Menerawang Kondisi Sektor Energi Dunia Tahun 2035

 

Pernahkah kita membayangkan seperti apa kondisi supply dan demand energi dunia dua puluh tahun yang akan datang? Berapakah persentase suplai minyak dibanding suplai sumber energi lainnya seperti batu bara dan nuklir? Negara manakah yang akan memiliki pertumbuhan kebutuhan energi terbesar? Apakah bisnis di bidang energi akan tetap menjanjikan terutama ditengah kelesuan harga minyak saat ini?

Mungkin bagi sebagian besar orang, pertanyaan-pertanyaan diatas bukanlah pertanyaan yang harus serius dijawab. Akan tetapi, jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas sangatlah penting bagi mereka yang bergerak di bidang kebijakan yang mempengaruhi orang banyak. Energi adalah tenaga penggerak yang membuat manusia dapat beraktivitas melakukan hal-hal yang harus mereka lakukan. Tanpa energi, tidak akan ada pergerakan manusia, tidak akan ada aktivitas manusia dan akhirnya mungkin tidak akan ada manusia.

Dalam konteks dunia modern, energi digunakan untuk menggerakan alat-alat yang mendukung aktivitas manusia. Energi ini ini dapat berasal dari bahan bakar fosil, seperti minyak dan gas, ataupun energi non fosil seperti tenaga angin, tenaga matahari atau tenaga nuklir. Dunia modern sangat tergantung pada ketersediaan energi untuk menunjang kelangsungan hidup manusia di dalamnya.

 bp Energy Outlook 2035

Pengetahuan tentang kondisi energi dunia sangatlah penting untuk menjamin keberlanjutan sumber energi suatu badan yang mengayomi orang banyak seperti sebuah negara atau sebuah perusahaan besar di bidang energi seperti BP. Oleh karena itu BP memiliki tim khusus yang bertugas mengamati dan memprediksi perkembangan sektor energi di masa depan. Tim ini terdiri dari pakar-pakar yang dipimpin oleh seorang ekonom bernama Spencer Dale yang pernah menjadi Direktur Eksekutif untuk Financial Stability di Bank of England. Tugas utama tim ini adalah memberikan masukan ekonomi dan pola perkembangan sektor energi dunia kepada para pembuat keputusan di BP. Tim ini memiliki tugas yang sangat besar mengingat pengaruhnya terhadap kebijakan perusahaan dengan perputaran investasi dan sumber daya yang sangat besar – hingga ratusan triliun rupiah per tahun.

Metode Studi

Salah satu buah pemikiran tim ekonom bp itu dituangkan kedalam laporan BP Energy Outlook 2035. Laporan ini merupakan hasil studi yang berusaha memprediksi skenario paling mungkin dalam perkembangan supply dan demand sektor migas 20 tahun kedepan. Dalam studi ini digunakan istilah Base Case atau asumsi dasar yang merupakan skenario paling mungkin dan mendapat porsi pembahasan terbesar. Skenario Base Case kemudian didukung dengan 3 skenario lainnya yang berusaha memprediksi kondisi sektor energi jika : Skenario 1, Laju pertumbuhan GDP yang lebih lambat dari asumsi studi, Skenario 2, penurunan emisi karbon dibutuhkan menjadi lebih cepat dan Skenario 3, Shale Oil dan Shale Gas menyimpan potensi yang lebih besar sehingga mengakibatkan porsi pertumbuhan yang lebih tinggi.

Studi Energy Outlook 2035 disajikan dengan informatif dan menurut saya akan mudah dicerna oleh orang-orang yang bergerak di sektor energi. Saya sendiri cukup salut dengan bp yang mau mengalokasikan sumberdayanya untuk berbagi hasil analisis ini. BP bahkan menyediakan data-data statistik dan pembahasan studi dengan cara yang informatif dan enak untuk dilihat. Cuplikan video dibawah memberikan poin inti dari hasil study BP Energy Outlook.

Dalam artikel kali ini saya akan mencoba menceritakan rangkuman hasil studi dalam bahasa Indonesia. Untuk informasi lengkapnya silahkan mengunjungi situs bp Energy Outlook 2035 pada halaman dibawah ini.

http://www.bp.com/en/global/corporate/energy-economics/energy-outlook-2035.html

Poin-poin utama pandangan energi 2035 pada studi bp Energy Outlook 2035 :

  • Studi Energy Outlook menggunakan asumsi Skenario Base Case yang merupakan skenario yang paling mungkin terjadi pada perkembangan sektor energi dunia. Skenario ini disusun dengan mempertimbangkan kemungkinan perkembangan di bidang regulasi & Kebijakan-kebijakan, teknologi dan ekonomi. Skenario ini didukung 3 skenario alternativ untuk memperhitungkan faktor ketidakpastian.
  • Pada skenario Base Case, GDP dunia diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2035. Akan tetapi laju pertumbuhan kebutuhan energy hanya sepertiga (+- 34%) dibanding laju pertumbuhan pada periode tahun sebelumnya. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan dikarenakan penggunaan energi yang semakin efisien.
GDP
Pertumbuhan GDP – bp Energy Outlook 2035
  • Bahan bakar fosil akan tetap menjadi urutan pertama penyokong suplai energi dunia dimana proporsinya 80% terhadap total suplai energi dunia pada tahun 2035. Bahan bakar fosil juga akan memiliki penambahan penggunaan terbesar dibanding sumber energy lainnya yaitu sebesar 60% pada tahun 2035.
Fuel Mix
Proporsi Pasokan Sumber Energi 2035 – bp Energy Outlook 2035
  • Bahan bakar gas akan menjadi sumber energi berbasis fosil yang tumbuh paling cepat dibandingkan sumber-sumber energi lainnya (1.8% p.a. dibandingkan minyak 0.9% p.a. dan batu bara 0.5% p.a.). Hal ini karena semakin melimpahnya ketersediaan gas melalui Shale Gas dan LNG dan juga karena regulasi lingkungan yang semakin mendukung energi rendah emisi.
  • Kondisi pasar di bidang minyak akan berubah menjadi lebih seimbang karena harga minyak saat ini yang murah akan meningkatkan permintaan minyak tapi sebaliknya akan mengurangi pasokan minyak.
  • Kebutuhan minyak akan meningkat sekitar 20 juta barrel/hari. Pertumbuhan akan terpusat di Asia untuk transportasi dan Industri. Pertumbuhan Shale Oil akan terus berlanjut tetapi dengan laju yang melambat.
  • Perubahan ekonomi Tiongkok akan menyebabkan pertumbuhan kebutuhan energy Tiongkok menurun secara drastis. Penurunan ini akan terjadi terutama pada energi dari batu bara yang pertumbuhannya pada 2035 diperkirakan hanya seperlima dari pertumbuhan selama 20 tahun belakangan (0.5% p.a dibandingkan 2.9 % p.a).
Coal
Pertumbuhan Sumber Energi Batu Bara – bp Energy Outlook 2035
  • Energi terbaharukan akan tumbuh dengan pesat dan diperkirakan tumbuh hampir empat kali lipat sampai tahun 2035 yaitu 285%. Khusus di bidang pembangkit listrik, energi terbaharukan akan menjadi energi dengan laju pertumbuhan terbesar ketiga dibanding sumber energi lainnya.
Renewable
Pertumbuhan Energi Terbaharukan – bp Energy Outlook
  • Laju pertumbuhan emisi karbon akan berkurang menjadi setengahnya dibanding periode 20 tahun yang lalu (0.9% p.a. dibandingkan 2.1% p.a. pada periode 20 tahun sebelumnya). Hal ini disebabkan oleh penggunaan energi yang semakin efisien dan juga perubahan distribusi penggunaan bahan bakar menjadi yang lebih rendah emisi. Akan tetapi, emisi karbon akan terus meningkat dan diperlukan langkah-langkah selanjutnya untuk mengekang perumbuhan emisi karbon.

Dari rangkuman pembahasan diatas, studi Energy Outlook 2035 bp menyajikan tiga kesimpulan utama yaitu :

  1. Kebutuhan energi global akan terus meningkat – hal ini seiring dengan peningkatan aktivitas manusia yang sejalan dengan peningkatan kondisi ekonomi dunia
  2. Distribusi penggunaan bahan bakar penyedia energi akan berubah secara signifikan – batu bara akan semakin terpuruk, energi terbaharukan akan semakin meningkat tapi minyak & gas akan stabil dan tetap menjadi yang paling dominan.
  3. Laju pertumbuhan emisi karbon dunia akan menurun secara drastis – tetapi tetap tinggi jika tidak ada regulasi yang lebih membatasi pertumbuhannya

 

Pembaca pasti bertanya-tanya apa dasar kesimpulan-kesimpulan diatas? Tentunya bp sudah melakukan studi yang solid dan dilengkapi dengan data-data yang komprehensif. Semuanya bisa didapat dari link BP Energi outlook diatas. Hal yang menarik dari studi ini adalah bp menyediakan data pembanding mengenai prediksi sektor energi dunia yang disediakan oleh beberapa lembaga ternama dunia seperti IEA dan MIT. Perbandingan beberapa parameter utama bisa dilihat pada grafik dibawah.

Comparison
Perbandingan Hasil Studi – bp Energy Outlook 2035

Keterangan : IEA : International Energy Agency, MIT : Massachusetts Institute of Technology, IEEJ : Institute of Energy Economics Japan.

Dilihat dari data diatas, sepertinya prediksi bp cukup senada dengan prediksi dari sumber-sumber lainnya. Memang ada variasi tetapi ini sangatlah lumrah karena studi prediksi selalu memiliki faktor-faktor ketidakpastian yang pengolahannya bisa sangat bergantung kepada masing-masing pelaku studi. Dalam membandingan data dengan lembaga lain, bp menyajikan beberapa keterangan yaitu :

  • Semua lembaga analis memberikan kesimpulan yang sama bahwa pertumbuhan kebutuhan energi akan disokong oleh emerging markets (negara-negara yang industrinya berkembang dengan pesat seperti Tiongkok dan India). Negara-negara maju seperti yang tergabung kedalam OECD malah menunjukan perlambatan atauh bahkan penurunan laju prtumbuhan kebutuhan energi.
  • Lembaga analis memberikan kesimpulan yang sama bahwa sumber energi gas akan memiliki pertumbuhan yang pesat. Selain itu, minyak akan tetap tumbuh dengan stabil.
  • Perbedaan prediksi diakibatkan perbedaan beberapa asumsi kunci seperti : ketersediaan dan harga suplai migas, laju pengaplikasian teknologi baru, laju pertumbuhan Tiongkok, dan dampak kebijakan seputar energi di masa datang.

 

Tanggapan penulis

Saya semakin takjub dengan luasnya cakupan diskusi seputar energi seiring saya membaca laporan bp Energy Outlook 2035. Sektor energi akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi negara-negara yang berkembang pesat seperti Tiongkok. Kita sudah bisa melihat bagaimana kelesuan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi global. Kita juga bisa melihat bagaimana regulasi perubahan iklim bisa mendorong tumbuhnya energi terbaharukan seperti Tenaga Angin dan efisiensi kendaraan bermotor di negara-negara maju. Dan kita juga sangat merasakan dampak berlimpahnya suplai minyak akibat shale oil mengakibatkan turunnya harga bahan bakar minya. Energi memang sangat penting bagi manusia yang bahkan bisa sampai mempengaruhi tindak laku negara dalam level kebijakan internasionalnya.

Lalu bagaimana kita melihat laporan ini dalam kaitannya dengan Indonesia? Setidaknya ada beberapa poin yang ingin saya bagi.

  1. Indonesia diprediksikan masih belum bisa menaklukan dominasi Tiongkok dan India dalam skala ekonomi di kawasan Asia. Dalam laporan lebih banyak dibahas mengenai laju pertumbuhan kebutuhan energi Tiongkok dan India sebagai pendorong utama di kawasan Asia. Hal ini memang cukup jelas dengan melihat iklim sektor industri kita yang belum mumpuni untuk lompatan skala besar.
  2. Indonesia sebagai salah satu produsen batu bara yang besar harus bersiap dengan kelesuan pasar batu bara yang lebih parah lagi. Laporan studi memprediksi kalau batu bara akan terus terpuruk karena regulasi dan kesadaran mengenai emisi karbon yang meningkat dan ketatnya persaingan dengan sumber energi minyak dan gas dan energi terbaharukan. Akan tetapi batu bara masih bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi nasional jika Indonesia masih bisa mentoleransi besaran emisi karbon yang dihasilkan dari sumber energi batu bara.
  3. Pasar gas akan terus tumbuh dan Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapat porsi penyedia gas dunia. Laporan studi menjelaskan bahwa sumber energi gas akan tumbuh paling pesat dibanding sumber energi lainnya. Indonesia masih memiliki potensi cadangan gas yang menarik untuk diolah.
  4. Pasar minyak akan kembali seimbang – kita akan melihat kenaikan harga minyak ke level yang lebih rasional yang membuat eksplorasi dan produksi minyak kembali jalan dengan laju yang wajar. Kita harus bersiap menghadapi kenaikan harga BBM yang kemungkinan besar meningkatkan inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Demikianlah sharing saya tentang laporan studi bp Energy Outlook 2035. Saya harap artikel ini bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Silahkan manfaatkan artikel ini sebaik yang pembaca perlukan tapi mohon dicantumkan referensi terhadap blog ini agar bisa dipertanggung jawabkan seandainya ada kekeliruan di kemudian hari atas data/pendapat yang ditulis.

Referensi : bp Energy Outlook 2035 (2016 edition)

 

 

Catatan : Informasi/pendapat yang ada di blog ini dan tidak terdapat pada situs BP Energy Outlook 2035 adalah merupakan pendapat penulis dan mungkin tidak merepresentasikan pendapat/informasi dari bp.

Advertisements

Mari Mengenal FPSO

*Oleh Achmad Syaiful Makmur

Jika pada postingan sebelumnya saya berdikusi tentang berbagai jenis fasilitas migas lepas pantai, pada postingan kali ini saya ingin mengeksplorasi lebih jauh tentang fasilitas migas lepas pantai berbasis kapal laut (Ship based oil and gas facility) dan khususnya mengenai FPSO.
Fasilitas migas lepas pantai bisa dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa Fixed Platform seperti yang umum kita lihat, ada juga yang berupa Floating System (fasilitas terapung) yang belum begitu umum di Indonesia jika dibandingkan dengan fixed. Floating system sendiri dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis seperti, Semi Submersible, Tension Leg Platform, Spar, Ship and Barge based.

FPSO Belanak
FPSO belanak – https://www.pinterest.com/pin/486951778431521465/

Faktor Cost and Risk dalam pemilihan jenis fasilitas

Pemilihan floating system akan tergantung pada banyak faktor yang nanti akan saya coba bahas. Yang jelas, faktor utama dalam setiap pembangunan fasilitas migas akan selalu antara Cost dan Risk. Pada umumnya seorang operator migas akan memilih fasilitas yang memberikan resiko paling kecil dengan cost yang paling kecil pula.

Pemanfaatan floating system sendiri mulai terwujud seiring habisnya cadangan migas di daerah dimana fasilitas konvensional seperti fixed platform biasa beroperasi. Untuk mencari cadangan baru, para operator migas akhirnya terpaksa menyentuh area yang sebelumnya belum dieksplorasi yaitu wilayah perairan. Karena kedalaman, faktor teknis dan non faktor teknis lainnya, akhirnya disimpulkan bahwa penggunaan struktur konvensional akan menjadi terlalu mahal dan beresiko sehingga didapat bahwa struktur floating system lah yang paling tepat dari segi biaya dan resiko.

Mengapa bisa seperti itu? Dari sudut biaya bisa dimengerti karena fixed platform sangat bergantung dari struktur jacket. Semakin dalam sebuah jacket, semakin banyak material baja yang dibutuhkan. Selain itu, semakin dalam sebuah jacket, semakin besar sistem pengaku yang dibutuhkan agar periode natural struktur tetap berada dibawah periode gelombang (untuk mencegah terjadinya resonansi). Selain itu, ada banyak faktor lainnya seperti facility maintenance, kemampuan fabrikasi, dan kualitas material baja akan cenderung terus meningkat sebanding dengan kedalaman jacket sehingga akhirnya opsi pembangunan floating system menjadi lebih murah.

Baca juga : Metode Alternatif Belajar IELTS

Ship Based Floating System

Ship based floating system merujuk pada fasilitas migas yang berbentuk seperti perahu. Wikipedia sendiri mengklasifikasikannya menjadi beberapa jenis yaitu [1] :

  1. FSO, Floating Storage and Offloading – Fasilitas hanya menyimpan dan mentransfer kargo minyak (biasanya minyak mentah yang sudah diolah/belum diolah)
  2. FPSO, Floating Production, Storage and Offloading – Fasilitas yang mengolah fluida sumber, menyimpan dan mentransfer minyak mentah yang sudah diolah
  3. FDPSO, Floating, Drilling and Production, Storage and Offloading – Fasilitas yang melakukan pengeboran secara berkelanjutan, mengolah fluida sumber hasil pengeboran, menyimpan dan mentransfernya (biasanya berupa minyak mentah yang sudah diolah)
  4. FLNG, Floating Liquified Natural Gas – Fasilitas yang mengolah gas alam menjadi LNG. Biasanya prinsip kerjanya seperti FPSO dimana fluida sumber diolah menjadi LNG, disimpan pada Storage dalam FLNG untuk kemudian ditransfer ke kapal kargo.
  5. FSRU, Floating Storage Regasification Unit – Fasilitas yang mengolah LNG menjadi gas konsumsi

Postingan ini akan membahas lebih detail mengenai FPSO. Selain tingkat kemafiliaran saya terhadap FPSO, saya rasa kompleksitas FPSO juga menarik digunakan sebagai acuan dalam mendesain floating system dikarenakan kelengkapan fasilitas yang ada di system ini.

FPSO di Indonesia

FPSO merupakan fasilitas produksi migas terapung terintegrasi yang memberikan solusi menyeluruh dalam menghasilkan migas. Mengapa menyeluruh? Karena hampir semua proses produksi migas dari mulai reservoir sampai transfer ke kapal kargo terjadi disini. Karena itu pula desain FPSO bisa menjadi sangat kompleks dibandingkan dengan desain fixed platform.

FPSO pertamakali di dunia adalah Shell Castellon yang beroperasi mulai tahun 1977 di laut mediterania pada kedalaman 117 meter. Saat ini ada lebih dari 270 FPSO sedang dan telah beroperasi di dunia (Wikipedia). Pada 2016, Shell Turritella FPSO akan menjadi FPSO system paling dalam di dunia dengan kedalaman 2,896 meter (9,500 feet) [2]. Jika kita lihat juga  proyek FLNG Shell Prelude, sepertinya Shell adalah pioneer di bidang FPSO.

Di Indonesia sendiri jumlah FPSO yang sedang beroperasi hanya sebanyak 7 buah [3]. Dibawah Brazil (32buah), UK (14 buah) dan Angola(13 buah) (offshore-mag). Hal ini merupakan ironi karena selain pulau-pulau yang menyebar, luas lautan Indonesia yang lebih dominan dibandingkan dengan negara2 pemilik FPSO terbanyak lainnya.  Selain itu, berdasarkan data dari sumber yang sama, FPSO Indonesia hanya bermain pada kedalaman sekitar 100 meter. Masih jauh dibawah kedalaman optimal rata-rata FPSO sebesar 1000 meter ke atas [4].

Jumlah FPSO memang bukan indikator utama kemajuan industri migas Indonesia. Akan tetapi, jika dilihat dari perbandingan jumlah FPSO dibandingkan fasilitas fixed platform dan luasan lautan Indonesia, sepertinya FPSO memiliki potensi penggunaan yang lebih banyak pada masa depan migas Indonesia.

Data FPSO yang sedang beroperasi di Indonesia bisa dilihat pada table dibawah. Sebaran FPSO yang sedang beroperasi di seluruh dunia bisa didapat pada gambar dibawah. Data-data dibawah berasal dari publikasi offshore-mag.com [4]

achmadsya.wordpress.com
Daftar FPSO di Indonesia 2014
Worldwide FPSO Distribution - Offshore Mag
Distribusi FPSO yang Sedang Beroperasi di Dunia – Offshore-mag.com

Laporan tahunan SKK Migas tahun 2014 menyatakan ada 7 proyek utama yang berskala besar dan diawasi khusus dimana 4 diantaranya kemungkinan adalah fasilitas floating system [5]. Dari empat proyek floating system, ada 2 yang kemungkinan menggunakan FPSO (atau FLNG) yaitu Bukit Tua Petronas Carigali Ketapang II dan Abadi Inpex Masela. Kedua proyek lainnya kemungkinan berupa Floating Production Unit yaitu Proyek Indonesia Deepwater Developemt Chevron dan Proyek Jangkrik Eni Muara Bakau. Dengan bertambahnya jumlah FPSO, posisi Indonesia sebagai pengguna teknologi FPSO bisa semakin terangkat dan sebanding dengan beberapa Negara lainnya.

Komponen Produksi FPSO

Untuk melangsungkan fungsinya, unit FPSO tidak berdiri sendiri melainkan didukung oleh beberapa komponen produksi yaitu :

  • Sumur satelit & flexible risers/flow line – FPSO biasanya menerima sumber fluida migas dari beberapa sumur satelit dari lokasi yang berbeda. Ini berbeda dibanding fixed platform dimana sumur produksi terletak tepat dibawah platform. Dengan konsep seperti ini, FPSO bisa mendapatkan sumber dari lokasi sumur yang berjauhan sehingga karakteristik sumur dan jumlah recovered oil bisa lebih efisien. Karena bentuknya yang terapung, pergerakaan FPSO saat kondisi terpasang (Moored) akan lebih besar dibanding fixed platform. Oleh karena itu FPSO juga dilengkapi dengan flexible flow line/riser yang bisa mengkompensasi pergerakan FPSO terhadap sumur2 satelit.
  • FPSO – Komponen penerima dan pengolahan fluida migas yang kemudian disimpan di dalam kapal untuk kemudian disalurkan ke kapal transporter. Pada prinsipnya FPSO tidak mengolah fluid sumber menjadi bahan bakar konsumsi seperti bensin atau solar. FPSO mengolah fluida sumber menjadi minyak mentah yang layak simpan dan layak ditransportasikan. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa fasilitas pengolahan fluida sumber menjadi minyak mentah tersebut. Komponen utama dalam pengolahan fluida sumber minyak pada FPSO biasanya terdiri dari Receiving/Manifolds, Separation, Oil Treating, Gas Treating/Compression, Water Treating, Oil Transfer dan Vent/Flare tower . Diagram penjelas bisa dilihat pada gambar dibawah[4].
    FPSO Typical Process Layout
    Tipikal Layout Process FPSO

    FPSO akan terus mengolah fluida sumber sebagaimana fasilitas migas di darat. Di lain pihak, kapal transporter biasanya datang dalam jangka waktu tertentu agar bisa menggunakan kapal berukuran besar demi efisiensi pengiriman. Oleh karena itu FPSO dilengkapi dengan fasilitas Storage untuk menyimpan dan mengumpulkan FPSO agar dapat diangkut menggunakan kapal transporter dengan kapasitas tertentu.

  • Gas export line / reinjection – FPSO tidak didesain untuk menyimpan gas alam oleh karena itu gas yang dihasilkan (jika ada) di transfer melalui pipa ke fasilitas penerima diluar system FPSO. Beberapa FPSO yang tidak menyediakan pipa transfer gas melakukan reinjeksi gas kembali kedalam reservoir.
  • Cargo Offloading system – Sistem yang menyalurkan kargo minyak dari FPSO ke kapal transporter. Sistem ini juga sangat penting bagi operasi FPSO dan desainnya pun mempertimbangkan berbagai hal seperti faktor metocean, jenis kargo (minyak / LNG), dan juga faktor ketersediaan kapal di pasaran. System bisa berupa Tandem Offloading, Single Point Mooring, atau Side to Side. Paper dari Oise Ihonde memberikan informasi yang cukup lengkap mengenai jenis-jenis offloading system dan karakteristiknya. [6]
  • Sumber fluid lainnya – Selain menerima fluida sumber dari sumur-sumur satelit, FPSO juga bisa menerima sumber fluida dari wellhead platform lainnya (bisa dari fixed platform atau dari floating system lain)

Gambar dari wikipedia dibawah menunjukan gambaran tipikal komponen produksi system FPSO.

FPSO System - wikipedia
FPSO Production System – wikipedia

 

Bersambung… Komponen Struktur FPSO dan Tantangan Desain…

Baca juga : Metode Alternatif Belajar IELTS

Referensi :

1. Floating production storage and offloading. https://en.wikipedia.org/wiki/Floating_production_storage_and_offloading

2. http://www.offshoreenergytoday.com/worlds-deepest-fpso-en-route-to-gulf-of-mexico-gallery/

3. 2014 Worldwide Survey of Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) unit. Offshore-Mag.com

4. Fundamental of Offshore System Design and Construction. PetroSkills Training.

5. Laporan Tahunan SKK Migas tahun 2014. http://www.skkmigas.go.id/publikasi/laporan-tahunan

6. Howell, G. Boyd. 2006. Spread Moored or Turret Moored FPSO’s for Deepwater Field Developments. Offshore West Africa 2006.