Mari Mengenal FPSO

*Oleh Achmad Syaiful Makmur

Jika pada postingan sebelumnya saya berdikusi tentang berbagai jenis fasilitas migas lepas pantai, pada postingan kali ini saya ingin mengeksplorasi lebih jauh tentang fasilitas migas lepas pantai berbasis kapal laut (Ship based oil and gas facility) dan khususnya mengenai FPSO.
Fasilitas migas lepas pantai bisa dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa Fixed Platform seperti yang umum kita lihat, ada juga yang berupa Floating System (fasilitas terapung) yang belum begitu umum di Indonesia jika dibandingkan dengan fixed. Floating system sendiri dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis seperti, Semi Submersible, Tension Leg Platform, Spar, Ship and Barge based.

FPSO Belanak
FPSO belanak – https://www.pinterest.com/pin/486951778431521465/

Faktor Cost and Risk dalam pemilihan jenis fasilitas

Pemilihan floating system akan tergantung pada banyak faktor yang nanti akan saya coba bahas. Yang jelas, faktor utama dalam setiap pembangunan fasilitas migas akan selalu antara Cost dan Risk. Pada umumnya seorang operator migas akan memilih fasilitas yang memberikan resiko paling kecil dengan cost yang paling kecil pula.

Pemanfaatan floating system sendiri mulai terwujud seiring habisnya cadangan migas di daerah dimana fasilitas konvensional seperti fixed platform biasa beroperasi. Untuk mencari cadangan baru, para operator migas akhirnya terpaksa menyentuh area yang sebelumnya belum dieksplorasi yaitu wilayah perairan. Karena kedalaman, faktor teknis dan non faktor teknis lainnya, akhirnya disimpulkan bahwa penggunaan struktur konvensional akan menjadi terlalu mahal dan beresiko sehingga didapat bahwa struktur floating system lah yang paling tepat dari segi biaya dan resiko.

Mengapa bisa seperti itu? Dari sudut biaya bisa dimengerti karena fixed platform sangat bergantung dari struktur jacket. Semakin dalam sebuah jacket, semakin banyak material baja yang dibutuhkan. Selain itu, semakin dalam sebuah jacket, semakin besar sistem pengaku yang dibutuhkan agar periode natural struktur tetap berada dibawah periode gelombang (untuk mencegah terjadinya resonansi). Selain itu, ada banyak faktor lainnya seperti facility maintenance, kemampuan fabrikasi, dan kualitas material baja akan cenderung terus meningkat sebanding dengan kedalaman jacket sehingga akhirnya opsi pembangunan floating system menjadi lebih murah.

Baca juga : Metode Alternatif Belajar IELTS

Ship Based Floating System

Ship based floating system merujuk pada fasilitas migas yang berbentuk seperti perahu. Wikipedia sendiri mengklasifikasikannya menjadi beberapa jenis yaitu [1] :

  1. FSO, Floating Storage and Offloading – Fasilitas hanya menyimpan dan mentransfer kargo minyak (biasanya minyak mentah yang sudah diolah/belum diolah)
  2. FPSO, Floating Production, Storage and Offloading – Fasilitas yang mengolah fluida sumber, menyimpan dan mentransfer minyak mentah yang sudah diolah
  3. FDPSO, Floating, Drilling and Production, Storage and Offloading – Fasilitas yang melakukan pengeboran secara berkelanjutan, mengolah fluida sumber hasil pengeboran, menyimpan dan mentransfernya (biasanya berupa minyak mentah yang sudah diolah)
  4. FLNG, Floating Liquified Natural Gas – Fasilitas yang mengolah gas alam menjadi LNG. Biasanya prinsip kerjanya seperti FPSO dimana fluida sumber diolah menjadi LNG, disimpan pada Storage dalam FLNG untuk kemudian ditransfer ke kapal kargo.
  5. FSRU, Floating Storage Regasification Unit – Fasilitas yang mengolah LNG menjadi gas konsumsi

Postingan ini akan membahas lebih detail mengenai FPSO. Selain tingkat kemafiliaran saya terhadap FPSO, saya rasa kompleksitas FPSO juga menarik digunakan sebagai acuan dalam mendesain floating system dikarenakan kelengkapan fasilitas yang ada di system ini.

FPSO di Indonesia

FPSO merupakan fasilitas produksi migas terapung terintegrasi yang memberikan solusi menyeluruh dalam menghasilkan migas. Mengapa menyeluruh? Karena hampir semua proses produksi migas dari mulai reservoir sampai transfer ke kapal kargo terjadi disini. Karena itu pula desain FPSO bisa menjadi sangat kompleks dibandingkan dengan desain fixed platform.

FPSO pertamakali di dunia adalah Shell Castellon yang beroperasi mulai tahun 1977 di laut mediterania pada kedalaman 117 meter. Saat ini ada lebih dari 270 FPSO sedang dan telah beroperasi di dunia (Wikipedia). Pada 2016, Shell Turritella FPSO akan menjadi FPSO system paling dalam di dunia dengan kedalaman 2,896 meter (9,500 feet) [2]. Jika kita lihat juga  proyek FLNG Shell Prelude, sepertinya Shell adalah pioneer di bidang FPSO.

Di Indonesia sendiri jumlah FPSO yang sedang beroperasi hanya sebanyak 7 buah [3]. Dibawah Brazil (32buah), UK (14 buah) dan Angola(13 buah) (offshore-mag). Hal ini merupakan ironi karena selain pulau-pulau yang menyebar, luas lautan Indonesia yang lebih dominan dibandingkan dengan negara2 pemilik FPSO terbanyak lainnya.  Selain itu, berdasarkan data dari sumber yang sama, FPSO Indonesia hanya bermain pada kedalaman sekitar 100 meter. Masih jauh dibawah kedalaman optimal rata-rata FPSO sebesar 1000 meter ke atas [4].

Jumlah FPSO memang bukan indikator utama kemajuan industri migas Indonesia. Akan tetapi, jika dilihat dari perbandingan jumlah FPSO dibandingkan fasilitas fixed platform dan luasan lautan Indonesia, sepertinya FPSO memiliki potensi penggunaan yang lebih banyak pada masa depan migas Indonesia.

Data FPSO yang sedang beroperasi di Indonesia bisa dilihat pada table dibawah. Sebaran FPSO yang sedang beroperasi di seluruh dunia bisa didapat pada gambar dibawah. Data-data dibawah berasal dari publikasi offshore-mag.com [4]

achmadsya.wordpress.com
Daftar FPSO di Indonesia 2014
Worldwide FPSO Distribution - Offshore Mag
Distribusi FPSO yang Sedang Beroperasi di Dunia – Offshore-mag.com

Laporan tahunan SKK Migas tahun 2014 menyatakan ada 7 proyek utama yang berskala besar dan diawasi khusus dimana 4 diantaranya kemungkinan adalah fasilitas floating system [5]. Dari empat proyek floating system, ada 2 yang kemungkinan menggunakan FPSO (atau FLNG) yaitu Bukit Tua Petronas Carigali Ketapang II dan Abadi Inpex Masela. Kedua proyek lainnya kemungkinan berupa Floating Production Unit yaitu Proyek Indonesia Deepwater Developemt Chevron dan Proyek Jangkrik Eni Muara Bakau. Dengan bertambahnya jumlah FPSO, posisi Indonesia sebagai pengguna teknologi FPSO bisa semakin terangkat dan sebanding dengan beberapa Negara lainnya.

Komponen Produksi FPSO

Untuk melangsungkan fungsinya, unit FPSO tidak berdiri sendiri melainkan didukung oleh beberapa komponen produksi yaitu :

  • Sumur satelit & flexible risers/flow line – FPSO biasanya menerima sumber fluida migas dari beberapa sumur satelit dari lokasi yang berbeda. Ini berbeda dibanding fixed platform dimana sumur produksi terletak tepat dibawah platform. Dengan konsep seperti ini, FPSO bisa mendapatkan sumber dari lokasi sumur yang berjauhan sehingga karakteristik sumur dan jumlah recovered oil bisa lebih efisien. Karena bentuknya yang terapung, pergerakaan FPSO saat kondisi terpasang (Moored) akan lebih besar dibanding fixed platform. Oleh karena itu FPSO juga dilengkapi dengan flexible flow line/riser yang bisa mengkompensasi pergerakan FPSO terhadap sumur2 satelit.
  • FPSO – Komponen penerima dan pengolahan fluida migas yang kemudian disimpan di dalam kapal untuk kemudian disalurkan ke kapal transporter. Pada prinsipnya FPSO tidak mengolah fluid sumber menjadi bahan bakar konsumsi seperti bensin atau solar. FPSO mengolah fluida sumber menjadi minyak mentah yang layak simpan dan layak ditransportasikan. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa fasilitas pengolahan fluida sumber menjadi minyak mentah tersebut. Komponen utama dalam pengolahan fluida sumber minyak pada FPSO biasanya terdiri dari Receiving/Manifolds, Separation, Oil Treating, Gas Treating/Compression, Water Treating, Oil Transfer dan Vent/Flare tower . Diagram penjelas bisa dilihat pada gambar dibawah[4].
    FPSO Typical Process Layout
    Tipikal Layout Process FPSO

    FPSO akan terus mengolah fluida sumber sebagaimana fasilitas migas di darat. Di lain pihak, kapal transporter biasanya datang dalam jangka waktu tertentu agar bisa menggunakan kapal berukuran besar demi efisiensi pengiriman. Oleh karena itu FPSO dilengkapi dengan fasilitas Storage untuk menyimpan dan mengumpulkan FPSO agar dapat diangkut menggunakan kapal transporter dengan kapasitas tertentu.

  • Gas export line / reinjection – FPSO tidak didesain untuk menyimpan gas alam oleh karena itu gas yang dihasilkan (jika ada) di transfer melalui pipa ke fasilitas penerima diluar system FPSO. Beberapa FPSO yang tidak menyediakan pipa transfer gas melakukan reinjeksi gas kembali kedalam reservoir.
  • Cargo Offloading system – Sistem yang menyalurkan kargo minyak dari FPSO ke kapal transporter. Sistem ini juga sangat penting bagi operasi FPSO dan desainnya pun mempertimbangkan berbagai hal seperti faktor metocean, jenis kargo (minyak / LNG), dan juga faktor ketersediaan kapal di pasaran. System bisa berupa Tandem Offloading, Single Point Mooring, atau Side to Side. Paper dari Oise Ihonde memberikan informasi yang cukup lengkap mengenai jenis-jenis offloading system dan karakteristiknya. [6]
  • Sumber fluid lainnya – Selain menerima fluida sumber dari sumur-sumur satelit, FPSO juga bisa menerima sumber fluida dari wellhead platform lainnya (bisa dari fixed platform atau dari floating system lain)

Gambar dari wikipedia dibawah menunjukan gambaran tipikal komponen produksi system FPSO.

FPSO System - wikipedia
FPSO Production System – wikipedia

 

Bersambung… Komponen Struktur FPSO dan Tantangan Desain…

Baca juga : Metode Alternatif Belajar IELTS

Referensi :

1. Floating production storage and offloading. https://en.wikipedia.org/wiki/Floating_production_storage_and_offloading

2. http://www.offshoreenergytoday.com/worlds-deepest-fpso-en-route-to-gulf-of-mexico-gallery/

3. 2014 Worldwide Survey of Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) unit. Offshore-Mag.com

4. Fundamental of Offshore System Design and Construction. PetroSkills Training.

5. Laporan Tahunan SKK Migas tahun 2014. http://www.skkmigas.go.id/publikasi/laporan-tahunan

6. Howell, G. Boyd. 2006. Spread Moored or Turret Moored FPSO’s for Deepwater Field Developments. Offshore West Africa 2006.

Advertisements

Fire Awareness Training

As my department moved to the new building, I was appointed as one of fire suppressor in the floor. My responsibility for this role is to ensure the fire alarm has been turned on and to try to extinguish small fire accident so it won’t escalate when fire occurred. In order to bear such a critical responsibility, I had to be a certified fire suppressor who has received fire awareness training.

To obtain the fire suppressor certificate, I did the basic fire awareness training at Jakarta Offshore Training Center (JOTC) atDepok,Indonesia. The JOTC has been certified to give several training for oil and gas safety related operation which one of them is fire awareness training. The training was a combination of classroom session and field practice session which took almost a whole day to complete the training.

The classroom session gave a fundamental understanding on how the fire occurs, how to use basic protecting equipment in extinguishing a fire incident and lastly how to extinguish a fire depending on their type. The classroom session was really interesting because it makes me understand how to do best practices in surviving fire incident and why there are many types of fire extinguisher on market.

After completing the classroom session, come the practice session which was very fun and “hot”. Fun because I could apply my basic fire fighting theory obtained in the class room. Hot because it did involve real fire to be extinguished. The practice session was opened by introduction to fire extinguisher tool which were the CO2 type, Chemical powder type, and foam type. Those three extinguishers had different suitability in extinguishing a fire. In addition, the function of fire blanket and its practical use was also introduced in this session. After the introduction, the class participants were given the chance to try each type of fire extinguisher one by one.

A very important message on using a pressurized type Fire Extinguisher (FirEx) was learned that day. Anytime a pressurized type FirEx is used, the tube should be directed outward direction from user’s body. The simple explanation is that CO2, powder and foam FirEx are based on pressurized vessel which the weakest point is the neck between edge of tube and its connection to nozzle hose. Without proper maintenance, this weakest point can break off from its tube and thrusting its hose connection towards the FirEx user. This is very dangerous and can impose a very fatal injury which would lead to fatality as what was happened somewhere in an oil rig inIndonesia.

After all practice on fire extinguisher completed, the training was closed by practice in using emergency breathing device. Class participants were taught to use the device and did simulation on escaping a building full of smoke (although there was not any smoke used during the simulation, the room environment was kept dark so the sensation was almost the same – told the instructor). A class evaluation test was conducted and finally the day was ended by me receiving the fire awareness training certificate.