootdw.jpg

Presentasi di JSCE Annual Meeting 2009

Pada konfrensi SIBE 2009, saya sebagai anggota seksi dokumentasi memiliki kesempatan untuk masuk ke ruang presentasi dan melihat presentasi karya ilmiah para peserta konfrensi. Kegiatan konfrensi ilmiah bertujuan untuk berbagi ilmu di bidangnya masing-masing melalui penerbitan hasil karya ilmiah (berupa paper) kedalam proceeding dan disertai sesi presentasi dan diskusi.

Pada konfrensi SIBE ini, paper-paper peserta diterbitkan kedalam buku Proceeding of The First International Conference on Sustainable Infrastructure and Built Environment. Selanjutnya, peserta konfrensi juga melalukan presentasi selama 15 menit disertai sesi diskusi 5 menit pada sesi nya masing-masing. Pembagian sesi presentasi dilakukan agar bidang-bidang keilmuan yang dibahas berkaitan dan sesuai dengan pakar-pakar yang hadir di sesi tersebut.

Setelah melihat sesi presentasi di konferensi SIBE itu, saya tergugah untuk berbagi pengalaman saat saya melakukan presentasi di Japan Society of Civil Engineer (JSCE) Annual Meeting 2009. Acara tersebut serupa dengan konfrensi SIBE dengan penyelenggaranya adalah JSCE yang bisa dibilang sama dengan ASCE nya Jepang (ASCE = American Society of Civil Engineer).

Acara JSCE annual meeting 2009 ini diadakan pada 2-4 September 2009 dengan mengundang lebih dari 1000 papers dan dengan peserta yang berasal dari kalangan akademis dan professional. Hal yang berbeda dari JSCE annual meeting ini adalah jumlah halaman untuk tiap paper yang didaftarkan peserta adalah maksimal sebanyak 2 halaman dengan waktu presentasi sebanyak 7 menit presentasi dan 3 menit diskusi. Memang relative singkat jika dibandingkan dengan SIBE namun bukan berarti paper yang didaftarkan bisa dibuat dengan seasalnya.

 

Saat itu saya mendapat sesi presentasi di hari kedua (3 September). Saya tergabung dalam sesi Fracture Mechanic karena paper saya membahas mengenai perilaku retak dari beton berserat (Fiber Reinforced Concrete). Sekitar sebulan sebelum acara berlangsung, saya sudah dikirimi buku panduan konfrensi yang berisi daftar peserta, jadwal presentasi, akses menuju lokasi konfrensi, dan informasi-informasi penting seputar konfrensi lainnya. Saat itu juga saya dikirimi CD berisi paper-paper yang dipresentasikan dan Name tag pesert konfrensi.

 

Saya tidak dapat menahan rasa gugup saya dikarenakan konfrensi itu akan menjadi kali pertama saya melakukan presentasi akademis terutama dalam bahasa Inggris di depan pakar-pakar di bidang saya. Kegugupan saya sedikit terobati dengan latihan presentasi yang sudah puluhan kali saya lakukan dan juga dengan slide yang saya buat dengan indah atas bantuan komentar dari professor, aistennya, serta teman-teman lab saya.

Ketika tiba saatnya sesi presentasi saya, tiap presenter di sesi tersebut berkumpul untuk mendengar briefing dari “chairman of the session” atau moderator dari sesi kita. Pada saat itulah moderator menjelaskan aturan-aturan presentasi seperti waktu presentasi dan diskusi, bel penunjuk waktu, dan peluang untuk mendapatkan award sebagai “Best Presenter of The Session”.

 

Saat itu saya mendapat giliran pertama untuk presentasi. Ketika nama saya dipanggil oleh moderator, saya datang menuju mimbar, mengenakan microfon mini dan membuka file presentasi saya. Kemudian, seketika pula saya memulai presentasi saya. Meskipun sebagian peserta adalah orang Jepang dan bahasa umum presentasi yang digunakan adalah bahasa Jepang, peserta non-Jepang dapat menggunakan bahasa Inggris dalam mempreentasikan paper nya.

 

Tanpa terasa, saya sangat menikmati presentasi saat itu. Hanya beberapa detik semenjak presentasi dimulai, rasa gugup yang sebelumnya saya rasakan seolah-olah hilang tak berbekas. Saya seolah-olah mengikuti ritme bicara saya dan melanjutkan ucapan-ucapan presentasi secara terstruktur.

 

Tak terasa pula tujuh menit jatah presentasi saya telah berakhir dan tibalah saat sesi diskusi, sesi yang paling saya takutkan. Saya takut ada pertanyaan-pertanyaan sulit yang tidak bisa saya jawab. Namun, saya sangat bersyukur, seorang asiten professor berkebangsaan Jepang memberikan saya pertanyaan yang masih bisa saya jawab dengan jawaban yang memuaskan. Dan tanpa terasa pula, satu pertanyaan dan satu jawaban sudah menghabiskan slot diskusi yang hanya 3 menit itu.

 

Perasaan bahagia dan lega langsung timbul ketika menyadari sesi presentasi saya selesai. Dengan selesainya presentasi itu, lengkap sudahlah syarat-syarat yang dibutuhkan untuk melegalkan paper yang saya daftarkan. Paper saya terdaftar telah kedalam proceeding konfrensi tersebut dan saya berhak mendapat kutipan atas paper saya seperti dibawah ini :

Makmur, A. S., Watanabe, K. and Niwa, J. : Fracture Properties of High Strength Concrete Reinforced With Various Fibers. Proceedings of the Japan Society of Civil Engineers Annual Meeting, 2009.

 

Setelah sesi presentasi berakhir, saya dan teman-teman saya masih berada di lokasi konfrensi hingga sore hari untuk melihat presentasi-presentasi sesi lainnya. Pada sore hari, kami kembali ke penginapan untuk bersiap-siap berwisata menikmati malam di Fukuoka. Salah satu malam terindah yang pernah saya alami selama ini.

 

Special thank for Ton from NIWA Lab for his amazing photographs of my JSCE presentation ^.^