Lagi, Jl Pasteur Macet Karena Banjir.

Sekitar pukul 3.00 PM hari ini, saya hendak pulang melalui JL. Dr. Djunjunan (Pasteur) Setelah seharian berada di rumah sakit menemani kakak saya yang terkena demam berdarah. Ketika hendak berbelok dari Sukajadi ke jalan Pasteur, kemacetan jalan sudah terlihat di mulut timur Jl Pasteur. Artinya?? seluruh Jl Pasteur macet.

Sejalan dengan apa yang saya pikirkan, seluruh ruas jalan pasteur arah Tol macet. Kemacetan jalan terjadi sepanjang kurang lebih 2 KM. Kemacetan sepanjang ini sering terjadi pada week end dan hari-hari libur panjang lainnya. Namun, hari ini adalah hari Selasa dan jam tangan menunjukan pukul 3.00 PM ;  Bukanlah waktu yang lazim untuk terjadinya macet di Jl Pasteur.

Saya pun berpikir, “Kali ini, kenapa lagi ya pasteur bisa macet??”  Setelah setengah jam perjalanan di jalan pasteur akhirnya saya tahu mengapa kemacetan seperti ini bisa terjadi. Penyebabnya adalah… Genangan air sedalam 20-30 cm yang menggenangi ruas jalan di depan Mall Bandung Trade Center (BTC).  Genangan air ini sering terjadi ketika hujan deras menerpa daerah sekitar BTC akibat drainase jalan yang buruk.

Hal yang membuat genangan air menjadi semakin parah adalah elevasi jalan sisi BTC yang lebih rendah dibanding sisi jalan di seberangnya. Hal diatas membuat 3/4 lebar jalan tergenang sehingga menghambat arus lalu lintas menujut gerbang Tol Pasteur. Ilustrasi daerah genangan air bisa dilihat pada gambar dibawah.

Kemacetan di ruas jalan ini sangat merugikan bagi kota Bandung. Selama menempuh perjalanan tadi, saya melihat sebuah mobil ambulan yang tidak berhenti menyalakan sirinenya ditengah kemacetan yang ada. Sungguh mengerikan ketika saya membayangkan ada seseorang yang meregang nyawa menanti datangnya bantuan medis sementara bantuan yang ia harapkan terlambat datang karena terjebak macet. Semoga saja itu bukan kenyataan senyata kemacetan yang semakin merajalela di Indonesia.

Advertisements

Kelas Jalan VS Kerusakan Jalan

Post kali ini masih berhubungan dengan kerusakan jalan di Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Sony Sulaksono Wibowo, Ph.D, Kerusakan jalan di Indonesia bisa terjadi karena kualitas jalan yang dibawah standar atau beban yang bekerja pada jalan yang melebihi beban maksimum yang didesain. Dalam hal ini, Jalan didefinisikan sebagai lapisan permukaan yang bersentuhan langsung dengan ban kendaraan. Kerusakan jalan yang terjadi adalah kerusakan menimpa lapisan ini.

Baca juga : Pashmina instan by ellumi_clo

Dalam post ini, saya ingin menyoroti soal kerusakan jalan akibat beban yang melebihi kapasitas jalan tersebut. Artinya, Jika jalan hanya dirancang untuk menahan Muatan Sumbu Terberat (MST) seberat 8 ton, jalan akan rusak ketika ada kendaraan dengan MST diatas 8 ton. Apakah MST?? Silahkan lihat gambar dibawah.

Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat

Muatan sumbu adalah beban kendaraan yang disalurkan pada suatu sumbu penumpu kendaraan yang berupa sumbu roda. Semakin berat suatu kendaraan, beban pada sumbunya pun akan semakin berat. Semakin banyak sumbu roda, beban pada tiap sumbu akan berkurang karena beban keseluruhan kendaraan didistribusikan pada banyak sumbu.

Sekarang, apakah kita sadar akan rambu-rambu lalu lintas dibawah ini? Rambu-rambu dibawah ini merupakan suatu informasi kelas jalan yang membatasi besar beban maksimal yang dapat diterima oleh suatu perkerasan jalan.  Berdasarkan  gambar dibawah, kendaraan dengan beban sumbu lebih besar dari 2 Ton tidak boleh melewati jalan yang berambu dibawah. Adanya kendaraan dengan beban sumbu diatas 2 ton pada jalan tersebut akan mengakibatkan beban diatas beban desain yang pada akhirnya merusakan perkerasan dan mengurangi umur jalan.

Berdasarkan peraturan ini, tidak salah jika ada polisi yang menilang bus/truk yang melalui jalan-jalan sempit seperti kompleks perumahan karena memang jalan tipe tersebut dibawah spesifikasi kelas jalan terrendah yang harus dilalui Bus. Hal tersebut sesuai dengan   Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor  22  Tahun  2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan pasal 125 yang berisi :

“Pengemudi Kendaraan Bermotor angkutan barang wajib menggunakan jaringan jalan sesuai dengan kelas jalan yang ditentukan.”

Selanjutnya, berdasarkan Pp 43/1993 Tentang Prasarana Dan Lalu Lintas Jalan pasal 11, kelas jalan dibedakan menjadi  :

Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat

Note : Tabel Klasifikasi Jalan pada artikel ini masih mengacu pada  Pp 43/1993 yang dirujuk oleh UU no 14 – 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. UU no 14 – 1992 tersebut dicabut dan digantikan oleh UU no 22 – 2009 tentang Lalu Lintas & Angkutan jalan. Dalam UU terbaru, klasifikasi jalan dibagi menjadi jalan Kelas I, Kelas II, kelas III, dan kelas Khusus. Keterangan lengkap mengenai kriteria jalannya bisa dilihat di :

http://www.djpp.depkumham.go.id/database-peraturan/undang-undang.html

Ketentuan-ketentuan diatas berlaku bagi kendaraan angkutan barang (dan juga angkutan perkotaan) yang memiliki MST lebih besar dari rata-rata MST kendaraan pribadi. Dengan adanya aturan-aturan diatas, diharapkan terjadi kesinergisan antara desain kapasitas beban jalan dengan penggunaan jalan aktual. Selanjutnya, berdasarkan aturan-aturan diatas, seharusnya tidak ada kerusakan jalan akibat beban yang melebihi kapasitas jalan.

Namun …..

Seperti yang telah kita ketahui soal penagakan peraturan di Indonesia, pada kenyataannya peraturan-peraturan diatas tidak diimplementasikan dengan benar. Banyak kendaraan yang tidak mematuhi rambu MST jalan. Saya yakin banyak  pengguna jalan yang tidak mengetahui mengenai aturan pembatasan MST ini. Lebih parahnya lagi, ada pengguna jalan yang dengan sengaja mengabaikan aturan ini. Baik dengan ‘curi-curi’ melewati jalan dengan kelas lebih rendah dari spesifikasinya yang tidak dijaga polisi, ataupun dengan mencurangi informasi berat kendaraan pada saat kendaraan melalui jembatan timbang.

Mungkin benar pendapat bahwa peraturan di Indonesia dibuat untuk dilanggar. Namun sampai kapan pendapat ini harus terus bertahan? Bukankah kita sendiri yang rugi ketika jalan-jalan menjadi rusak akibat ulah kita mengabaikan peraturan diatas??? Tidak perlu saya jelaskan betapa besarnya kerugian akibat kerusakan jalan. Saya hanya ingin menekankan besarnya harapan saya bagi perbaikan moral pengguna jalan raya di Indonesia. Semoga tulisan di atas bisa memberi dorongan untuk memperbaiki sistem lalu-lintas di Indonesia.

Baca juga : Pashmina instan by ellumi_clo

Sumber :

  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor  22  Tahun  2009 Tentang  Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan

.

Catatan :

Penulis adalah Sarjana Teknik Sipil dengan pengutamaan bidang Struktur, beberapa informasi dalam artikel ini mengenai bidang transportasi adalah opini penulis yang didapat dari mata kuliah-mata kuliah bidang transportasi yang penulis dapat selama kuliah sarjana, pengalaman pribadi penulis, dan hasil penelusuran pada situs-situs lembaga terkait bidang transportasi.

Jika ada kesalahan dalam artikel ini, kesalahan itu adalah ketidaksengajaan penulis. Mohon kritik dan koreksi atas kesalahan yang ada.

Terimakasih